Translate This

->

Friday, April 6, 2012

Tafsir Surat Maryam (Maria)

 Muqoddimah Surat Maryam        
                                                                   

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kita telah sampai kepada Tafsir AI-Azhar Juzu’ 16. Juzu’ ini mengandung dua surat, yaitu Surat 19, Maryam dan Surat 20 Thaha. Kedua surat ini diturunkan di Makkah, Dan sebagaimana dimaklumi surat-surat yang diturunkan di Makkah penuhlah dengan tuntunan akidah tentang kekuasaan mutlak dan keesaan Allah.

Keistimewaan isi Surat Maryam yang terutama ialah kisah kelahiran dua orang Nabi Allah Yahya dan Isa Almasih yang ajaib menunjukkan Kemaha Kekuasaan Allah, Tuhan Sarwa sekalian alam. Keajaiban kelahiran Yahya ialah karena Tuhan menga bulkan permohonan ayahnya yang menurut beberapa riwayat ahli tafsir bahwa umur Nabi Zakariya ketika dia memohon  agar Allah memberinya anugerah seorang anak laki-laki ialah lebih 70 tahun menurut riwayat dari Qatadah, 95 tahun menurut riwayat Muqatil.

Sedang isteri beliau mandul. Namun bagi Tuhan mudah saja buat menganugerahi dia anak.Keistimewaan yang kedua ialah kelahiran Nabi Isa Almasih yang disebut juga Isa anak Maryam. Dia dtlahirkan 0leh anak perempuan bernama Maryam, yang di dalam ali Imran yang diturunkan di Madinah, dari ayat 42 sampai 51 dijelaskan dahulu kesucian perempuan itu, sehingga tidaklah mungkin bahwa hamil karena hubungan dengan seorang laki-laki di luar nikah.

Riwayat kesucian kelahiran Isa Almasih di dalam Surat Maryam inilah yang dibaca 0leh Ja“Iar bin Abu Thalib di hadapan Najasyi Raja Habsyi yang memeluk Agama Nasrani. Lalu setelah didengarnya baginda pun menyatakan berdiri kepada Nabi Muhammad saw. sampai meninggalnya baginda tetap dalam Islam, sehingga disembahyang ghaibkan 0leh Nabi saw. karena pada malam kematiannya Nabi saw. telah diberitahu oleh malaikat .

Baik dengan kisah Nabi Isa di Surat Maryam ini, atau yang menjadi lebih jelas lagi di dalam Surat ali Imran dilukiskanlah akidah Islam tentang diri Nabi Isa. Sementang Nabi Isa lahir ke dunia tidak menurut yang biasa, yaitu dari hubungan kelamin seorang laki-laki dengan seorang perempuan bukanlah berarti bahwa Isa Almasih itu anak Allah, sebagai kepercayaan Ummat Nasrani, melainkan menunjukkan kekuasaan Mutlak dari Allah, yang dapat berbuat lebih hebat dan dahsyat dari itu, Kalau Isa Almasih akan dikatakan anak Allah kerana beliau lahir di luar dari kebiasaan, maka beribu-ribu lagi makhluk Allah yang lebih dahsyat kejadiannya dari kelahiran Isa.

Niscaya Matahari yang telah berjuta-juta tahun terus menyala menerangi alam, menyebabkan dan memberikan hidup. Namun Matahari tidak disembah, tidak dituhankan. Dan dengan kisah di kedua surat ini ditolak fitnah orang Yahudi yang di antara mereka ada yang memberikan tuduhan amat hina kepada Maryam yang suci, dengan mengatakan bahwa anak itu tidak terang siapa bapanyal Sebab itu dia anak yang tidak sah !

Dan Islam menjelaskan pula akidahnya tentang kesucian Maryam , yang keempat Injil yang resmi ( Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohannes) sendiri tidak berkata semulia itu terhadap diri beliau. Tetapi Islam tidak mengatakan nya “lbu Tuhan", sebagai kepercayaan kaum Kristen Katholik.

Setelah dari kisah Nabi Zakariya dan Yahya serta Nabi Isa Almasih dan Maryam ibunya terdapat juga kisah Nabi-nabi yang lain. Pertentangan faham di antara Nabi Ibrahim dengan ayahnya, Nabi Musa ketika ia dipanggil menghadap ke lereng gunung disertai bantuan saudaranya Harun.

Contoh teladan Nabi Ismail anak sulung Nabi Ibrahim dalam memimpin kaumnya. Kemudian ialah tentang Nabi ldris !

Di dalam Tafsir Al-Azhar agak panjang kita salinkan tafsir-tafsir yang bersifat Israiliyat, yaitu dongeng dongeng yang ganjil pusaka Bani Israil tentang Nabi Idris ini. Dikatakan bahwa beliau bersahabat karib dengan malaikat-maut (Izrail).

Lalu bersama-sama sahabatnya itu dia mengembara ke langit, sampai ke syurga. Tetapi sampai di syurga Nabi Idris tidak mau keluar lagi. Riwayat ini pun kita salin, di antaranya yang bersumber dari Wahab bin Munabbih.

Bukan oleh karena kita menerima dongeng tersebut, melainkan untuk mernberi gambaran kepada pembaca Tafsir Al-Azhar betapa latar belakang yang mempengaruhi cara bertikir ummat Islam di zaman kemunduran.

Sesudah Surat Maryam, mengiringlah tafsir dari Surat Thaha.
Bahagian terbesar dari isi surat ini ialah menggambarkan perjuangan Nabi Musa, yang dimulai dari ayat 9. sebagai bahagian kedua dari perjuangan hidupnya , tetapi permulaan dari kenabian- nya. Dia telah meninggalkan Madyan tempat pengasingan nya selama 10 tahun, dan akan pulang kembali ke Mesir lalu singgah di lereng Thursina, di Wadi yang suci bemama Thuwa. Di sana dia permulaan sekali menerima tugas dari Allah menjadi Rasul, untuk pergi ke Mesir menghadapi kekuasaan Fir‘aun dan melepaskan kaumnya Bani Israil dari tindasan dan perbudakan Fir‘aun.

Di dalam surat ini, dari ayat 7O sampai 76 kita diberi teladan tentang pengaruh iman yang masuk ke dalam hati tukang tukang sihir Fir‘aun. Mereka dikerahkan melawan mu‘jizat yang dipertunjukkan Allah pada hambaNya Nabi Musa. Jika mereka dapat mengatasi mu‘jizat Musa dengan sihir mereka , mereka akan dijadikan 0rang-0rang yang terdekat kepada Seri Baginda. Tetapi setelah tali-tali dan tongkat-tongkat yang mereka lemparkan ke bumi dan terkhayal di mata orang seakan-akan menjalar lalu semuanya ditelan habis oleh tongkat Nabi Musa as yang benar benar menjalar dan benar benar menjelma jadi ular dan kembali jadi tongkat setelah dipungut kembali 0leh Nabi Musa as., maka seluruh tukang sihir tadi sujud ke bumi, yakin dan percaya bahwa penjelmaan tongkat Musa ini bukanlah sihir, bukan mantra dan jampi, melainkan benar-benar kekuasaan Maha Tinggi yang tidak dapat diatasi 0leh tipu daya manusia.

Mereka langsung beriman dengan serentak. Maka sangatlah murka Fir‘aun karena kekalahan itu, dan sangat murka karena mereka dengan tidak merasa malu dan tidak memperdulikan Fir‘aun lagi menyatakan lman kepada Nabi Musa as Fir‘aun mengancam dengan hukuman sangat kejam; tangan dan kaki mereka akan dipotong terlebih dahulu secara bersilang, yakni kalau kaki kanan tangan yang dipotong ialah yang kiri.

Setelah itu mereka akan dinaikkan ke tiang palang di pohon korma, kalau mereka tidak segera mencabut kembali sikap mereka menyatakan Iman kepada Musa itu. Ancaman sehebat itu tidak sekali-kali dapat menggoyah Iman mereka.

Sampai mereka katakan di hadapan Fir‘aun yang selama ini belum biasa disanggah Orang; (ayat 73); "Kami tidak dapat lagi melebihkan penting engkau, hai Fir‘aun, daripada tanda bukti yang telah kami saksikan sendiri, demi Tuhan yang telah menciptakan kami. Engkau boleh lakukan keputusan yang telah engkau ambil. Kekuasaan engkau hanya berlaku untuk kehidupan dunia saja. Selepas itu tidak ! " Inilah yang dikatakan oleh lbnu Abbas: “Jadi orang Kafir pagi-pagi, jadi orang-orang mati syahid petang-petang.”

Di dalam Surat Thaha ini juga kita mendapat tuntunan yang tegas tentang kisah Nabi Adam termakan buah terlarang di dalam syurga. (ayat 115 sampai ayat 123). Jelas benar di ayat 115 bahwa yang benar-benar bertanggung jawab pertama ialah Adam sebagai suami, dan yang diperdayakan syaitan sampai terlanjur memakan buah itu ialah Adam (120) dan isterinya Hawa turut memakan menuruti suaminya (121); yang durhaka ialah Adam, yang tersesat ialah Adam (121).

Tetapi Adam segera menyesal dan memohon ampun dengan pimpinan Allah itu Pengasih, Penyayang dan Pengampun, Adam dipilih Tuhannya menjadi Nabi, jadi KhalifahNya ke muka bumi, sesudah diberi taubat dan diberi petunjuk. Berbeda dengan “Adam” yang tercatat dalam Perjanjian Lama, yang ketika ditanyai Tuhan lalu menyalahkan bininya.

lnilah isi dari Surat Maryam dan Thaha dalam Juzu’ 16. Moga-moga dapat membawa kita mengenal isi sabda Ilahi, .... Amin!
 Tafsir Suroh Maryam ayat 1 - 11         
                                                                   
Dengan Nama Allah Yang Maha Murah lagi Pengasih

كهٰيٰعص َ(1) Kaf - Ha f - Ya - `Ain - Shad.

ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا َ
(2)
 (Inilah) peringatan rahmat Tuhanmu kepada hambanya Zakariya .

إِذْ نادى‏ رَبَّهُ نِداءً خَفِيًّا َ
(3)
 Seketika dia menyeru Tuhannya dengan seruan yang lemah lembut.

قالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَ اشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْباً وَلَمْ أَكُنْ بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيًّا َ(4) Dia berkata : Tuhanku ! Sesungguhnya telah lemah tulang-belulangku dan telah nyala
kepalaku oleh uban ; dan tidak lah pernah aku di dalam mendoa kepadaMu. ya Tuhanku, merasakan kecewa.

وَ إِنِّي خِفْتُ الْمَوالِيَ مِنْ وَرائي‏ وَ كانَتِ امْرَأَتي‏ عاقِراً فَهَبْ لي‏ مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا َ(5) Dan sesungguhnya aku khuatir akan keluarga-keluarga dl belakangku, sedang isteriku adalah mandul. Sebab itu anugerahilah aku (dari kurnia) langsung dari Engkau seorang pengganti.

يَرِثُني‏ وَ يَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَ اجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا َ(6) Yang akan mewarisiku dan akan mewarisi keluarga Ya‘kub.dan jadlkanlah dia Tuhanku seorang yang diridhai

يا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيى‏ لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا َ
(7)
 Ya Zakariya' Sesungguhnya Kami akan menggembirakan engkau dengan seorang putra namanya Yahya. Belum pernah Kami jadikan baginya yang senama.

قالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لي‏ غُلامٌ وَ كانَتِ امْرَأَتي‏ عاقِراً وَ قَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا َ
(8)
 Dia berkata: Tuhankul Bagaimana kiranya akan ada bagiku seorang putera , padahal isteriku adalah mandul , sedangkan aku dalam ketuaanku sudah serba lemah

قالَ كَذلِكَ قالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَ قَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَ لَمْ تَكُ شَيْئاً َ
(9)
 Berkata dia Demikianlah telah berkata Tuhan engkau , Dia itu bagiKu adalah mudah. Dan sesungguhnya telah Aku ciptakan engkau dari sabelumnya. padahal engkau belum jadi sesuatu apa pun

قالَ رَبِّ اجْعَلْ لي‏ آيَةً قالَ آيَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاثَ لَيالٍ سَوِيًّا(10) Berkata dia Tuhan, adakan kiranya bagiku sesuatu tanda ! Berkata Dia : Tanda engkau ialah bahwa engkau tidak akan bercakap cakap dengan manusia tiga malam lamanya. sedang engkau dalam keadaan sihat.

فَخَرَجَ عَلى‏ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرابِ فَأَوْحى‏ إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَ عَشِيًّا َ
(11)
 Maka keluarlah dia kepada kaumnya dari mihrab. Lalu di isyaratkannya kepada mereka , supaya hendaklah kamu bertasbih pagi dan petang,


كهٰيٰعص َ" Kaf - Ha - Ya - `Ain - Shad " (ayat 1).

Semuanya adalah huruf huruf hijaiyah. yang sebagai telah banyak kita uraikan. sepintas lalu dapat dikatakan tidak ada arti yang terkandung di dalam huruf huruf . Sehingga banyak ahli tafsir mengatakan saja "Allahu a‘lamu bimuradihi" , Allahlah yang lebih tahu apa maksudnya Tetapi sungguhpun demikian terdapat juga beberapa riwayat yang oleh ahli-ahli tafsir bahwa huruf-huruf itu ada artinya. Menurut satu riwayat yang diterima dan lbnu Abbas ; keempat Huruf itu adalah potongan dari pada nama-nama Allah.

Huruf الكاف ( Kaf ) adalah potongan dari nama Allah AL-KABIR yang berarti Maha Besar
Huruf الهاء ( Ha ) potongan daripada nama Allah yaitu Al-HADI, yang berarti, Yang Memberikan Petunjuk,
Huruf الياء ( Ya ) berikut dengan huruf العين ( `Ain ) adalah dari AL-'AZIZ; Yang Maha Kuasa atau Maha Perkasa
Huruf الصّاد (Shad) potongan dari ASH-SHADIQ ; Yang Maha Jujur.

