Translate This

->

Thursday, May 10, 2012

Sebab-Sebab Kehancuran Islam di Spanyol (Suatu Tinjauan Historis)

Sebab-Sebab Kehancuran Islam di Spanyol 
(Suatu Tinjauan Historis) 
Nasrah 
Fakultas Sastra 
Program Studi Bahasa dan Sastra Arab 
Universitas Sumatera Utara 
BAB I 
PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang 
Sekitar dua abad sebelum masehi hingga awal abad ke lima, Spanyol berada di 
bawah imperium Romawi. Sejak tahun 406 M, Spanyol dikuasai oleh bangsa Vandal, 
yaitu bangsa  yang berimigrasi dari negeri  asal mereka, suatu d`erah yang terletak 
diantara sungai Oder dan Vistuala. Penguasa daerah ini mendirikan kerajaan di 
propinsi wilayah Chartage. Kekuasaan Vandal ini kemudian diambil alih oleh orangorang Gothic. Tak lama kemudian, dinasti merovingian dari kerajaan Frank 
merebutnya dari orang-orang Gothic, maka didirikanlah kerajaan Visigoth, yang 
wilayah itu dikenal dengan Vandalusia.  Dan setelah kedatangan orang-orang Islam 
pada tahun 92H/711 m, sebutan Vandalusia diubah menjadi Andalusia atau alAndalus.(Hitti, 1970:498) 
"Spain was now adat province of the caliphate. The Arabic name it assumed was alAndalus". 
Kehadiran orang-orang Islam di Spanyol merupakan awal munculnya Islam di 
benua Eropa karena Spanyol merupakan  pintu gerbang bagi benua tersebut. 
Sebagaimana diinformasikan dalam buku-buku sejarah, ekspansi  Islam ke Wilayah 
Barat (dalam hal ini benua Eropa bagian Barat) terjadi pada masa kekhilafahan Bani 
Umayyah dengan khalifah (pemimpin) AI-Walidbin Abdul Malik. 
Pada saat itu Musa bin Nusair sebagai panglima perang khalifah dan Tariq bin 
Ziyad sebagai komandan lapangan, dimana keduanya dianggap sebagai tokoh pelaku 
utama atas masuknya Islam di Spanyol. Mereka berhasil mnguasai wilayah Afrika 
Utara dan kemudian menyebrang ke benua Eropa. (Nielsen, 1992: 1). Setelah 
masuknya Islam di Spanyol maka banyaklah kemajuan-kemajuan yang diperoleh dan 
hal ini dapat dilihat dengan banyaknya tokoh-tokoh dan para ilmuwan yang muncul 
dari sana. Namun setelah berabad-abad lamanya Islam menguasai Spanyol, mulai 
mengalami kemunduran dan kehancuran bahkan kemudian Islam hilang dari bumi
tersebut. Hal ini disebabkan berbagai faktor. 
B. Permasalahan 
Dari uraian tersebut di atas, maka  muncullah beberapa persoalan sebagai 
berikut: 
1.   Mengapa orang-orang Islam datang ke Spanyol? 
2.  Bagaimana perkembangan Islam di Spanyol setelah wilayah tersebut berada di
tangan kekuasaan orang-orang Islam?
3.  Kemajuan-kemajuan apakah yang telah dicapai oleh Spanyol pada masa kejayaan 
Islam di sana?
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
14.  Mengapa Islam yang telah lama menguasai Spanyol kemudian mengalami
kemunduran dan kehancuran?
C. Metode dan Sistematika Penulisan 
Tulisan yang berupa karya ilmiah ini mencoba membahas persoalan atau 
masalah-masalah pokok sebagaimana telah dikemukakan diatas dengan secara
seksama. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dari para 
pembaca demi kesempurnaan tulisan ini. 
