Translate This

->

Thursday, June 21, 2012

Hariyanto Abdul Jalal : Ustazdku Yang Hebat.


Foto Ustaz Hariyanto Abdul Jalal  sekarang yang kelihatan lebih muda dari pada dulu

20 tahun yang lalu, oh kliru tepatnya sudah 24 tahun yang lalu. Nurkholis kecil masuk kelas satu D di Gontor setelah sebelumnya duduk di kelas lebih rendah 1 E. Maklum setiap ada peningkatan nilai , santri akan dimutasi ke tingkat  abjad yang lebih tinggi mulai dari B sampai Z. Namun saya juga belum kunjung mengerti sampai sekarang mengapa  abjad A tidak dipergunakan untuk murid denga nilai terbaik.
Ketika masuk di kelas 1 D, masuklah sosok pria yang ganteng, rambut cepak dengan belahan menyamping kiri kanan tepat di tengah, postur tubuh atletis dan Yup berjas serta berdasi. Beliau memperkenalkan diri se bagai wali kelas yang baru di kelas 1 D beliau adalah : Ustaz Harianto Abdul Jalal dari Konsulat Kediri.
Ilmu yang digembleng wali kelas biasanya bahasa Arab. Sebenarnya pelajaran bahasa Arab itu layaknya kita belajar bahasa  Indonesia atau bahkan bahasa bahasa yang lain di dunia. Namun apapun pelajarannya di Gontor itu tidak ada dikhotomi Islam dan tidak Islam. Semua ilmu adalah sama , tergantung cara kita menyikapinya. Semua berawal di salam "assalamualaikum" kemudian tanggal berapa hijriah dan masehinya dan ketika berakhir, diakhiri dengan doa dan "wassalamualaikum". Jadi Islamisasi dan "nawaitu  tahalabal ilmi" itu lebih penting dari pada materinya itu sendiri. Nampaknya semua itu untuk menumbuhkan kesadaran bahwa ilmu Allah itu luas seluas ayat Nya
A109 `

Ayat inilah yang banyak dihayati oleh ulama-ulama di zaman keemasan Islam, sehingga tidaklah mengherankan bila ada saintis Muslim ahli matematika namun ibadahnya melebihi rahib di malam hari dan daya juangnya membara di atas pelana kuda di siang hari sehingga keluarlah percikan api dari lantakan tapal kaki kuda terhadap kerikil-kerikil dan bebatuan yang terbentang luas di padang pasir untuk berhijrah dari satu negri ke negeri yang lain yang masuk dalam satu daulah Islamiyah pada waktu itu. Ilmu ilmu biologi, kimia, fisika, matematika, geografi, sosiologi , kedokteran, astronomi, pertabiban Islam dan masih banyak lagi yang kesemuanya  itu masuk dalam "kalimaatu robby" yang didalami dan diamalkan tanpa ada perasaan kehilangan pahala karna di akhirat tidak ditanyakan oleh para Malaikat. Pada waktu nyantri pula, para guru di Gontor ketika pelajaran wajib kelar diajarkan sering menyelingi dengan cerita zaman keemasan Islam tersebut terjadi . Pada masa Abbasiah, perpustakaan Darul Hikmah didirikan di Baghdad yang mengoleksi 500 ribu judul yang menandai pergeseran kutub peradaban ilmu dari Persia, India bahkan Yunani menuju ibukota khilafah Islamiyah tersebut .
Saya meragukan perkembangan sain akan semaju dan se'presisi' sekarang ini jika pada abad ke 7-8 Masehi angka Nol tidak ditemukan oleh Abū ʿAbdallāh Muḥammad ibn Mūsā al-Khwārizm atau عَبْدَالله مُحَمَّد بِن مُوسَى اَلْخْوَارِزْمِي‎, mungkin Anda mengira saya melebih lebihkan suatu fakta namun begitulah keadaannya. Angka Nol adalah kunci peradaban yang saat ini kita nikmati. Ibarat sebuah gudang harta karun yang luas, angka nol adalah kuncinya. Jika kunci belum ditemukan maka semua orang akan tetap mencari kuncinya untuk membuka, karna sudah tahu bahwa dalam gudang ada gunung ilmu pengetahuan yang hanya dengannya ia akan memecahkan miliaran kode kode rahasia lainnya  dan bukan hal mustahil jika kunci belum ditemukan sampai sekarang di saat kita hidup maka kita  akan tetap berkutat  dalam ilmu pengetahuan dan peradaban yang maju menurut tafsiran yang ada pada abad ke 10 Masehi di mana fikiran dan ide kemajuan masih dalam batas khurafat dan khayalan atau bahkan cerita pengantar tidur. Khayalan semacam itu begitu membumi di negri Eropa bahkan lebih dahsyat dari pada mistis yang menyelimuti Jawa ketika para wali songo berusaha menyebarkan agama Islam untuk pertama kalinya, klaim saya tentang kemajuan jawa bukanlah tidak beralasan karna Jawa sudah mengalami kemajuan peradaban (versi abad itu) sejak abad ke 7 Masehi ketika Borobudur untuk pertama kali dicanangkan untuk dibangun pada tahun 750 Masehi dan baru selesei pada tahun 825 Masehi. 
Pada saat yang hampir bersamaan di selatan Eropa, yang dipenuhi oleh kaum Muslimin telah memulai membangun fondasi peradaban yang kelak diteruskan oleh Barat setelah kaum Muslimin mengalami kemunduran pada banyak bidang. 
Harianto Abdul Jalal adalah Ustaz salah satu dari banyak guru saya di Gontor yang memompakan spirit keilmuan semacam itu di mana beliau menggambarkan bahwa kata "Alima" ..huruf Ain mencerminkan bahwa sang pencari ilmu hendaknya mempunyai karakter haus sebagaimana huruf ain yang menggangga, Lam, bagi pencari ilmu hendaknya mempunyai budi pekerti yang tinggi menjulang ke angkasa mirip tingginya huruf lam berbanding dengan huruf yang lain dan huruf Mim yang mencerminkan hendaknya sipencari ilmu itu tawadhu meski ilmunya tinggi sehingga  menghunjam ke dasar bumi. Dan jika dipadukan maka akan tersusun makna yang harus dimiliki oleh pencari ilmu adalah kemauan yang keras untuk menggalinya dengan terus menguatkan akhlaqul kariimah yang dibarengi dengan ketawadluan yang mendalam. Mungkin inilah satu satunya yang saya ingat dari pelajaran filsafat yang mampu bertahan selama 24 tahun yang  beliau ajarkan.
Selepas tammat, hampir tidak pernah kontak sama sekali kecuali satu pertemuan namun beliau gagal mengenali saya karna ada perubahan pada rambut saya yang mengalami ke'gundulan' tersebab penyakit syaraf yang menyerang piranti lunak saya tersebut .Besar harapan ,saya , bisa berjumpa dengan beliau di waktu mendatang . Amin.


Nur Kholis Ghufron

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Berilah Komentar!!
Trimakasih atas kunjungannnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...