Dan satu tafsiran lagi diterima dari Abdullah bin Mas`ud dan beberapa sahabat Rasulullah saw. yang lain; Kaf potongan dari Al-Malik; ialah nama Allah yang berarti Maharaja. Huruf Ha potongan atau akhir dan kalimat Allah itu sendiri , Ya dan ‘Ain dan kalimat AL- ‘AZIZ sabagai arti yang di atas tadi juga.

Sedang Huruf Shad ialah potongan nama salah satu nama Allah lagi. yaitu Al-Mushawwir; artinya yang memberi rupa dan bentuk bagi sesuatu. Dan terdapat juga penafsiran-penafsiran yang lain yang hampir sejalan.Lalu akhirnya orang kembali lagi kepada sebutan yang terkenal itu; "Allahlah yang lebih tahu apa arti huruf-huruf itu "
Nabi Zakariya
ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا َ"Inilah peringatan rahmat Tuhanmu kepada hambaNya Zakariya." ( ayat 2 )

lnilah peringatan atau inilah kenang-kenangan terhadap rahmat yang pernah dianugerahkan Tuhan kepada hambaNya yang bernama Zakariya. Zakariya adalah nama dari salah seorang Nabi atau Rasul dari Bani lsrail.

إِذْ نادى‏ رَبَّهُ نِداءً خَفِيًّا َ“Seketika dia menyeru Tuhannya dengan seruan lemah-lembut." (ayat 3) .

Diterangkanlah dalam ayat 3 ini bahwa Zakariya telah menyeru Allah,Tuhannya, dengan seruan yang leman lembut , seruan yang tidak perlu kedengaran oleh orang lain . sasuai dengan adab sopan-santun seorang Hamba terhadap Tuhannya. apatah dia seorang Nabi. Sebagai tersebut dalam adab sopan santun berdoa, di dalam Surat al-A`raf ayat 55

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَ خُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدينَ"Serulah Tuhan kamu di dalam keadaan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut ; karena sesungguhnya Dia tidaklah suka kepada orang-orang yang melampaui batas."
Dapatlah kita fikirkan sendiri bagaimana seorang Rasul yang usianya telah tua, hendak mengemukakan suatu permohonan yang bagi orang lain mungkin dianggap lucu. Yaitu memohonkan keturunan yang akan menyambung tugas bila dia meninggal dunia . Lebih baiklah doa semacam ini disampaikan dengan berbisik saja . Memenuhi adab berdoa dan jangan sampai rnenjadi tertawaan orang lain.

قالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَ اشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْباًَ"Dia berkata: "Tuhanku ! Sesungguhnya telah lemah tulang belulangku dan telah nyala kepalaku oleh uban "(pangkal ayat 4).

Diakuinyalah dalam doanya bahwa dia benar benar telah tua. Alamat tua yang tidak dapat dielakkan lagi dari diri ialah bila tulang belulang telah mulai lemah. Sedang tulang adalah penguat seluruh tubuh jika tulang yang telah lemah , segala bahagian tubuh yang lain tidaklah dapat bertahan lagi Jengat tentulah mulai kendur. mata tentulah mulai kabur , dan gigi sebagai bahagian dari tulang tentulah berturut menjadi gugur .Dan kepalaku mulailah menyala lantaran uban .

Ungkapan ayat menyatakan bahwa kepala mulai menyala lantaran uban adalah suatu ungkapan yang tepat di dalam bahasa Arab dan dapat pula dijadikan ungkapan bahasa lndonesla.

Sebab seseorang yang seluruh kepalanya sudah lebih banyak ubannya daripada rambut hitam, benar benar lah dia laksana menyala karena kilatan uban itu . Dan Zakariya bermunajat selanjutnya:
وَلَمْ أَكُنْ بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيًّا "Dan tidaklah pernah aku, di dalam mendoa kepadaMu. ya Tuhanku, merasakan kecewa." (ujung ayat 4).
Artinya, bahwa di dalam pengalaman hidupku selama ini, sejak aku masih muda belia pun belumlah pernah Engkau, ya Tuhanku mengecewakan harapanku. Jaranglah do'a ku yang tidak makbul. Oleh sebab itu sekarang aku ulangi lagi permohonanku dan penuhlah kepercayaanku bahwa doa ini akan terkabul.

Hampir samalah doa Zakariya dengan kisah tiga orang yang terkurung di dalam sebuah gua, karena pintu gua dihantam petus sehingga tertutup dan mereka tidak dapat keluar. Lalu masing-masing mengemukakan permohonan kepada Tuhan agar segera dikeluarkan dari kurungan itu , dengan menyebut segala amalan baik yang pernah mereka kerjakan, sebagaimana tersebut di dalam hadits Nabi saw.

Setelah mengakui bahwa dia memang telah tua , sehingga jika melihat sebab-sebab yang lahir tidaklah rnungkin permohonan akan terkabul, maka dikemukakannya jugalah kekhawatiran yang menyenak dalam hatinya:

وَ إِنِّي خِفْتُ الْمَوالِيَ مِنْ وَرائي‏َ"Dan sesungguhnya aku khuatir akan keluarga-keluarga di belakangku." (pangkal ayat 5).

Oleh karena aku sudah tua, tulang sudah sangat lemah, uban sudah menyala di kepala, sedang keturunan yang akan rnenyambung tidak ada, timbullah khuatir atau rasa cemas dalarn hatiku jika aku meninggal dunia. Bagaimanalah nasib dari kaum keluarga terdapat yang selama ini mengharap­kan pimpinan dan bimbinganku. Siapa yang akan aku harapkan membimbing dan memimpin mereka. Beranak pun aku tidak bisa lagi. Karena selain aku telah tua begini;

وَ كانَتِ امْرَأَتي‏ عاقِراً":Sedang isteriku adalah mandul."
Orang perempuan yang mandul niscaya tidak diharapkan buat beranak. Maka kalau permohonanku supaya dianugerahi putera yang akan menyambung keturunanku sukar untuk dikabulkan;

فَهَبْ لي‏ مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا "Sebab itu anugerahilah aku dari kurnia langsung dari Engkau , seorang pengganti." (ujung ayat 5).

Min ladunka : Aku rnemohonkan kurnia langsung dari Engkau. Karena yang lain tidaklah ada yang sanggup mengabulkan permohonanku. Dengan kalimat kurnia langsung dari Tuhan, harapan hati kecil Zakariya masih terungkap dalam doanya. Nampak bahwa do'a ini mengandung dua permohonan ;

(1) permohonan yang umum dan lahir,
(2) permohonan yang ter­sembunyi dan sangat diharap.

Kurnia untuk kepentingan umum itu ialah waliyyan, atau seorang pengganti atau penyambung tugas. seorang yang akan mengepalai keluarga jika beliau meninggal dunia. Moga-moga Tuhan dapat mengabulkan permohonan yang umum ini. Tetapi permohonan vang lebih tersembunyi lagi, kalau boleh pengganti tugas beliau atau pemimpin yang akan menggantikan tugas beliau itu dapatlah kiranya Tuhan memberinya anugerah putera .

Di dalam Surat al Anbiya' Surat 21 [lihat TafsirAl-Azhar Juzu' 17] , ayat 89 pernah dijelaskan oleh Tuhan permohonan Zakariya itu. Beliau memohon kepada Tuhan agar dia jangan diberikan Tuhan hidup sendirian di dunia ini.

Artinya hidup dengan tidak ada keturunan. Tetapi oleh karena dia seorang yang shalih dan tawakkal , di ujung permohonan itu dibayangkannya jua , meskipun Tuhan tetap menghendaki bahwa dia tidak akan beroleh keturunan buat selama-lamanya, sehingga tidak ada waris yang akan menerima pening­galannya, namun Allah adalah pewaris yang lebih baik dari segala pewaris.

Dan di dalam ayat 38 dari Surat 3, ali lmran dijelaskan lagi permohonan Zakariya itu. Dia memang memohon kepada Allah agar diberinya keturunan yang baik.

Tetapi caranya meminta itu tetaplah sebagai tersurat dalam Surat Maryam ini, yaitu dengan rendah hati, suara lemah-lembut, menekur dengan sikap merendahkan diri . Dan terkandunglah dalam permohonan itu, kalau kerinduannya akan keturunan tak dapat diberi , namun seorang waliyyan, seorang pimpinan keluarga yang akan, menyambung hendaklah diberikan jua. Siapa­nya kata Tuhan, terserahlah !

Karena Tuhan adalah Maha Bijaksana.

Disebutkannya pula cita-cita yang terkandung dalam hati sanubarinya tentang kepentingan wali atau pemimpin atau pengganti itu pada ayat selanjut­nya:

يَرِثُني‏ وَ يَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ َ"Yang akan mewarisiku dari mewarisi keluarga Ya`kub." (pangkal ayat 6).

Yang akan mewarisi atau akan mempusakai dirinya sendiri sebagai Nabi Zakariya, dan mewarisi pula apa yang dipusakakan oleh Nabi Ya'kub, nenek­ moyang mereka dengan seluruh keluarga keturunan nya yang banyak Nabi­ nabi itu. Teranglah di sini bahwa yang beliau rnaksud bukanlah warisan harta benda.

Pertama ; karena warisan harta benda itu tidaklah kekal. Dia akan habis dibawa masa. Berapa banyaknya kekayaan yang diwariskan nenek-moyang atau sekalipun punah dan licin tandas pada anak dan pada cucu. Dan belum tentu hartabenda yang diwariskan itu akan membawa bahagia. Maka tidaklah mungkin pewarisan yang dikehendaki Zakariya itu ialah hartabenda.

Yang kedua: sejalan dengan apa yang pernah disabdakan oleh Nabi kita Muhammad s.a.w. dalam sebuah Hadits yang shahih:

نحن معاشرالأنبياء لا نو رث ، ماتركناه صدقة"Kami sekalian Nabi-nabi tidaklah menurunkan waris , apa yang kami tinggalkan adalah menjadi shadaqah. "
Inilah sabda Rasulullah saw.. sehingga seketika Fatimah puteri beliau menuntut agar hartabenda beliau dibagi setelah beliau wafat kepada waris ­warisnya, tidaklah dikabulkan oleh Khalifah beliau Saiyidina Abu Bakar.

Dalam Surat 27, an-Naml (semut) ayat 16 ada pula disebutkan bahwa Nabi Sulaiman menerima warisan daripada ayahnya Nabi Daud.Tetapi dalam ayat itu juga terberita bahwa yang diwariskan itu ialah ilmu dan hikmat, keahlian memerintah dan mengatur negara ltulah yang diminta oleh Zakariya kepada Allah. Mohon kiranya diberi dia kurnia pewaris tugas yang mulia ini, yang akan menyambuung kerjanya memimpin manusia, yaitu warisan turun-temurun yang telah diterima dari Ya'kub nenek-moyang Bani Israil. Nama kecil Ya`kub itu sendiri ialah israil. Jangan putus hendaknya sampai selama-lamanya. Dan kalau boleh, alangkah bahagia­nya kalau pewaris pertama itu ialah puteranya sendiri. Alangkah bahagianya jika Tuhan memberinya fatwa, walaupun dia insaf bahwa dirinya telah tua dan isterinya mandul.

Pewarisan menegakkan Keesaan Tuhan di atas dunia ini janganlah kiranya terputus. Dan Rasulullah s.a.w. telah menjelaskan bahwa pewarisan itu sekali ­kali tidak akan putus. Nabi s.a.w. bersabda:
العلماء ورثة الأننبياء ، والأنبياء لا يورّ ث دينارا ولا درهما وانّماورّثوا العلمSengguhnya Ulama ( Orang-orang yang berilmu ) adalah penerima waris daripada Nabi-nabi. Dan Nabi-nabi itu tidaklah mewariskan dinar dan dirham. yang mereka wariskan ialah ilrnu pengetahuan. " (Riwayat Abu Daud)
Seterusnya ujung ayat sebagai permohonan Zakariya:

وَ اجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا "Dan jadikanlah dia – Tuhanku – seorang yang diridhai." (ujung ayat 6 ).
Seorang yang diridhai ialah yang dicintai, disukai terutama oleh Tuhan karena shalihnya dan disukai juga oleh manusia karena akhlak budi sopan ­santunnya. Tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril sebagai utusan dari Allah menyampaikan sambutan Tuhan atas permohonannya itu.

يا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيى‏َ"Ya Zakariya! Sesungguhnya Kami akan menggembirakan engkau dengan seorang putera , namanya Yahya. "(pangkal ayat 7).
Di dalam surat yang datang kemudian di Madinah , Surat 3 ali Imran ayat 39 dijelaskan lagi bahwa malaikat itu datang sedang dia berdiri sembahyang atau berdoa di dalam mihrab. Berita gembira itu yang amat diharapkannya itu telah disampaikan, bahwa permohonannya terkabul. Dia akan diberi seoranq putera laki-laki. Telah disediakan namanya sekali, yaitu Yahya.  Maka kata rnalaikat itu selanjutnya:
لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا "Belum pernah Kami jadikan baginya yang senama." (ujung ayat 7).

Artinya, pada sebelum itu belumlah pernah ada seorang yang bernama Yahya.

Nama Yahya inilah yang disebut oleh orang Yunani dengan Yohannes. atau Yohana atau John‑ Dalam sabda yang disampaikan Malaikat Jibril ini terdapatlah tiga berita gembira yang disampaikan kepada Zakariya.

Pertama: Permohonannya supaya diadakan baginya pengganti atau pewaris. Anugerah yang demikian itu adalah karamah.

Kedua: Dijelaskan kepadanya bahwa pengganti itu ialah anaknya sendiri. Dia akan diberi putera laki laki, sebagaimana yang diharap-harapkannya sejak berpuluh tahun. Pemberian yang kedua ini adalah sesuatu yang bernama quwwah: kekuatan atau sandaran. Seorang yang telah merasa dirinya telah tua, lalu diberi putera akan merasakan kekuatannya dipulihkan kembali.