Adapun metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode deskriptif 
analisis, yakni menelaah sumber-sumber data dan menganalisisnya dengan 
pendekatan sejarah. Penulisan ini dibagi dalam tiga Bab yakni: Bab I berisikan 
Pendahuluan yang meliputi; latar belakang  masalah, Permasalahan dan Metode
Penulisan. Pada Bab II akan dibahas tentang Spanyol pada Masa Kekuasaan Islam 
yang meliputi: Awal Masuknya Islam ke Spanyol, Perkembangan Islam di Spanyol,
Kemajuan-kemajuan yang dicapai pada masa Islam dan Kemunduran dan Kehancuran
Islam. Bab III adalah penutup yang memuat tentang kesimpulan dari tulisan ini.  
BAB II 
SPANYOL PADA MASA KEKUASAAN ISLAM 
A. Awal Masuknya Islam di Spanyol 
Di zaman Bani Umatyyah, masa pemerintahan al-Walid Ibnu Abd al-Malik,
Musa Ibnu Nushair diangkat sebagai amir untuk wilayah Afrika Utara dan Barat yang 
berkedudukan di Qairawan. Pada saat itu, Musa Ibnu Nushair menerima delegasi yang 
datang dari kota Ceuta yang terdiri dari Pangeran Yulian dan keluarga raja Witiza 
yang memerintah Spanyol. Maksud kedatangan mereka ke Qairawan adalah untuk 
meminta bantuanAmir Musa Ibnu Nushair guna menyerang dan menjatuhkan raja 
Visigoth di Spanyol bernama Roderck yang berkedudukan di Toledo. 
Setelah memperoleh persetujuan khalifah al-Walid di Damaskus, Musa
berangkat bersama pasukannya menyelusuri  pesisir Afrika bagian Utara hingga
bagian barat untuk menyeberang ke darata Eropa. Untuk memasuki daratan Eropa itu, 
panglima Thariq Ibnu ziyad ditunjuk sebagi pemimpin pasukan dengan membawa 
12.000 personil, dan bertindak sebagai petunjuk jalan adalah pangeran Yulian dan 
keluarga raja Witiza. Thariq bersama pasukannya menyeberang selat yang terletak 
antara Maroko dan benua Eropa, dan mendarat disuatu tempat yang kemudian dikenal 
dengan nama Gibraltar (Jabal Tariq).  
Kedatangan pasukan Islam itu terdengar oleh raja Roderick melalui para 
saudagar yang menyaksikannya. Maka raja  itupun mempersiapkan bala tentaranya 
untuk menghadapi pasukan Thariq. Pada tanggal 19 Juli 711, kedua pasukan bertemu 
ditepi sungai Rio Barbate, sehingga terjadilah pertempuran yang sengit. Pasukan 
Roderick terdesak dan dapat dikalahkan, bahkan roderick sendiri tewas tenggelam di
Rio Babate ketika hendak melarikan diri.(Hitti, 1970 :493-494) 
Kesuksesan di Rio Barbate mendorong semangat pasukan muslim untuk terus 
bergerak memasuki wilayah-wilayah kekuasaan Visigoth lainnya. Mula-mula
bergerak ke Toledo dengan melewati dan menguasainya terlebih dahulu kota-kota 
Malaga, Elvira, Murcia dan Cordova. Kemudian Thariq terus bergerak hingga
kebagian barat semenanjung Iberia. Tgariq mendapat dukungan penduduk 
taklukannya untuk menaklukkan wilayah-wilayah lainnya. (Chejne,1974:8) 
Mendengar kesuksesan yang dicapai oleh Thariq Ibnu ziyad, maka Amir Musa 
Ibnu Nushair pada tahun 712 berangkat menuju Spanyol. la bersama pasukannya 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
2sebanyak 18.000 personil yang kebenyakan dari suku-suku Arab dengan menempuh 
jalur yang tidak dilewati oleh pasukan Thariq, la mampu menaklukkan Sidonia, 
Carmona, dan berhasil memasuki Sevilla, Huelva dan ahirnya mengikuti arah sungai, 
sampailah ia bersama pasukannya  kekota Merido dan kota-kota kecil lainnya. 
Kemudian ia dapat bertemu dan bergabung  dengan pasukan Thariq di Toledo pada 
bulan Juli 713.(Watt ,1992:15). 