Ketiga: Anak itu telah diberi nama sekali. Nama yang belum pernah dipakai orang sebelum itu, yaitu Yahya. Maka dengan menjelaskan bahwa namanya Yahya dan dikatakan ghulam diberilah Zakariya kegembiraan yang ketiga , yaitu bahwa anak yang akan diberikan itu ialah laki-laki. Sehingga dengan demikian bila dia telah dewasa kelak, akan dapatlah dia menjalankan tugas sebagaimana yang diharapkan oleh ayahnya. Bukan sebagai nazar isteri Imran, mengharap anak laki-laki namun yang diberikan perempuan, sebagai yang terdapat susunan ceriteranya di dalam Surat ali Imran.

Ada juga satu penafsiran yang diterima oleh Ali bin Abu Thalhah dari lbnu Abbas bahwa rnaksud ujung ayat "belum pernah Kami jadikan baginya yang senama", ialah belum pernah orang mandul dapat beranak.Wahyu ilahi mengabulkan permohonannya yang berisi tiga kegembiraan itu sangatlah mengharukan hati Zakariya. Dari sangat terharunya:

قالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لي‏ غُلامٌ وَ كانَتِ امْرَأَتي‏ عاقِراً وَ قَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا َ"Dia berkata: Tuhanku! bagaimana kiranya akan ada bagiku seorang putera, padahal isteriku adalah mandul, sedangkan aku dalam ketuaanku sudah serba lemah." (ayat 8).

Pertanyaan seperti ini sekaii-kali bukanlah karena kurang terima atau kurang percaya akan kekuasaan Allah, melainkan membayangkan rasa terharu dan ta`jub atas kebesaran Ilahi. Laksana Nabi Ibrahim seketika dia memohon ketenangan kepada Tuhan bagaimana caranya Tuhan akan rnenghidupkan kembali kelak orang yang telah mati. Tuhan bertanya: "Apakah engkau tidak percaya?" Ibrahim menjawab: "Bukan begitu, ya Ilahi! Melainkan hanya sekedar buat menenteramkan hatiku." (Lihat Tatsir Juz 3, Surat 2 al-Baqarah ayat 260).

Bagaimana ini, ya ilahi! KehendakMu akan berlaku. Aku akan diberi juga putera laki-laki, telah sedia sekali namanya, padahal isteriku mandul dan tua. Apatah lagi aku sendiri, telah tua nyanyuk. Telah lemah segala persendian. Zat ­zat hormon yang merangsang syahwat bersetubuh sudah kering tak ada lagi. Usianya menurut setengah riwayat di waktu itu telah 90 tahun. Menurut ukuran biasa dalam usia sekian mani laki-laki telah jalang. Perempuan yang tidak mandul dalam uria 45 tahun pun tidak mempunyai bibit lagi. Betapa perempuan yang mandul

قالَ كَذلِكَ قالَ رَبُّكََ"Berkata dia:" (Yaitu Malaikat Jibril jang diutus Tuhan menyampaikan berita gembira itu): "Demikianlah telah berkata Tuhan engkau." (pangkal ayat 9).
Artinya bahwa itu adalah satu kehendak dari Allah sendiri yang tidak akan berobah lagi. Adapun pertanyaanmu bagaimana Tuhan akan melaksana­kannya, padahai isteriku mandul dan aku telah tua, namun maka Allah pun telah memesankan:
هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ"Dia itu bagiKu adalah mudah." Memberi berisi hormon pada mani orang yang telah tua, untuk hanya melahirkan seorang anak, dan memberikan rangsangan bagi seorang perempuan yang mandul; walaupun untuk sekali setubuh, bagi Allah adalah perkara mudah saja. bukan perkara sulit. semua isi alam ini Allah yang menguasainya; Tuhan dapat mengatur semua.

Maka janganlah engkau lupa:

وَ قَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَ لَمْ تَكُ شَيْئاً "Dan sesungguhnya telah Aku ciptakan engkau dari sebelumnya, padahal engkau belum jadi sesuatu apa pun."(ujung ayat 9).

Artinya, bahwa engkau dahulunya pun belurn ada sama sekali, lalu Aku adakan daripada yang tidak ada itu. Sebelum engkau lahir belum ada orang yang bernama Zakariya! Setelah Aku adakan baru engkau ada. Maka demikian pula lah putera keturunanmu dan pengganti yang sangat engkau harapkan itu . Mudah saja bagiku menjadikan dan menciptakannya.

قالَ رَبِّ اجْعَلْ لي‏ آيَةً"Berkata dia:" Yaitu Zakariya. "Tuhan ! adakan kiranya bagiku sesuatu tanda!" (pangkal ayat 10 ).
Dengan ini Zakariya rnemohon kepada Tuhan supaya kiranya diadakan untuknya suatu ayat, yaitu tanda bukti. Sempurna­kanlah nikmat itu dengan suatu pertanda agar hatiku bertambah tenteram, supaya lebih jelas bahwa yang disuruh Tuhan rnenyarnpaikan berita gembira itu benar-benar Malaikat , bukan syaitan.

Permohonannya itu dikabulkan pula oleh Tuhan, lalu malaikat rnenyampaikannya :
قالَ آيَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاثَ لَيالٍ سَوِيًّا"Berkata Dia "Tanda engkau ialah bahwa Engkau tidak akan bercakap-cakap dengan manusia tiga malam lamanya, sedang engkau dalam keadaan sihat.." (ujung ayat 10).

Artinya, sebagai tersebut juga dalam Surat al Imran ayat 41 ialah bahwa tiga malam lamanya Zakariya tidak akan dapat mengangkat suaranya akan bercakap-cakap. Kelu saja lidahnya dan tidak keluar suaranya. Di dalarn ayat ini dikatakan tiga malam dan pada ayat 41 Surat 3 ali Imran itu disebutkan tiga hari .

Maka menjadi bertambah jelaslah bahwa lidahnya dikelukan Tuhan tiga hari tiga malam lamanya. Kalau dia hendak bercakap, hanyalah dengan isyarat saja. Meskipun begitu beliau tidak sakit. Beliau sihat wal-afiat.

فَخَرَجَ عَلى‏ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرابَِ"Maka keluarlah dia kepada kaumnya dari mihrab. " (pangkai ayat 11).

Mihrab pada waktu itu ialah tempat yang tersisih dan ditinggikan dan di istimewakan untuk beribadat di salah satu bahagian daripada mesjid. Di dalam al-Quran terdapat dua Nabi yang mempunyai mihrab tempat beribadat sendiri itu; Nabi Zakariya ini, karena beliau memang pengawal Rumah Allah. pengatur ibadat di dalamnya. Kedua ialah Mihrab Nabi Daud. (Lihat Surat 38, Shad ayat 21). Kemudian nama mihrab telah dipakai untuk ruang kecil yang dijorokkan ke muka pada mesjid-mesjid tempat Imam berdiri seorang dirinya dan di belakangnya terdapat shaf yang pertama. Maka keluarlah Nabi Zakariya dari mihrab tempatnya beribadat, menemui kaumnya dan murid-muridnya ;

فَأَوْحى‏ إِلَيْهِمْ"Lalu diisyaratkannya kepada mereka," sebab lidahnya tidak dapat diangkatnya lagi dan suaranya pun tidak keluar.Kalimat yang tersebut di dalam ayat ialah diwahyukannya. Arti wahyu di sini ialah isyarat ; mulutnya tidak terbuka, tetapi isyarat tangannya mengandung arti yang dapat difahamkan. Yang diisyaratkannya kepada mereka itu ialah:

أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَ عَشِيًّا "Supaya hendaklah kamu bertasbih pagi dan petang." (ujung ayat 11).

Tegasnya, meskipun lidah beliau telah kelu dan suara tidak kedengaran lagi, namun tugas beliau memimpin kaumnya tidaklah berhenti. Beliau rnasih saja memimpin dan mengajak mereka supaya tetap memuja Tuhan, mengucapkan tasbih, mengucap kan kesucian bagi Allah pagi dan petang , siang dan malam.

Dan beliau sendiri pun demikian; meskipun lidah telah kelu dan suara tidak kedengaran selama tiga hari tiga malam itu, namun perintah Tuhan untuk zikir, ingat kepada Allah tidaklah pernah diabaikannya. (Lihat kembali Surat 3, ali Imran ayat 41) Malahan pertandaan atau ayat Tuhan yang amat ganjil itu menambah yakin dan dekat Nabi yang telah tua kepada Tuhan Rabbul `Alamin.
Tafsir Suroh Maryam ayat 12 - 15          
                                                                   

 يا يَحْيى‏ خُذِ الْكِتابَ بِقُوَّةٍ وَ آتَيْناهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا َ(12)Wahai Yahya! Peganglah kitab ini dengan teguh. Dan Kami berikan kepadanva hukum se­dang dia lagi kanak-kanak.

وَ حَناناً مِنْ لَدُنَّا وَ زَكاةً وَ كانَ تَقِيًّا َ(13)Dan rahmat yang langsung dari Kami , dan kesucian, dan adalah dia seorang yang bertakwa.

وَ بَرًّا بِوالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّاراً عَصِيًّا َ(14)Dan khidmat kepada kedua ibu bapanya; dan tidaklah dia itu sombong dan tidak durhaka.

وَ سَلامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَ يَوْمَ يَمُوتُ وَ يَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا (15)Dan selarnat sejahteralah atas­nya di hari diri dilahirkan , dan di hari diri meninggal dan dihari dia akan dibangkitkan hidup kembali.

Nabi Yahya a.s.
Pemimpin atau pengganti dan anak yang amat dirindukan 0leh Nabi Zakariya telah tua itu pun lahirlah.

يا يَحْيى‏ خُذِ الْكِتابَ بِقُوَّةٍ"Wahai Yahya ! Peganglah kitab ini dengan teguh." (pangkal ayat 12) .

Peganglah kitab itu , yaitu kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa ‘alaihis-salam dan Nabi-nabi Bani lsrail yang sesudah Musa diwajibkan meneruskan dan memegang teguh isi kitab itu, tidak akan merobahnya melainkan menerus kannya. Isa Almasih sendiri pun pernah menyata kan bahwa satu titik pun daripada hukum Taurat itu tidaklah akan dirobahnya. Pegang teguh artinya pegang dengan sesungguhnya. Kata Zaid bin Aslam; pegang teguh arti pelajari baik-baik lalu amalkan dan kerjakan , ikuti dengan setia apa yang dipetintahkannya, jauhi dengan patuh apa yang dilarangnya.

وَ آتَيْناهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا “Dan Kami berikan kepadanya hukum sedang dia Iagi kanak-kanak. " (ujung ayat 12) ,
Artinya, masih kanak-kanak lagi, namun fikirannya sudah mulai matang. Sehingga suatu riwayat yang disampaikan Oleh Ma’mar suatu hari sesamanya kanak-kanak mengajak·nya bermain-main, dia telah menolak dengan katanya: “Bukan untuk bermain-main saya dijadikan Tuhan."

وَ حَناناً مِنْ لَدُنَّا“Dan rahmat yang langsung dari Kami. " (pangkal ayat 13).

Artinya bahwa ditumbuhkanlah peribadi budak kecil itu dengan rahmat belas-kasihan dan
cinta berlimpah-limpah dari Allah. Az-Zamakhsyari mengatakan bahwa rasa cinta kasih yang meliputi.Nabi Zakariya dan isterinya dan puteranya Yahya itu menyebabkan hidup mereka dalam rumah tangga penuh dengan nikmat rohani.

وَ زَكاةً "Dan kesucian" daripada dosa .

Bertumbuh peribadi Yahya itu dalam kesuburan, berbuat perbuatan yang baik dan terpuji dan memberi berkat kepada manusia sekelilingnya. Tidak rnendapat celaan dari sesama manusia karena tidak ada perangainya yang menimbulkan benci orang,

وَ كانَ تَقِيًّا “Dan adalah dia seorang yang bertakwa." (ujung ayat 13).

Karena shfat ketakwaannya itu tidaklah dia pernah berbuat perbuatan yang dibenci 0leh Allah, melainkan tekunkali dia ber- ibadat kepada Tuhan, walaupun usianya masih muda, menuntut ajaran Kitab Taurat yang dipegangnya teguh.

وَ بَرًّا بِوالِدَيْهِ“Dan khidmat kepada kedua ibu-bapanya." (pangkal ayat 14).

lni pun sifat baik yang utama pada diri Nabi Yahya itu. Di samping jiwanya yang suci bersih dan takwa kepada Allah, diisinya pula syarat hidup yang panting, yaitu hormat dan bakti kepada kedua orang tua, Sehingga terobatlah hati kedua orang tua itu di zaman tuanya, mendapat putera yang amat diharapkan. Kebaktiannya kepada kedua orang tuanya itu diperingatkan 0leh Tuhan, karena banyak terdapat anak yang sangat diharapkan , apatah lagi anak tunggal satu-satunya, oleh karena sangat dimanjakan orang tuanya dia pun menjadi mangkak, sombong dan menyakiti hati orang tua.

lni dibayangkan Tuhan dalam kisah Nabi Khidhir membawa Nabi Musa mengembara, lalu bertemu dengan seorang anak kecil. Lalu anak itu dibunuh 0leh Nabi Khidhir, sehingga Musa tercengang dan bertanya, mengapa Khidhir berbuat begitu. Kemudian diterangkan 0leh Khidhir: “Adapun anak kecil itu, kedua ibu bapanya adalah orang yang beriman, Tetapi kami khuatir bahwa dia akan mendorong kedua ibu-bapanya itu kepada kesesatan dan kekafiran."

Maka khidmat kepada orang tua ini pun adalah sebahagian dan hidup Nabi Yahya. Ditambah lagi dengan keterangan Tuhan:

وَلَمْ يَكُنْ جَبَّاراً عَصِيًّا “Dan tidaklah dia itu sombong dan tidak durhaka." (ujung ayat 14).
Bukan dia sombong mengangkat diri. Sebab dia diutus Allah untuk memimpin manusia. Pemimpin sejati, terutama pemirnpin dengan tuntunan nubuwwat tidaklah sombong, melainkan rendah hati; lemah-lembut sikapnya, memperhatikan kesusahan orang dan menunjukkan jalan yang benar, Dan bukan pula dia perbuat maksiat mendurhakai Tuhan.Kemudian datanglah pujian amat tinggi dari Tuhan untuknya;

وَ سَلامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ“Dan selamat sejahteralah atasnya di hari dia diIahirkan,” (pangkal ayat 15).

Telah kita ketahui bagaimanalah suasana ibunya yang telah tua itu ketika mengandungnya dan ketika melahirkannya. Kadang-kadang ditimpa susahlah perempuan melahirkan anak.Ada-ada saja hambatannya, Apatah lagi orang tua seperti ini. Namun kelahiran itu selamat.

وَ يَوْمَ يَمُوتُ “Dan di hari dia meninggal. " 
Tersebutlah di dalam riwayat dan kisah Nabi-nabi , dan tersebut juga dalam catatan kitab Perjanjian Lama, kitab-kitab lnjil Matius dan Lukas dan Markus, bahwa kematian Yahya anak Zakanya itu adalah karena kezaliman Raja Herodus, yang jatuh cinta kepada anak tirinya , yang didapatinya ketika raja itu mengawini ibunya.

Setelah anak itu bertambah besar dan bertambah cantik raja itu jatuh hati kepadanya dan anak itu pun mau saja jadi isten dari bapa tirinya. Tetapi Yahya yang memegang teguh Hukum Taurat tetap mcnganggap perbuatan itu HARAM. Meskipun dia telah dimasukkan ke dalam penjara, lalu dikirim utusan raja menemuinya untuk meminta perobahan fatwanya, namun dia tidak mau merobah hukum dan keyakinan.

Mendengar kekerasan hatinya itu , perempuan muda yang bercintaan dengan ayah tirinya itu meminta supaya kepala Yahya dihidangkan di atas talam emas di hadapannya, tanda raja memang mencintainya. Maka Nabi Yahya pun dipotonglah lehernya dalam tahanan .

Ayat ini mengatakan bahwa selamat di hari matinya, Artinya kematian beliau adalah kematian yang mulia, kematian seorang syahid dan dia tidak ragu-ragu menempuh kematian itu. Dia tidak bimbang. Sebab itu maka matinya selamat.

وَ يَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا “Dan di hari dia akan dibangkitkan hidup kembaIi." (ujung ayat 15).

lnilah pedoman dan pokok kepercayaan yang kedua bagi orang yang beragama. Yaitu sesudah yang pertama mempercayai adanya Allah, yang kedua ialah percaya bahwa sesudah mati kelak, akan datang masanya kita dihidupkan Allah kembali. ltulah Yaumul-Qiyamah (Hari Kiamat).

Maka Yahya akan bangkit kelak dari kehidupan Alam Kubur ke dalam Alam Akhirat dengan selamat sejahtera, karena hidupnya yang mulia, suci bersih takwa hormat kepada kedua ibu-bapa dan mati dalam keadaan syahid karena berpegang teguh kepada ajaran Allah.
 
Tafsir Suroh Maryam ayat 16 - 21          

                                                                   

 وَ اذْكُرْ فِي الْكِتابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِها مَكاناً شَرْقِيًّا َ(16) Dan ingatlah (yang tersebut) di dalam Kitab, dari hal Maryam. Ketika dia menjauhkan diri dari keluarganya ke sebuah tempat disebelah Timur.

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجاباً فَأَرْسَلْنا إِلَيْها رُوحَنا فَتَمَثَّلَ لَها بَشَراً سَوِيًّا َ(17) Maka dia adakan tabir yang akan melindunginya dari mereka, lalu Kami utuslah kepdanya Roh Kami, maka menjelmalah dia menyerupai manusia yang sebenamya.

قالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا َ(18) Berkatalah dia: Sesungguhnya berlindunglah aku kepada Tuhan Yang Maha Kasih dari pada engkau, jika adalah engkau seorang yang bertakwa.

قالَ إِنَّما أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلاماً زَكِيًّا (19) Dia pun menjawab: Saya ini tidak lain adalah Utusan dari Tuhan engkau, karena akan aku anugerahkan kepada engkau seorang anak laki-laki yang suci. ’

قالَتْ أَنَّى يَكُونُ لي‏ غُلامٌ وَلَمْ يَمْسَسْني‏ بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا َ(20) Dia berkata: Betapa akan ada bagiku seorang anak laki·laki, padahal tidaklah pernah tersentuh diriku 0Ieh seorang laki-Iaki pun dan aku pun bukanlah seorang perempuan jahat.

قالَ كَذلِكِ قالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَ لِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَ رَحْمَةً مِنَّا وَ كانَ أَمْراً مَقْضِيًّا َ(21) Menjawab dia; Memang demikianlah. Tuhan teIah menyabdakan: Yang begitu bagiKu adalah hal yang mudah, dan akan Kami jadikan dianya suatu ayat untuk manusia dan suatu rahmat, dan dianya adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.

Siti Maryam
وَ اذْكُرْ فِي الْكِتابَِ“Dan ingatlah (yang tersebut) di dalam Kitab." (pangkal ayat 16).

Yang tersebut di dalam Kitab yang dimaksud ialah Kitab wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

مَرْيَمَ“Dari hal Maryam. " Wahyu dari hal Maryam ini telah disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, dan disuruhlah pula Nabi Muhammad saw. menceriterakannya dan memperingatkannya kepada kita ummatnya. Yaitu:

إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِها مَكاناً شَرْقِيًّا “Ketika dia menjauhkan diri dari keluarganya ke sebuah tempat di sebelah Timur. " (ujung ayat 16).

Maryam anak perempuan dari Imran, sejak kecilnya dalam asuhan dari Nabi yang telah tua, yaitu Nabi Zakariya yang menjadi Imam dan pemelihara Baitul Maqdis. Menurut suatu riwayat, Zakariya itu adalah Suami dari kakaknya. Satu riwayat Iagi menyatakan bahwa Zakariya suami dari saudara ibunya.Maryam kecil itu ditumpangkan ibunya di dalam Baitul Maqdis dalam asuhan Zakariya, sebab memenuhi nazar dari ibunya sendiri.

Maka 0Ieh karena ibunya seorang perempuan yang shalih dan Zakariya pendidiknya pun seorang Nabi yang utama, masuklah ke dalam diri anak perempuan itu didikan keagamaan yang mendalam. Imran ayahnya adalah keturunan pula daripada Nabi Daud ‘alaihis-salam. Sebab itu bolehlah dikatakan bahwasanya keluarga ini seluruhnya adalah rumahtangga beragama.

Keluarga Zakariya dengan puteranya Yahya, keluarga Imran dengan isterinya dan puterinya Maryam terkenal sebagai keluarga beragama yang taat. Di dalam Surat 21 kelak, aI-Anbiya’, dari ayat 89 sampai ayat 91 sama disebutlah pujian yang besar dari Tuhan atas kedua keluarga ini, Disebutkanlah bahwa 0rang-0rang itu semuanya adalah keluarga-keluarga yang cepat mengambil tindakan jika akan berbuat baik.

Maka tersebutlah dalam ayat ini bahwa dalam rangka ketaatannya kepada Tuhan Maryam pergi ke sebelah Timur Baitul Maqdis, mencari tempat menyisihkan diri dari keluarga supaya lebih tenang beribadat kepada Tuhan, sehingga dipasangnya tabir jangan sampai diganggu orang, sedang dia di waktu itu masih dara. Menurut riwayat dari Ibnu Jarir yang diterima dari Ibnu Abbas tempat di sebelah Timur itu ialah suatu kampung yang bernama Baitlaham (Bethlehem). Menurut keterangan riwayat Nauf al-Bikali; dia pergi ke sebelah Timur itu mengambil tempat buat beribadat.

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجاباًَ"Maka diadakan tabir yang akan melindunginya dari mereka." (pangkal ayat 17).

Maksudnya supaya dia jangan terganggu di dalam melakukan ibadatnya kepada Allah. Mungkin itu pulalah salah satu tela- dan yang menyebabkan timbul dalam kalangan pencinta Nabi Isa di kemudian harinya perempuan-perempuan yang mening galkan hidup repot dalam dunia ini lalu menyisihkan diri ke dalam biara. Tekunlah Maryam di tempat itu, dipasangnya tabir atau dilindungkannya diri di tempat yang tersembunyi supaya jangan terganggu beribadat.

فَأَرْسَلْنا إِلَيْها رُوحَنا"Lalu Kami utuslah kepadanya Roh Kami. " 
Yang dimaksud dengan Roh Kami, ialah Jibril. Di dalam beberapa ayat di dalam al-Qur'an telah disebutkan panggilan Jibril itu sebagai Roh; kadangkalanya disebut Roh saja, kadang kalanya disebut Ruhul-Qudus, atau Ruhul-Amin dan dalam ayat ini Ruuhana; Roh Kami.

فَتَمَثَّلَ لَها بَشَراً سَوِيًّا "Maka rnenjelmalah dia menyerupai manusia yang sebenamya." (ujung ayat 17).

Malaikat Jibril itu dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala dapatlah merupakan dirinya sebagai manusia biasa. Di satu waktu pernah dia merupakan dirinya sehingga disangka orang dia itu seorang sahabat Nabi s.a.w. yang bernama Dihyah al-Kalbi. Datangnya kepada Maryam sekarang ini pun menyerupai seorang laki-laki muda.

Melihat seorang laki-laki muda berdiri di hadapannya, padahal dia telah sengaja menjauhkan diri dan berkurung di balik tabir , terkejutlah Maryam, lalu:

قالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا َ"Berkata dia: "Sesungguhnya berlindunglah aku kepada Tuhan Yang Maha Kasih daripada engkau, jika adalah engkau seorang yang bertakwa." (ayat 18).

Maryam berkata demikian menunjukkan bahwa tidaklah timbul syak wasangkanya bahwa orang muda itu jahat! Sebab pa- da wajahnya dan tingkah lakunya ketika masuk tidaklah terbayang tanda-tanda bahwa dia orang jahat. Mungkin dia me - nyangka bahwa orang muda itu tersesat tidak tahu jalan. Sebab itu dikeluarkannyalah perkataan yang penuh dengan rasa kepercayaan akan pelindungan Tuhan Yang Maha Kasih (Ar-Rahman). Dan orang muda itu niscaya akan merasakan bagaimana permohonan perempuan itu kepada Allah, kalau memang dia pun seorang yang bertakwa.

Menurut tafsiran dari al-Bikali: "Tertekurlah kepala Jibril mendengar seruan Maryam di waktu itu." 

قالَ "Dia pun menjawab. " Yaitu malaikat yang merupakan dirinya sebagai anak muda itu.

إِنَّما أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ"Saya ini tidak lain adalah utusan dari Tuhan engkau,"
maka janganlah engkau ragu-ragu kepadaku, dan tidaklah pada tempatnya engkau takut kepadaku. Utusan Tuhan tidaklah akan berbuat yang tidak senonoh kepada engkau. Aku diutus Tuhan ialah:

لِأَهَبَ لَكِ غُلاماً زَكِيًّا "Karena akan aku anugerahkan kepada engkau seorang anak laki-laki yang suci." (ayat 19).

Maksud kedatangannya telah diterangkannya sendiri. Atas suruhan Allah menyampaikan anugerah dari Tuhan, dia sendiri yang membawanya, yaitu seorang anak laki-laki.

Tercenganglah Maryam mendengarkan perkataan Malaikat itu. Maryam percaya apa yang dia katakan, yaitu bahwa dia adalah utusan Allah. Sebab itu tidaklah dia akan berdusta. Apatah lagi Maryam sendiri sebagai telah kita ketahui riwayat hidupnya sejak dari kecilnya, adalah seorang anak perempuan yang sangat shalih. Dan jika utusan Allah itu mengatakan pula bahwa dia akan menyampaikan anugerah Tuhan, yaitu anak laki-laki, Maryam pun percaya. Tetapi dia tidak mengerti bagaimana dia seorang anak perawan akan diberi anak:

قالَتْ أَنَّى يَكُونُ لي‏ غُلامٌ وَلَمْ يَمْسَسْني‏ بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا َDia berkata: "Betapa akan ada bagiku seorang anak laki-laki, padahal tidaklah pernah tersentuh dinku oleh seorang laki-laki pun dan aku pun bukanlah seorang perempuan jahat." (ayat 20).

Bagaimana jalannya akan beranak. Bersentuh dengan laki-laki belum pernah diriku sekali jua; artinya aku belum kawin dan aku masih perawan. Dan aku pun bukan seorang perempuan jahat yang melacurkan diri.

قالَ كَذلِكِ َ"Menjawab dia: "Memang demikianlah!" (pangkal ayat 21(.
Artinya, memang demikianlah yang telah ditentukan oleh Tuhan. Yaitu bahwa engkau akan diberi anugerah putera oleh Allah dalam keadaanmu yang begini, belum disentuh laki-laki, masih perawan dan bukan karena engkau perempuan lacur.

قالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ"Tuhan telah menyabdakan: "Yang begitu bagiKu adalah hal yang mudah."
Sedangkan menjadikan seluruh isi Alam ini, baik di langit ataupun di bumi, daripada tidak ada lalu diadakan, mudah saja bagi Allah. Sedangkan Matahari yang selalu menerangi bumi ini, telah berjuta-juta tahun masih menyala dan belum padam-padam apinya, padahal besarnya berjuta kali besarnya bumi, sampai sekarang, sampai kelak masih bernyala; semuanya itu mudah saja bagi Allah, apatah kalau hanya akan menciptakan seorang anak laki-laki dilahirkan oleh seorang anak perawan yang masih suci.