Kemenangan yang telah dicapai di Spanyol mengukir sejarah baru Islam di
Eropa, Karena Spanyol merupakan pintu gerbang masuk ke Eropa. Untuk selanjutnya
dapat menyampaikan dagwah Islamiyah keseluruh benua Eropa dengan mudah.
Penaklukan yang dilakukan oleh Thariq Ibnu ziyad inilah merupakan asal-usul Islam 
di Spanyol. 
B. Perkembangan Islam Di Spanyol 
1. Dinasti Islam di Spanyol 
Ketika gerakan Abbasiyah berhasil menjatuhkan Bani umayyah dari tampuk 
kekuasaan pada tahun 750, maka berdirilah Khilafah Bani Abbas dengan mengambil
Bagdad sebagai pusat pemerintahan. Bersamaan dengan itu, Emirat Islam diSpanyol 
menyatakan tunduk kepada Bagdad. 
Abdurrahman Ibnu Muawiyah Ibnu Hisyam adalah searang pangeran dari 
Bani Umayyah y`ng lalas dari kejaran Bani Abbas. Setelah melarikan diri ke Mesir, 
lalu melewati berbagai bukit batu dan gurun yang tandus, akhirnya pada tahun 756 
dapat memasuki Spanyol yang sedang dilanda perselisihan antara kelompok Mudhari 
yang berasal dari lembah Eufrat dan kelompok Yamani yang berasal dari Yaman 
keturunan Qahtan. Kedatangan Abdurrahman segera mendapat sambutan dan 
dukungan yang luas. Dan setelah berhasil memadamkan perlawanan Amir Yusuf alFikri, penguasa Spanyol sebagai Emirat dari Khilafah Abbasyah, Abdurrahman
menduduki kursi kepemimpinan sebagai Amir. Dengan demikian, Spanyol secara 
resmi tidak lagi menjadi bagian wilayah Khilafah Abbasiyah. Pada saat itu, 
Abbassiyah dipimpin oleh khalifah Abu Ja'far al-Mansur, khalifah kedua di Bagdad. 
Amir Abdurrahman yang dipanggil al-Dakhil (New Comer) menetapkan Cordova
sebagai ibu kotanya. Karena ketangkasan  dan kegigihannya, ia mampu melepaskan 
diri dari kejaran Bani Abbas hingga dapat mendirikan emirat (Dinasti Umayyah di
Spanyol): Khalifah alMansur di Bagdad menjulukinya sebagai "The Falcon of 
Quraysh" atau si rajawali Qurays. (Hitti, 1970 : 502) 
Dinasti Bani Umayyah di Spanyol dapat mempertahankan kekuasannya 
sampai tahun 1031 M, Abd al-Rahman al-Dakhil berkuasa selama 32 tahun (756-788 
M.). Dibawah kekuasaanya, Spanyol mulai menyaksikan hari-hari kemenangannya. la 
memiliki kemampuan yang besar dan kecakapan  yang cukup dalam membenahi 
pemerintahannya. la mengangkat Gubernur-gubernur yang mampu dan jujur. la 
benahi kota tua Cordova dengan gedung-gedung dan taman-taman yang indah. 
Tanaman berupa buah-buahan dan sayur-sayuran di datangkan dari timur untuk di
kembangkan di pertanian Spanyol.  
Pada tahun 757 M, Abd al-Rahman al-Dakhil tidak mencantumkan lagi nama
Khalifah Bani Abbas di  khutbah jum'at, dan menggantinya dengan nama sendiri
walaupun masih memakai gelar Amir. (Chejne, 1974: 18). 
2. Pembangunan Islam di Spanyol 
a. Pembangunan Dalam Bidang Militer dan Pemerintahan 
Sebagai suatu wilayah negara, Spanyol Islam diperlengkapi dengan personilpersonil militer lebih banyak dari jumlah ketika mereka datang. Dan untuk keamanan 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
3serta pertahanan kedaulatannya, Amir  membangun kekuatan militer di Spanyol. la
mendatangkan lebih dari 40.000 personil dari afrika untuk dilatih dengan mendapat 
gaji baik, agar mereka benar-benar  setia menghormati dan mau ikut menjaga 
kekuasaan Amir.(Hitti, 1970 508). 