وَ لِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ"Dan akan Kami jadikan dianya suatu ayat untuk manusia,"
yaitu supaya manusia itu sadar akan Kemahakuasaan Allah atas makhluknya, kekuasaan yang mutlak. Memang, kelahiran manusia yang biasa ini ialah melalui peraturan tertentu, yaitu bila telah bertemu mani seorang laki-taki dengan mani seorang perempuan, bercampur menggeliga di dalam rahim perempuan.

Namun Tuhan hendak menunjukkan pula tanda bahwa Dia itu ada! Dia berkuasa mencipta kan manusia di dalam rahim seorang anak dara, yaitu Maryam dengan cara yang lain
وَ رَحْمَةً مِنَّا "dan suatu rahmat."
Lahirnya seorang anak laki-laki suci dari anak perawan suci Maryam itu kelak, bukanlah semata-mata tanda atau ayat guna menunjukkan Kemaha-kuasaan Allah, bahkan juga Rahmat. Sebab lahirnya itu kelak ialah membawa tugas, menjadi Rasul Allah:

وَ كانَ أَمْراً مَقْضِيًّا "Dan dianya adalah suatu perkara yang sudah diputuskan." (ujung ayat 21).

Artinya, bahwasanya yang demikian itu sudah pasti terjadi, karena sudah menjadi keputusan Tuhan, telah tertulis di dalam rencana Allah.

 
                                                 Tafsir Suroh Maryam ayat 22 - 26          

                                                                   

 فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكاناً قَصِيًّا َ(22) Maka Maryam pun mengandungnyalah; lalu dia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.

فَأَجاءَهَا الْمَخاضُ إِلى‏ جِذْعِ النَّخْلَةِ قالَتْ يا لَيْتَني‏ مِتُّ قَبْلَ هذا وَ كُنْتُ نَسْياً مَنْسِيًّا َ(23) Maka rasa sakit akan melahirkan memaksanya bersandar ke pangkal pokok korma, seraya berkata: Wahai, alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini, dan jadilah aku seorang yang tidak berarti, lagi dilupakan.

فَناداها مِنْ تَحْتِها أَلاَّ تَحْزَني‏ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا َ(24) Maka menyerulah dia kepadanya dari tempat yang rendah: Janganlah kau bersedih hati. sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan di dekatmu sebuah anak sungai.

وَ هُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُساقِطْ عَلَيْكِ رُطَباً جَنِيًّا َ(25) Dan goyanglah pangkal pokok korma itu ke arahmu. niscaya pokok korma itu akan menggugurkan kepadamu korma yang masak ranum.

فَكُلي‏ وَ اشْرَبي‏ وَ قَرِّي عَيْناً فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَداً فَقُولي‏ إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْماً فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا َ(26) Maka makanlah dan minumlah dan senangkanlah hatimu. Maka jika engkau melihat ada manusia agak seorang, katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernazar di hadapan Tuhan Yang Maha Pengasih, maka sekali-kali tidaklah aku bercakap-cakap, sejak hari ini dengan seorang manusia pun.

Siti Maryam Mengandung
فَحَمَلَتْهُ َ"Maka Maryam pun mengandungnyalah." (pangkal ayat 22).

Berlakulah apa yang telah diputuskan oleh Tuhan di dalam takdirnya, bahwa Maryam mesti mengandung. Dan memang mengandunglah dia. Kian lama kian terasa kandungannya itu. Sebagai seorang anak perawan yang shalih dan tekun kepada llahi, dari keluarga yang teguh percaya kepada Allah, kehamilannya itu diterimanya sebagai suatu bahagian dari Iman. Tetapi tidaklah semua orang akan dapat mempercayainya. Sebab semua orang tahu bahwa dia masih belum kawin. Tentu orang akan bertanya-tanya siapa gerangan yang telah merusakkannya. Maka untuk menyelamatkan anak yang dalam kandungan itu dan menyelamatkan dirinya daripada tuduhan-tuduhan yang hina.

فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكاناً قَصِيًّا "Lalu dia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh." (ujung ayat 22).

Kata setengah riwayat tempat yang jauh itu ialah jauh dari mihrab tempat dia beribadat di mesjid dalam asuhan pamannya Zakariya itu. Tempat itu ialah desa Baitlaham (Bethlehem), yang jauhnya sekira-kira 8 mil dari Baitul Maqdis.
Kian lama kian besarlah kandungan itu sehingga dekatlah bulan akan melahirkan. Dan waktu melahirkan itu pun tibalah:

فَأَجاءَهَا الْمَخاضُ إِلى‏ جِذْعِ النَّخْلَةَِ"Maka rasa sakit akan melahirkan memaksanya bersandar ke pangkal pokok korma." (pangkal ayat 23).

Dari susunan ayat dapatlah kita merasakan bahwa hidup Maryam pada waktu itu memang tersisih jauh dari kaum keluarga. Kegelisahan diri karena merasakan sakit akan beranak menyebabkan dia mencari tempat yang sunyi dan teduh.

Bertemu pohon, lalu berteduhlah dia di situ menunggu waktu anak lahir. Dalam hal yang demikian fikiran berjalan juga, anak akan lahir, bapanya tidak ada. Dia sendiri percaya bahwa ini kehendak Tuhan. Tetapi apakah kaumnya akan percaya? Siapa yang akan percaya? Padahal selama ini tidaklah pernah perawan mengandung tanpa laki dan anak lahir tidak terang siapa ayahnya?
قالَتْ يا لَيْتَني‏ مِتُّ قَبْلَ هذا"Seraya berkata : "Wahai alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini," 
yaitu sebelum hal yang ganjil ini terjadi:

وَ كُنْتُ نَسْياً مَنْسِيًّا "Dan jadilah aku seorang yang tidak berarti. lagi dilupakan." (ujung ayat 23).
Tidak ada orang yang tahu, tidak ada orang yang mengenal dan tidak sampai menjadi buah mulut orang.
Memang , kalau percobaan telah memuncak demikian rupa , datang saat manusia merasakan lebih baik mati saja.

فَناداها مِنْ تَحْتِها َ"Maka menyerulah dia kepadanya dari tempat yang rendah. " (pangkai ayat 24).

Yang menyeru dari tempat yang rendah, atau dari tempat yang sangat dekat itu ialah Malaikat Jibril yang diwakilkan Tuhan tadi:

أَلاَّ تَحْزَني‏ "Janganlah kau bersedih hati." 
Segala hal yang kau lalui ini tidaklah lepas dari penjagaan Allah. Karena kelahiran puteramu itu kelak adalah atas kehendak Allah semata-mata.

قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا "Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan di dekatmu sebuah anak sungai." (ujung ayat 24).

Dalam susunan ayat tergambar pulalah bahwa kian dekatlah kelahiran anak itu dan kian duka nestapalah hati Maryam memikirkan hebatnya perjuangan yang akan dihadapinya.

Dan waktu yang ditunggu-tunggu itu pun datanglah! Datang lagi kesukaran baru; dia memerlukan air untuk membersihkan putera yang baru lahir dan untuk membersihkan diri sendiri. Dan sesudah anak lahir dia memerlukan makanan. Sebab dia sangat lapar. Tidak ada manusia yang akan menolong. Dan kalau pun ditakdirkan ada manusia yang akan datang, bukan pertolongan yang akan didapatnya, hanyalah penghinaan.

Di saat seperti itulah Jibril datang kembali, menyampaikan pesan Tuhan agar dia jangan bersedih hati bersusah fikiran. Yang pertama sekali ialah soal air! Sebuah anak sungai yang kecil dan airnya jernih ada mengalir di dekatnya. Dekat sekali.

Apakah sungai kecil itu telah ada sejak sebelumnya. atau diadakan Allah di waktu itu juga, tidaklah ada keterangannya dalam urutan ayat. Cuma menurut keterangan sebuah Hadits yang marfu' dirawikan oleh ath-Thabrani, yang diterima dengan sanadnya dari Ikrimah, yang didengar daripada Abdullah bin Umar; bahwa beliau ini pernah mendengar Rasulullah s.a.w. mengatakan bahwa sungai kecil yang disediakan buat Maryam itu ialah istimewa ditimbulkan Allah.

وَ هُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةَِ"Dan goyangkanlah pangkal pokok korma itu ke arahmu." (pangkal ayat 25).

Demikianlah sabda Tuhan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril itu kepada Maryam selanjutnya. Artinya tariklah atau raihlah pohon itu, yang maksudnya ialah menggoncangkannya:

تُساقِطْ عَلَيْكِ رُطَباً جَنِيًّا "Niscaya pokok korma itu akan menggugurkan kepadamu korma yang masak ranum." (ujung ayat 25).

Menilik kepada bunyi ayat, ternyatalah bahwa korma itu telah berbuah masak yang ranum. Jika ditarik-tarik batangnya itu atau digoyang-goyangkan, niscaya buah yang telah ranum itu akan jatuh. Maka banyaklah ahli-ahli tafsir mengambil sempena daripada ayat ini, bahwasanya ajaran kepada Maryam ini adalah ajaran buat manusia yang beriman jua seluruh nya. Artinya, meskipun buah itu telah ranum, dan meskipun Tuhan telah menyediakan air sungai kecil yang jernih airnya dan mengalir selalu , namun Maryam , atau seorang yang beriman tidaklah boleh berdiam diri saja. Jangan hanya menunggu, bahkan goncangkanlah pohon itu supaya buahnya jatuh. Takdir dan pertolongan yang telah disediakan Allah hendaklah juga disertai oleh usaha (kasab) dari manusia itu sendiri.

فَكُلي‏ وَ اشْرَبي‏ وَ قَرِّي عَيْناًَ"Maka makanlah dan minumlah dan senangkanlah hatimu " (pangkal ayat 26).

Tidak ada lagi yang patut engkau susahkan: air sudah sedia dengan mengalirnya air sungai. Makanan pun telah sedia. asalkan engkau suka saja menggoyang-goyangkan pohon korma itu niscaya m`kanan itu akan jatuh ke hadapanmu. Sebab itu makanlah buah korma yang jatuh berapa saja engkau kehendaki dan minumlah air jernih yang selalu mengalir itu dan tenangkanlah fikiran.

"Wa Qarrii 'ainan"; kita artikan tenangkanlah hatimu. Kalau menurut arti harfiyahnya ialah tenangkanlah matamu ! Karena memang orang yang sedang gelisah mengesan kepada penglihatan matanya yang liar, karena marah. Atau sayu karena bersedih hati. Dan apabila fikiran orang telah tenang, itu pun mengesan kepada penglihatan matanya yang tenang.

فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَداً"Maka jika engkau melihat ada manusia agak seorang,"
karena tempat ini tidaklah akan selalu tersembunyi dari mata manusia. Pasti akan ada orang yang tahu, ataupun akan ada orang yang mencari ke mana agaknya anak dara yang shalih itu menyembunyikan dirinya. karena sudah lama tidak nampak di tempat beribadat yang biasa. Maka kalau ada orang datang, tentu akan banyaklah selidiknya mengenai hal engkau ini. Sebab itu:

فَقُولي‏ إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْماً فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا "Katakanlah: sesungguhnya aku telah bernazar di hadapan Tuhan Yang Maha Pengasih. maka sekali-kali tidaklah aku akan bercakap-cakap sejak hari ini. dengan seorang manusia pun." (ujung ayat 26).

Maka jika ada orang datang, panjang selidiknya, banyak tanyanya, janganlah dijawab dengan perkataan, melainkan beri saja isyarat dengan tangan, bahwa mulai hari ini aku tidak boleh bercakap sepatah jua pun. Sebab aku telah berjanji berna- zar dengan Tuhan tidak akan bercakap-cakap.

Menurut suatu riwayat daripada Anas bin Malik. selain dari berdiam diri, Maryam pun memulai puasanya pada hari itu. Inilah suatu tawakkal yang sebesar-besarnya. Sebab memang kalau pertanyaan datang, lalu Maryam menjawab, hanya pertengkaran saja yang akan timbul. Orang tidak juga akan percaya bahwa dia mengandung dan melahirkan anak adalah atas kehendak Kudrat Iradat Allah semata-mata, di luar daripada kebiasaan yang berlaku.

Kedatangan Malaikat Jibril membawa wahyu ini, baik ketika Allah menyampaikan ketentuan bahwa Maryam akan diberi putera, atau ketika Jibril datang seketika putera akan lahir menyatakan anak sungai telah sedia dan korma akan mengeluar- kan buah, menyebabkan banyak di antara Ulama berpendapat bahwa Maryam ibu Isa Almasih itu adalah Nabiyah (Nabi perempuan). Dan dikatakan juga oleh setengah Ulama bahwa Ibu Nabi Musa pun adalah seorang Nabiyah juga. Karena dia pun beroleh wahyu seketika diperintahkan menghanyutkan puteranya (Musa bin Imran) dalam sebuah peti, ke dalam sungai Nil, sehingga dipungut oleh puteri Fir'aun.

Tetapi ini adalah masalah khilafiyah jua adanya.
 
Tafsir Suroh Maryam ayat 27 - 34           

                                                                   

فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَها تَحْمِلُهُ قالُوا يا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئاً فَرِيًّا(27) Maka dibawanyalah anak itu kepada kaumnya seraya mendukungnya. Lalu berkatalah mereka: Ya Maryam! Sesungguhnya kau telah berbuat sesuatu yang hebat.

يا أُخْتَ هارُونَ ما كانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَما كانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا َ(28) Hai saudara perempuan Harun! Bukanlah ayahmu seorang yang jahat dan bukan pula ibumu seorang perempuan yang nakal.

فَأَشارَتْ إِلَيْهِ قالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا َ(29) Maka ber-isyaratlah dia kepadanya. Mereka pun berkata: Bagai mana kami akan dapat bercakap dengan seorang yang masih dalam buaian, masih bayi?

قالَ إِنِّي عَبْدُ اللهِ آتانِيَ الْكِتابَ وَ جَعَلَني‏ نَبِيًّا َ(30) Dia berkata: Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah! Dia telah memberikan al-kitab kepadaku, dan Dia telah menjadikan daku seorang Nabi.

وَ جَعَلَني‏ مُبارَكاً أَيْنَ ما كُنْتُ وَ أَوْصاني‏ بِالصَّلاةِ وَ الزَّكاةِ ما دُمْتُ حَيًّا (31) Dan Dia telah menjadikan daku seorang yang diberi bahagia di mana saja aku berada, dan Dia telah mewajibkan daku bersembahyang dan berzakat, selama aku hidup.

وَ بَرًّا بِوالِدَتي‏ وَلَمْ يَجْعَلْني‏ جَبَّاراً شَقِيًّا َ(32) Dia jadikan daku berbakti ke pada ibuku, dan Dia tidaklah menjadikan daku seorang yang sombong. seorang yang celaka.

وَ السَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَ يَوْمَ أَمُوتُ وَ يَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (33) Maka keselamatanlah atas diriku di hari aku dilahirkan dan di hari aku mati dan di hari aku akan dibangkitkan hidup kembali.

ذلِكَ عيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذي فيهِ يَمْتَرُونَ َ(34) Itulah dia Isa anak Maryam! Perkataan yang benar, yang hal ihwal itu telah mereka perselisihkan.

Maryam Melahirkan Isa a.s.
فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَها تَحْمِلُهُ"Maka dibawanyalah anak itu kepada kaumnya seraya mendukungnya." (pangkal ayat 27).
Jelaslah pada pangkal ayat ini, bahwa setelah anak itu lahir di tempat yang terpencil itu, belumlah ada perhatian orang. Karena belum ada manusia yang datang ke sana. Dan badan Maryam pun telah mulai kuat, sebab air tersedia dan korma pun sedia. Maka setelah merasa dirinya segar dan kuat, didukungnyalah anak itu dan dia kembali ke tempat asalnya di Baitul Maqdis itu.

Sudah pasti bahwa kedatangan Maryam, yang selama ini dikenal gadis berbudi. perawan atau anak dara suci, mendukung seorang anak kecil adalah mendatangkan heboh besar. Anak siapa yang digendongnya ini. Anak siapa yang disusukannya ini. Siapa agaknya yang telah mencidrai kegadisannya. Niscaya tidaklah dapat ditutup hal itu, kian lama kian membuat heboh:

قالُوا يا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئاً فَرِيًّا"Lalu berkatalah mereka: Ya Maryam! Sesungguhnya kau telah berbuat sesuatu yang hebat. " (ujung ayat 27).

Sesungguhnya kau telah berbuat suatu perbuatan yang hebat, ngeri dan dahsyat sekali. Karena selama ini engkau dikenal shalih, kuat memegang ajaran agama. Tiba-tiba sekarang engkau datang mendukung seorang anak yang tidak terang siapa ayahnya!

يا أُخْتَ هارُونَ َ"Hai saudara perempuan Harun!" (pangkal ayat 28).
Di pangkal ayat ini Maryam dipanggilkan dengan sebutan "Hai saudara perempuan dari Harun!" Sudah terang bahwa Harun yang dimaksudkan di sini bukanlah Nabi dan Rasul Harun, saudara daripada Nabi Musa. Sebab jarak di antara Musa dengan Isa itu terlalu jauh sekali. Menurut setengah riwayat, jarak itu tidak kurang dari 600 tahun.

Di dalam Hadits Shahih Muslim ada diriwayatkan. bahwa seketika sahabat Rasulullah s.a.w. yang bernama Mughirah bin Syu'bah pergi ke negeri Najrari, yang menjadi pusat kegiatan kaum Nasrani (Kristen) di sebelah Selatan Tanah Arab di waktu itu,. adalah orang-orang Nasrani itu menanyakan kepadanya: "Bagaimana kalian orang Islam! Kalian membaca dalam al-Quran kalian "Ya ukhta Harun!" (Hai saudara perempuan Harun), padahal jarak Maryam dengan Harun itu sudah terlalu jauh." Kata Mughirah selanjutnya: "Setelah kembali ke Madinah aku tanyakan soal itu kepada Rasulullah. Lalu beliau jawab: "Mereka suka mengambil nama mereka dari nama Nabi-nabi mereka dan orang-orang yang shalih sebelum mereka."

Tafsiran yang diberikan Nabi s.a.w. kepada Mughirah bin Syu'bah ini sudah cukup, melebihi daripada berbagai tafsiran yang lain. Turun-temurun pemeluk-pemeluk agama yang shalih, baik dalam Yahudi atau dalam Nasrani atau dalam Islam, suka mengambil nama Nabi-nabi atau nama orang-orang shalih untuk nama anaknya. Ingat saja nama ayah daripada Maryam ibu Isa ini. Nama ayahnya pun Imran, senama dengan ayah Nabi Musa dan Nabi Harun. Saudaranya pun bernama Harun! Dan Nabi Harun memang Nabi yang terkenal lemah-lembut. Bahkan sampai kepada zaman kemudian, beratus-ratus dan beribu-ribu tahun di belakang orang suka memakai nama Nabi-nabi untuk nama anaknya.

Menurut penafsiran daripada Qatadah di zaman itu ada seorang Abid dan Shalih, yang telah mengurbankan segenap hidupnya untuk beribadat kepada Allah dan berkhidmat di dalam mesjid tempat sembahyang; namanya Harun. Maka oleh karena Maryam pun dari kecilnya telah diberikan ibunya kepada mesjid untuk berkhidmat, sehingga samalah keadaannya dengan Abid yang bernama Harun itu, maka orang pun terbiasalah menyebut Manyam dengan "Saudara dari Harun". Maka dengan menyebut panggilan itu terlebih dahulu terkandunglah maksud memperingatkan kepada Manyam, bahwa orang yang semacam dia ini. yang selama ini dikenal shalih dan abid sebagai Harun itu, tidaklah layak akan terjadi seperti ini. Apatah lagi:

ما كانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ"Bukanlah ayahmu seorang yang jahat. "
Semua orang pun kenal akan ayahnya. seorang baik-baik. tidaklah ayahnya itu terkenal jahat. suka berlaku jahat kepada perempuan mana saja pun, atau berhubungan di luar nikah.

وَما كانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا "Dan bukan pula ibumu seorang perempuan yang nakal." (ujung ayat 28).

Baghiyya kita terjemahkan dengan "perempuan nakal" yaitu perempuan lacur, yang disebut orang di zaman tafsir ini disusun "perempuan tunasusila", yang berarti kekosongan budi, yang telah memperdagangkan kehormatannya. Maka ibumu hai Manyam tidaklah dikenal termasuk golongan perempuan demikian. Sebab itu hal seperti ini beranak padahal tidak ada suami. tidaklah pantas terjadi pada dirimu.

Di dalam Surat ali Imran kita pun telah tahu siapa "Imra atau Imrana", isteri Imran. ibu Manyam. Dialah yang telah bernazar kalau dia beroleh putera akan diserahkannya menjadi penjaga Baitul Maqdis. Kebetulan yang lahir bukan anak laki-laki, melainkan anak perempuan, namun nazarnya itu dipenuhi juga, sehingga Manyam diasuh sejak kecilnya oleh Zakariya dalam rumah suci itu. Nama ibu Manyam itu ialah Hannah atau Anna.

Itulah yang mereka desakkan kepada Manyam, apa sebab sampai terjadi hal semacam ini. Padahal Maryam dari keluarga baik-baik. Nabi Zakariya adalah suami dari kakak ibunya, dan ibunya pun seorang yang shalih, dan dia sendiri, Maryam dididik oleh seorang yang shalih pula!

Dia tidak bisa menjawab dan tidaklah ada faedahnya jika dia sendiri yang menjawab. Lebih baik dia berdiam diri disertai puasa.

فَأَشارَتْ إِلَيْهَِ"Maka ber-isyaratlah dia kepadanya." (pangkal ayat 29).
Artinya, bahwa setelah didesak dengan bermacam-macam pertanyaan itu. sesuai dengan wahyu yang dia terima, Maryam pun mengisyaratkan tangannya kepada anak yang sedang didukungnya itu, yang berarti: "Tanyakan sajalah kepadanya!"

قالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا "Mereka pun berkata: "Bagaimana kami akan dapat bercakap dengan seorang yang masih dalam buaian, masih bayi?" (ujung ayat 29).

Yang tidak tidak saja! Mana boleh dia akan dapat, menjawab pertanyaan kami? Anak kecil belum dapat bertutur? Tiba-tiba:

قالََ"Dia berkata," (pangkal ayat 30).
Isa Almasih yang dalam buaian, dalam gendongan atau ayunan itu sendiri berkata:

إِنِّي عَبْدُ اللهِ"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah!"
Niscaya terkejutlah orang orang itu semuanya mendengar sendiri anak yang masih dalam ayunan itu telah bercakap-cakap dengan bahasa yang fasih. Al-Qurthubi menyalinkan dalam tafsirnya bahwa setelah Isa mendengar mereka berkata demikian, manakan bisa anak-anak dalam ayunan akan dapat kami ajak bercakap-cakap, tiba-tiba Isa Almasih yang masih menyusu melepas kan mulutnya dari susu ibunya, lalu diangkatnya telunjuknya yang kanan dan berkata: "Aku ini adalah hamba Allah!"

Maka percakapannya yang pertama ialah pengakuan bahwa dirinya adalah hamba Allah, mengakui memperhambakan diri kepada Tuhan , sebagai juga makhluk makhluk yang lain. Lalu diteruskannya perkataannya:

آتانِيَ الْكِتابَ"Dia telah memberikan al-kitab kepadaku." 
Meskipun dia masih sekecil itu, rupanya sudah disampaikan dengan perantaraan lidahnya, bahwa untuknya telah disediakan sebuah kitab tuntunan bagi seluruh isi Alam ini, yaitu kitab Injil. Lalu sambungnya pula:

وَ جَعَلَني‏ نَبِيًّا "Dan Dia telah menjadikan daku seorang Nabi." (ujung ayat 30).

Dan katanya selanjutnya:

وَ جَعَلَني‏ مُبارَكاً أَيْنَ ما كُنْتُ"Dan Dia telah menjadikan daku seorang yang diberi bahagia di mana saja aku berada." (pangkal ayat 31).

Artinya, bahwasanya di mana saja aku berada kelak dan ke mana saja aku pergi, Tuhan akan selalu menganugerahkan kebahagiaan bagiku dan bagi orang-orang yang percaya akan seruanku; sebab aku adalah Nabi, pembawa petunjuk dari Tuhan.

وَ أَوْصاني‏ بِالصَّلاةِ وَ الزَّكاةِ ما دُمْتُ حَيًّا "Dan Dia telah mewajibkan daku hersembahyang dan berzakat selama aku hidup." (ujung ayat 31).

Bersembahyang menyembah Allah dan berzakat, yaitu membersihkan hartabendaku daripada perangai bakhil, melainkan hendaklah bersikap murah tangan murah hati kepada sesama manusia: "Selama aku hidup", aku mesti menegakkan ajaran yang demikian.

وَ بَرًّا بِوالِدَتي‏َ"Dan Dia jadikan daku berbakti kepada ibuku." (pangkal ayat 32).

Yakni ibu yang telah melahirkan daku. Ibu yang telah banyak menderita lantaran kelahiranku yang luar biasa ini. Ibu yang shalih. Sebagai seorang putera aku akan tetap berbakti kepadanya, dan itulah salah satu ajaran yang wajib aku pegang.

وَلَمْ يَجْعَلْني‏ جَبَّاراً شَقِيًّا "Dan Dia tidaklah menjadikan daku seorang yang sombong, seorang yang celaka " (ujung ayat 32).

Artinya bahwa aku akan menyampaikan semuanya ini, sebagai seorang Nabi yang membawa sebuah kitab suci dengan sikap lemah-lembut, bukan sombong, bukan celaka, bukan durjana, bukan memaksakan faham dengan kekerasan.

وَ السَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ'Maka keselamatanlah atas dinku dihari aku dilahirkan." (pangkal ayat 33).
Janganlah sampai kekurangan suatu apa hendaknya, karena lahirku ganjil, lain dari yang lain.

وَ يَوْمَ أَمُوتُ "Dan di hari aku mati,"  kelak jangan sampai menjadi fitnah.

وَ يَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا "Dan di han aku akan dibangkitkan hidup kembali." (ujung ayat 33).
Yaitu di hari akhirat kelak. Karena tiap-tiap makhluk Allah akan dihidupkan kembali, kehidupan yang kekal di hari kiamat. Sedangkan kiamat itu sendiri artinya ialah bangun. Maka Nabi Isa Almasih memohonkan kepada Tuhan agar dia selamat dalam tiga pergantian hidup itu:

(1) di hari dia mulai terbuka mata menghadapi hidup di dunia.
(2) di alam kubur selepas maut, yang dinamai juga Alam Barzakh
(3) di hari kiamat seketika dibangkitkan kembali.

Sekianlah perkataan Isa Almasih yang masih dalam buaian ibunya itu. Sesudah selesai bercakap itu dia pun menyusu, kembali seperti biasa anak kecil. Demikian menurut riwayat dari al-Kalbi.

Dalam hal ini terdapat juga perselisihan penafsiran di antara ahli-ahli tafsir. Ada yang mengatakan bahwa dia bercakap demikian ialah sesudah dia besar. Kata mereka tidaklah mungkin di masa kecilnya itu dia bercakap mengatakan dia menjadi Nabi diutus Tuhan. Kata mereka, manakan tahu anak kecil bahwa dia diutus Allah menjadi Rasul.

Tetapi dalam sebuah Hadits yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, ada tersebut bahwa Rasulullah ada menjelaskan bahwa anak kecil yang masih dalam buaian yang ditakdirkan Allah dapat bercakap itu hanya tiga orang. satu di antaranya ialah Saiyidina Isa Almasih.

ذلِكَ عيسَى ابْنُ مَرْيَمََ"Itulah dia Isa anak Maryam. " (pangkal ayat 34).
Demikianlah kelahirannya ke dunia, tidak lebih tidak kurang. Allah mentakdirkan kelahirannya demikian. Dihantarkan guliga dirinya oleh malaikat, kepada ibunya, perawan yang suci, yang dipuji Tuhan keshalihannya dan dibersihkan Tuhan pendidikannya.

قَوْلَ الْحَقِّ "Perkataan yang benar,"
dan yang selainnya adalah khayalan manusia yang payah buat dipertanggungjawabkan.

Maka tidaklah benar kalau dikatakan bahwa Adam dan Hawa berdosa karena memakan buah kayu yang terlarang. Lalu Allah "bingung" bagaimana akan menghukum Adam yang telah berdosa itu. Akan dihukum, padahal Allah bersifat Kasih dan Sayang. Akan dibiarkan saja, padahal Allah bersifat adil, pasti menghukum yang bersalah. Setelah beribu tahun kebingungan, lalu Allah mendapat "jalan keluar"; lalu Dia sendiri memutuskan datang ke dunia, men­jelma ke dalam diri Maryam Perawan Suci, bermukim di sana 9 bulan, lalu lahir; maka itu putera sulung Allah! Itu adalah khayalan, dan tidaklah benar!
الَّذي فيهِ يَمْتَرُونَ "Yang hal-ihwal itu telah mereka perselisihkan." (ujung ayat 34).

Mereka berselisih; ada yang mengatakan bahwa Isa Almasih itu adalah satu dari tiga oknurn yang berpadu, yang menjadi satu sama dengan tiga dan tiga sama dengan satu. Itulah Tuhan Bapa, yaitu Allah. Tuhan Putera, yaitu Almasih dan Tuhan Roh Suci. Setengah di antara mereka mengatakan Yesus itu adalah mempunyai dua tabiat; Lahut (Ketuhanan) dan Nasut (Kemanusiaan).

Perselisihan yang lebih hebat lagi ialah bahwa orang Yahudi tidak mau mengakui kenabiannya, malahan ada yang tidak mempercayai kekuasaan Tuhan menciptakan Isa Almasih lahir ke dunia menurut jalan yang di luar dari biasa, lalu dikatakan nya Almasih itu anak yang lahir karena perzinaan. Ada pula yang menuduhnya seorang pandai sihir. Ada pula yang mengata kan bahwa Isa Almasih itu adalah putera dari Yusuf. Tukang Kayu, yang setelah Almasih lahir kawin dengan Maryam.

Menurut riwayat pula dari Abdurrazzaq, yang diterimanya dari Ma'mar, dari Qatadah; adalah empat macam perselisihan mereka itu tentang Isa Almasih.

Satu golongan mengatakan; Isa itulah Allah, turun ke bumi, meng­hidupkan yang hidup mematikan yang mati, kemudian dia pun naik kembali ke langit. Inilah pegangan dari kaum Ya'qubiyah (Jacobin).

Yang kedua berkata: "Dia itu adalah anak Allah." Inilah kepercayaan kaum Nastouriyah.
Yang ketiga: "Isa itu adalah yang ketiga dari yang bertiga. Dia Allah, dia anak Allah dan dia Ruhul-Qudus."
Ada juga yang mempercayai bahwa Oknum yang ketiga itu ialah ibunya, Maryam!

Tetapi yang dijadikan keputusan atas kehendak Kaisar Costantin di Rapat (consili) di Nicea ialah "trinitas"; Allah Bapa. Allah Putera dan Allah Ruhul-Qudus, yang satu di dalam tiga dan tiga di dalam satu. Satu hal yang jadi bukti bahwa kitab Injil yang ada sekarang bukan lagi yang turun kepada Isa Almasih, dan yang ditulis oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohannes itu bukan wahyu, ialah tidak terdapatnya pada keempat kitab itu tentang Nabi Isa Almasih bercakap-cakap membersihkan ibunya daripada tuduhan-tuduhan yang bukan-bukan itu, dan pengakuan bahwa dia akan menjadi Nabi dan mendapat kiriman Kitab (Injil) dari Tuhan.

Keterangan yang jelas ini hanva ada dalam al-Qur'an. Itulah sebabnya maka sekalian Orientalis yang mengadakan "studi" terhadap Islam, tidak ada memberi komentar tentang berita yang penting ini.
Tafsir Suroh Maryam ayat 35 - 40         
                                                                   

 ما كانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحانَهُ إِذا قَضى‏ أَمْراً فَإِنَّما يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ َ(35) Tidaklah layak bagi Allah mern­punyai anak. Maha Suci Dia! Apabila Dia menetapkan suatu perkara, Dia hanya berkata: Jadilah! Maka dia pun terjadi.

وَ إِنَّ اللهَ رَبِّي وَ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هذا صِراطٌ مُسْتَقيمٌ َDan sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia; inilah jalan yang lurus!

فَاخْتَلَفَ الْأَحْزابُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِلَّذينَ كَفَرُوا مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظيمٍ َ( 37) Maka berselisihlah golongan-golongan itu diantara mereka , maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir dari persaksian hari yang hebat itu kelak .

أَسْمِعْ بِهِمْ وَ أَبْصِرْ يَوْمَ يَأْتُونَنا لكِنِ الظَّالِمُونَ الْيَوْمَ في‏ ضَلالٍ مُبينٍ (38)Alangkah terang mereka men­dengar dan melihat, pada hari mereka akan datang kepada Kami itu. Namun orang orang yang aniaya pada hari sekarang pun, di dalam kesesatan yang nyata

وَ أَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَ هُمْ في‏ غَفْلَةٍ وَ هُمْ لا يُؤْمِنُونَ ( 39) Dan ancamkanlah kepada mereka hari penyesalan itu, ketika telah diputuskan perkara. Karena mereka lalai dan mereka tidak beriman

إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْها وَ إِلَيْنا يُرْجَعُونَ َ(40) sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumf dan siapa pun yang ada di atasnya: dan kepada Kamilah mereka akan dikembali­kan.

Allah Yang Tunggal
ما كانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ َ"Tidaklah layak bagi Allah mempunyai anak." (pangkal ayat 35).
Artinya, kalau kita berfikir dengan fikiran yang teratur dan memakai akal yang sihat, tidaklah layak dan tidaklah akan terupa pada akal itu bahwa Allah akan ada anakNya.
سُبْحانَهُ "Maha Suci Dia."
Bersihlah kiranya Allah daripada apa yang dikira-­kirakan oleh akal yang kacau itu. Allah Yang Maha Kuasa, Yang Awwal tidak ada permulaan . Yang Akhir tidak berkesudahan. bersihlah daripada kemungkinan beranak. Karena "anak" adalah keturunan! Dan yang perlu kepada ke­turunan itu ialah manusia atau binatang bernyawa yang lain, yang hidupnya terbatas; lahir ke dunia, lalu kemudiannya mati! Dia cemas akan meninggal dunia padahal keturunan tidak ada. Sedang Allah adalah HIDUP! Hidup terus, yang dahulu daripada segala yang ada, dan tetap ada setelah segala sesuatu musnah kelak. Demikian tinggi dan mutlak kekuasaannya sehingga:
إِذا قَضى‏ أَمْراً فَإِنَّما يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ "Apabila Dia menetapkan suatu perkara, Dia hanya berkata: "Jadilah!" Maka dia pun terjadi." (ujung ayat 35).

Allah yang demikian besar dan agung kekuasaannya , yang dengan satu ucapan saja menyuruh terjadi. sesuatu pun terjadi. apa perlunya mempunyai anak? Apakah orang yang menyangka bahwa Allah itu telah tua, dan dia tidak sekuasa dahulu lagi untuk menyuruhkan sesuatu terjadi, sehingga sesuatu itu tidak terjadi. Lalu perlu anaknya yang masih segar buat melanjutkan atau menyambung kekuasaan itu?
Kejadian Isa Almasih itu pun demikianlah halnya. Allah memerintahkan supaya Isa Almasih terjadi dalam kandungan Maryam , dengan tidak melalui yang terbiasa, yaitu percampuran mani laki-laki dengan mani perempuan. Allah perintahkan supaya dia terjadi dalam kandungan, maka dia pun terjadi­lah, menjadi manusia yang lengkap.Di dalam Surat 3, ali Imran ayat 59 (lihat Juzu' 3) pun sudah dijelaskan, bahwasanya perumpamaan kejadian Isa itu di sisi Allah sama saja dengan kejadian Adam; sama Dia jadikan dari tanah, kemudian Dia berkata: "Jadilah!", maka dia pun terjadi.
Kemudian datanglah ayat 36 yang berbunyi:

وَ إِنَّ اللهَ رَبِّي وَ رَبُّكُمْ َ"Dan sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kamu." (pangkal ayat 36).
Ayat ini adalah men­ceriterakan ucapan daripada Isa Almasih kembali. Apakah ucapan ini memang sambungan dari ucapan beliau seketika masih dalam ayunan itu, atau ucapan beliau yang seterusnya kemudian hari , dalam rangka perjuangan beliau me­ngajak Ummat manusia kepada Tauhid tidaklah penting kita ketahui. Karena memang seruan sekalian Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah itu memang demi­kian, yaitu menyeru manusia agar menyembah, berbakti dan beribadat kepada Allah belaka:
"فَاعْبُدُوهُ " Maka sembahlah Dia , "  memperhambakan diri kepadanya sahaja, tidak mempersekutukan Dia dengan yang lain :  هذا صِراطٌ مُسْتَقيمٌ   "Inilah jalan yang lurus." (ujung ayat 36).
Inilah jalan yang lurus, karena jalan itu hanya satu. Inilah yang sesuai dengan akal yang sihat. Kalau hendak menuju titik yang satu, jalannya dari pangkal, yang cepat sampai ialah satu pula. Garis paralel (dua sejajar) tidaklah sampai kepada titik yang satu. Maka barangsiapa yang menempuh satu jalan, menuju kepada satu titik, akan sampailah dia dengan selamat kepada yang dituju. Tetapi barangsiapa yang bercabang fikiran sejak semula, sampai kepada akhir perjalanan pun akan tetap bersimpang-siur. Sebagaimana pepatah yang terkenal dari orang Melayu: "Kayu yang berjupang tidak dapat ditancapkan ke bumi".

فَاخْتَلَفَ الْأَحْزابُ مِنْ بَيْنِهِمَْ  "Maka berselisihlah golongan-golongan itu di antara mereka." (pangkal ayat 37).
Berbagailah perselisihan ahlul-kitab tentang kelahiran Nabi Isa itu, sejak dahulu sampai sekarang. Sampai sebagai telah kita sebutkan di atas tadi Raja negero Romawi, Kaisar Costantin mengumpulkan pendeta-pendeta yang disuruh musyawarat bersama-sama, yang banyaknya sampai 2170. Macam-­macamlah pendapat yang keluar; segolongan berkata bahwa di antara Allah dengan Almasih seibarat persatuan api dengan besi seketika sudah sangat panas. Sebahagian berkata bahwa di antara Allah bersatu dengan Almasih laksana lautan dengan ombak, 100 berkata lain, 70 berkata lain pula. 50 ber­beda pula dengan yang 100 dan dengan yang 70, dan yang 160 lain pula. Akhirnya terdapatlah yang sefaham hanya 300 orang, ditambah dengan 8 orang yang mula-mulanya ragu-ragu .
Dan Kaisar Costantin mendengarkan mereka itu berbincang dengan sangat hati-hati. Sedang baginda adalah se­orang raja yang masih melekat dalam dirinya faham agama orang Romawi Kuno, dan banyak terpengaruh oleh filsafat. Lalu akhirnya mengambil pen­dirian yang condong kepada yang 300 itu, yaitu bahwa "Tuhan" itu terdiri dari tiga oknum; "Allah Bapa, Allah Putera (itulah Isa Almasih) dan Allah Ruhul-Qudus", yang kadang-kadang merupakan dirinya sebagai burung merpati. Tiga oknum itu, meskipun tiga hendakiah dipercayai bahwa dia itu sebenarnya adalah satu jua.

Diputuskanlah yang demikian dengan kehendak raja, menjadi
 DEKRIT  !
Lalu dikeluarkanlah peraturan, diperbuat berbagai undang-undang dan beberapa ketentuan untuk melindungi kepercayaan yang telah diputuskan itu. Penganutnya yang 300 orang mendapat perlindungan Raja, yang lainnya diusir atau dikucilkan, artinya bahwa keputusan kerajaan menentukan bahwa orang yang melanggar keputusan itu keluar dari lingkungan Kristen. Maka tidaklah boleh yang lain lagi berpendirian lain daripada pendirian yang telah diputuskan oleh Kaisar tersebut.

Maka seluruh negeri Syam (Mosopotami), Asia Kecil dan negeri-negeri orang Rum ikutlah kepada ajaran yang diputuskan itu. Di zaman Kaisar tersebut berdirilah tidak kurang daripada 12,000 gereja. Dan Ibu dari Kaisar Costantin sendiri, Ratu Helena mendirikan sebuah tempat pemujaan di puncak Golgota, bukit tempat Nabi Isa Almasih hendak disalib orang Yahudi atas izin dari Kerajaan Romawi itu. Penyaliban Nabi Isa itulah yang dijadikan pokok asasi kepercayaan Kristen, yang kata mereka ialah karena hendak menebus dosa seluruh manusia, yang dipusakai oleh manusia dari nenek-moyangnya Adam, yang berdosa karena memakan buah yang terlarang itu !

Padahal tidaklah Isa Almasih meninggal di atas kayu palang (salib), tidaklah beliau mati dalam ke­hinaan, melainkan diangkatkan Allah derajat beliau lebih tinggi.
Sampai kepada zaman modern kita ini perselisihan segala golongan Kristen tentang kepercayaan kepada Isa Almasih itu bukanlah berkurang dari mereda, bahkan bertambah centang-parenang, kucar-kacir. Masing-masing gereja lain kepercayaannya dan lain cara pemujaannya. Ada Orthodox dan ada Katholik Roma, dan ada pula Katholik Yunani; semuanya dihitung sebagai Orde yang lama. Dan ada pula Protestant, pelawan dan penantang kuasa Paus Katholik dan menegakkan gereja sendiri. Sedang mereka ini pun terbagilah kepada tidak kurang daripada 200 macam gereja dan sekte.

فَوَيْلٌ لِلَّذينَ كَفَرُوا مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظيمٍ  "Maka kecelakaanlah bagi orang orang yang kafir dan persaksian hari yang hebat itu kelak." (ujung ayat 37).
Ujung ayat ini membayangkan bahwa akan datanglah sesuatu zaman, bahwa kebenaran dari pokok kepercayaan ini akan diuji oleh pergantian masa. Kian lama kian naiklah kecerdasan manusia , maka kian lama kian hilanglah pamor dari kepercayaan yang tidak masuk akal itu. Sehingga banyaklah orang yang melawan dan menantangnya. Banyaklah orang yang membelakangi agama, karena menyangka bahwa ajaran agama tidak lain daripada ajaran yang bodoh tak masuk akal. Lebih-lebih dalam abad keduapuluh ini, sehingga di Eropa dan Amerika sendiri kian mundurlah perhatian orang kepada agama seperti itu, bahkan orang lebih suka hidup dalam kesesatan karena muak dan bosan. Maka kelihatanlah peradaban dunia sekarang ini telah terlepas sama­sekali kendalinya dari tangan agama yang selama ini disangka jadi anutan dari bangsa-bangsa itu, padahal telah lama mereka belakangi.
Dan di akhirat kelak akan diperhitungkanlah ajaran yang samasekali bukan berasal dari Allah dan bukan dari ajaran Isa Almasih itu di hadapan Tuhan, sebagaimana tersebut di akhir Surat 5, al-Maidah, ayat 116 sampai 120. (Tafsir Juzu' 7).
Maka tersebutlah dalam sebuah Hadis yang Shahih, diterima riwayatnya daripada Sahabat Rasulullah s.a.w. yang bernama `Ubbadah bin Shamit, di­sampaikan oleh Bukhari dan Muslim (Muttafaq `alaihi) demikian bunyinya:

"Barangsiapa yang naik saksi bahwa "Tidak ada suatu Tuhan pun melain­kan Allah, yang berdiri sendinNya dan tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusanNya dan kalimatNya yang didatangkanNya kepada Maryarn, dan Roh daripadaNya, dan bahwa syurga itu adalah benar dan neraka pun adalah benar" akan dimasukkan dia oleh Allah ke syurga dengan amal yang ada padanya. 

أَسْمِعْ بِهِمْ وَ أَبْصِرْ يَوْمَ يَأْتُونَنا"Alangkah terang mereka mendengar dan melihat. pada hari mereka akan datang kepada Kami itu.(pangkal ayat 38)
Artinya, bahwasanya pada hari mereka datang menghadap ke hadapan Mahkamah Agung ilahi itu pen­dengaran mereka menjadi sangat nyaring dan penglihatan mereka menjadi sangatlah terang: sehingga bunyi detik sedikit halus pun kedengaran dan barang yang kecil tersembunyi pun nampak dengan jelas. Sebagaimana ter­sebut juga pada ayat 22 dari Surat 50, Qaaf. bahwasanya meskipun di kala hidup di dunia semua dipandang enteng dan diremehkan belaka, dipandang perkara kecil, namun kelak akan datang masanya di hadapan Mahkamah Ilahi, segala penghalang penglihatan itu akan dibukakan oleh Tuhan, sehingga peng­lihatan mata itu jadi sangat tajam. Maka kelihatanlah segala kesalahan masa lampau sampai kepada yang sekecil kecilnya. Artinya bahwa berfikir menjadi sihat! Yang salah, terang salah! Yang benar, terang benar. Tetapi apalah hendak dikata, keadaan tidak dapat dibalikkan ke belakang lagi.
لكِنِ الظَّالِمُونَ الْيَوْمَ في‏ ضَلالٍ مُبينٍ "Namun orang-orang yang aniaya pada hari sekarang pun, di dalam kesesatan yang nyata." (ujung ayat 38).

Arti lengkap dari ayat ini ialah bahwa mereka akan tahu sendiri kelak, sebab pendengaran tidak akan ada yang menutup lagi dan penglihatan tidak ada yang menghambat, bahwa pendirian mereka tidaklah benar! Tidaklah masuk dalam akal yang waras dan fikiran yang teratur, yang bebas daripada pengaruh kepercayaan turunan, bahwa Allah itu beranak. Tidaklah tersem­bunyi bagi pendengaran dan penglihatan, bahwa mustahil Allah itu beranak. Tetapi pada masa sekarang, di atas dunia ini, kepercayaan yang salah itu, yang berlawan dengan fikiran mereka yang sihat. sebab itu sama artinya dengan mendustai diri sendiri. sama artinya dengan aniaya, mereka pertahankan juga kepercayaan yang salah itu. Malahan di zaman sekarang ini mereka hamburkan uangg berjuta-juta dolar dan mengunjungi seluruh dunia yang telah beragama , menipu ataupun membujuk, bahkan tidak kurang dengan kekerasan senjata, agar orang turut pula mengatur kepercayaan yang nyata sesatnya itu.

وَ أَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ"Dan ancamkanlah kepada mereka hari penyesalan itu." (pangkal ayat 39).
Lebih baiklah engkau beri peringatan dari sekarang, ya utusanKu, demikian sabda Allah kepada utusanNya, Muhammad s.a.w. bahwa akan datang masa­nya kelak mereka akan menyesal, pada hari yang penyesalan tidak ada gunanya lagi:
إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ "Ketika telah diputuskan perkara."
Menurut suatu riwayat dari Abdullah bin Mas'ud, sebenarnya bagi setiap orang yang mendurhakai Allah dan kufur itu, sudah disediakan rumah buat mereka dalam syurga.
Tetapi karena kedurhakaan kepada Tuhan, rumah itu tak sempat mereka diami, karena mereka dimasukkan ke dalam neraka. Alangkah menyesal! Maka se­telah perkara diputuskan bahwa orang itu akan dimasukkan ke dalam neraka, bahwasanya rumah telah disediakan buat dia di syurga itu diterangkan juga kepadanya. Apa sebabnya jadi demikian? Ujung ayat mengatakan:
وَ هُمْ في‏ غَفْلَةٍ وَ هُمْ لا يُؤْمِنُونَ "Karena mereka lalai dan mereka tidak beriman." (ujung ayat 39). Selama di dunia ini.

Maka tersebutlah di dalam beberapa Hadits yang shahih , ada yang dirawi­kan oleh Bukhari dan Muslim dan ada pula yang dirawikan oleh Imam Ahmad bahwa setelah ahli syurga dimasukkan ke dalam syurga dan ahli neraka ke dalam neraka dibawalah ke tengah-tengah makhluk Allah yang bernama maut, menyerupai seekor domba besar muda, lalu ditegakkan ke tengah-tengah di antara syurga dan neraka itu, sehingga melihatlah sekalian mata kepadanya, baik yang dalam syurga ataupun yang dalam neraka. Lalu ditanyai kepada penduduk syurga: "Kenalkah kalian siapa dan apa ini?" Semuanya mengangkat kepala dan melihat dan semuanya pun tahulah ; itulah el-maut. Ditanyai pula penduduk neraka. Mereka pun mengangkat kepala bersama dan menengok dan semuanya pun menjawab bahwa itu el-maut. Maka el-maul itu pun di­sembelih. Lalu disabdakan kepada penduduk syurga: "Kekallah kalian dalam syurga dan maul tidak ada lagi!" Dan kepada penduduk neraka pun dikatakan: "Kekallah kalian di dalamnya, dan maut tidak ada lagi."

Lalu Rasulullah mem­baca ayat 39 ini: "Dan ancamkanlah kepada mereka hari penyesalan itu, ketika telah diputuskan perkara, karena mereka lalai dan mereka tidak beriman!"
Lalu Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya menyambung bicaranya: "Ahli dunia telah dilalaikan oleh dunianya."

Tersebutlah pula dalam suatu tafsiran dari Ibnu Abbas yang selalu diulang-­ulangkan kepada kami seketika mentafsirkan ayat ini, oleh guru kami Syaikh Abdulkarim Amrullah bahwa di hari penyesalan itu bukan saja orang yang ber­buat kebajikan yang merasa menyesal. Bahkan orang yang berbuat baik pun merasa menyesal, melihat betapa besar ganjaran dan pahala yang diberikan Tuhan! Dia menyesali diri mengapa hanya sekian saja yang dikerjakannya, padahal kalau dia mau, dia sedianya sanggup berbuat baik lebih banyak dari itu. Kemudian, sebagai penutup dari bahagian ini, bersabdalah Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهاَ"Sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi dan siapa pun yang ada di atasnya." (pangkal ayat 40).

Amatlah dalam pangkal ayat ini untuk kita perhatikan. Sudah nyata bahwa seluruh Alam ini Allah yang punya, Dia yang Kuasa, dan bumi tempat kita hidup itu termasuk satu di antaranya yang dikuasai muthlak oleh Tuhan itu. Maka bersabdalah Tuhan, sebagai tersebut di dalam Surat 2 al-Baqarah ayat 29: "Dialah yang telah menjadikan untuk kamu apa saja yang ada di bumi ini semua."

Maka bolehlah kita ambil faedah sekuat tenaga kita daripada bumi dan segala isi yang ada padanya itu. Bekerjalah, berusahalah. Maka di dalam ayat ini diperingatkanlah bahwa semua yang bernyawa di muka bumi ini akan mati, dan segala harta yang bekas diambil faedahnya itu "kembali" kepada yang empunya semula dan yang empunya sejati. Kita hanya dapat mengambil faedahnya saja. Tidak ada yang dapat kita punyai sendiri, bahkan diri kita sendiri pun dan nyawa kita sendiri pun.

Dikatakan dalam ayat ini dengan tegas bahwa bumi itu diwariskan kembali kepada Allah, dan "siapa yang ada di atasnya" pun diwariskan kepadaNya jua. Sehingga anak kandung kita, ayah kandung kita, segala keluarga yang bertali darah dengan kita, jika kita meninggalkan dunia ini, tetaplah Allah yang me­warisinya kembali. Di ujung ayat dipertegas:

وَ إِلَيْنا يُرْجَعُونَ "Dan kepada Kamilah mereka akan dikembalikan." (ujung ayat 40).

"Kembali!" Itulah hal yang sebenarnya. Kembali ialah kepada pangkalan yang semula. Sejauh-jauh berjalan, namun akhirnya kembali ke sana juga. Dari Allah kita datang, dengan kehendak Allah kita datang ke dunia ini , dengan perlindungan dan jaminan Allah kita diberi kesempatan hidup di sini , maka kita meneruskan perjalanan, sampai berhenti di akhir hidup, yang bernama maut. Maka kembalilah kita kepadaNya .

Asal kita mengingat keadaan yang sebenarnya , manakan terasa canggung dalam hidup? Asal jiwa kita dilepaskan dari penipuan diri kita sendiri, yang menyangka kuasa padahal kuasa pinjaman. Menyangka kaya, padahal kaya karena belas-kasihan sementara dari Tuhan , tidaklah akan sampai tersesat kita dalam perjalanan hidup ini.

Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya "Dalam ayat ini Tuhan Allah menyata­kan bahwa Dialah sahaja Pencipta dan Penguasa dan Yang Berhak penuh ber­tasharruf, berbuat sekehendak hati atas alam ini. Dan bahwa makhluk ini seluruhnya akan musnah; dan yang kekal dan suci sendirinya hanya Dia! Tidak­lah seorang pun makhluk insani ini yang berhak mengatakan kuasa di sini atau bertasharruf, berbuat sekehendak hati. Bahkan Allah yang mewarisi ini semua­nya, yang kekal sesudahnya dan yang kuasa atasnya. Sebab itu tidaklah seorang jua pun yang teraniaya di sini, baik setimbangan sayap nyamuk atau seberat zarrah (Atom).
Berkata Ibnu Abi Hatim, bahwa Hadbah bin Khalid al-Qisi, menyebutkan, bahwa dia menerima berita dari Hazm bin Abu Hazm al-Qath'i. Dia ini berkata:
"Berkirim suratlah Umar bin Abdul Aziz kepada Abdulhamid bin Abdurrahman, Walinya di negeri Kaufah, demikian di antara isinya; "Amma Ba'du. Sesungguhnya Allah telah menuliskan untuk seluruh makhlukNya ini seketika mereka Dia ciptakan, bahwa mereka mesti mati. Maka Dia pun menjadikan akhir perjalanan hidup mereka ialah penuju Dia. Dan Dia bersabda di dalam kitabNya Yang Benar, yang dipeliharaNya dalam ilmuNya dan disaksikan oleh malaikat-malaikatNya: "Sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi dan siapa pun yang ada di dalamnya, dan kepada Kamilah mereka akan dikembalikan ." 
Maka bilamana telah kita ingat semuanya ini, bersedia-sedialah kita terus menerima panggilan "pulang kembali" itu dengan perlengkapan yang telah dipesankan kepada kita dengan perantaraan Nabi-nabi dan Rasul-rasul.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Berilah Komentar!!
Trimakasih atas kunjungannnya.

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...