Pasukan militer dibedakan menjadi empat kelompok. Yaitu: 
1.   Tentara tetap (Profesional) yang berpangkalan di Cordova. 
2.   Tentara Reguler (Jund) yang dipimpin oleh penguasa wilayah militer. 
3.  Tentara Irreguler (Belladi), yaitu orang-orang Arab yang datang bersama Musa
Ibnu Nushair. 
4.  Tentara luar biasa atau sukarelawan (Hasyid), yaitu orang-orang yang tidak 
diminta dan dengan sukarela bergabung bersama kekuatan militer (lmamuddin, 
1981: 63). 
Disamping pasukan darat, dibentuk  pula kekuatan laut setelah adanya 
serangan mendadak Normandia di pantai barat Spanyol pada tahun 844-845 M. 
Kemudian dibangun menara-menara pengintai musuh yang melakukan kegiatan di 
samudra Atlantik di sepanjang pantai. 
Setelah Abdurrahman al-Dkhil (Abdurrahman I) meninggal, maka
pemerintahan dipegang oleh anaknya Hisyam I (789-796), Dia seorang yang memiliki 
pengetahuan yang luas tentang Al-Qur'an dan sunnah, dan banyak dipengaruhi oleh 
ulama fikih. la meneruskan pembangunan masjid Cordova dan juga membangun 
terusan Cordova. Hisyam adalah seorang  penguasa yang taqwa, adil dan lemah 
lembut serta darmawan. Dia menduduki tahta selama 8 tahun, tetapi banyak 
kemajuan-kemajuan yang dicapai.  
Setelah Hisyam wafat, ia diganti oleh ananya hakam I (796-822 M). Hakam 
adalah orang yang suku akan kemegahan  dan pertunjukan-pertunjaukn serta sangat
kecanduan dengan minuman anggur. Pada masa kekuasaannya terjadi pemberontakan 
yang dipelopori oleh Sulaiman dan Abdullah pamannya sendiri, yang akhirnya 
pemberontakan itu dapat dipadamkan. Sulaiman meninggal dan Abdullah diampuni 
setelah ia menyerah.  
Sesudah Hakam meninggal; pemerintahan di pegang oleh putranya 
Abdurrahman II (822-852 M). Dengan pengalaman militernya  yang tinggal dan 
kecakapannya dalam memimpin pemerintahan, Abdurahman II telah berhasil 
membawa Spanyol kembali kepada kedamaian dan kemakmuran. Di masanya Mesjid 
Cordova diperluas, dan banyak mesjid baru dibangun di kota-kota Jaen, Seville,dan di 
ibu kola Cordova sendiri. Barang-barang di impor dari Timur. Bendungan dan irigasi 
dibangun, ibu kota diperindah dengan taman-taman yang luas lagi indah yang dilalui 
oleh terusan-terusan yang mengalirkan air dari gunung-gunung. Jembatan-jembatan 
dibangun dan istana Cordova telah dapat  menandingi istana di Bagdad. (Dozy, 
1972:260). Setelah menjalankan pemerintahannya selama 30 tahun yang membawa 
kepada kemakmuran, Abdurahman II meninggal dunia pada tahun 852 M 
Pemerintahan berikutnya setelah Abdurahman II wafat, Dipegang oleh 
anaknya Muhammad 1(852-886 M). Masa kekuasaanya banyak terjadi kerusuhan 
dalam negeri, antara lain: Pemberontakan rakyat Toledo, Pemberontakan orang-orang 
Kristen yang fanatik di Cordova yang telah ditumpas oleh Abdurahman II, namun 
mereka tetap berhubungan dengan raja Perancis, Charles Le Beld dengan tujuan 
mengajaknya untuk menyerang Spanyol. Akhirnya pemberontakan-pemberontakan itu 
dapat dipadamkan, bahkan pemberontakan  itu di Tabanos yang merupakan sarang 
fanatisme dihancurkan. Para pemimpin mereka digantung. Muhammad I adalah orang 
yang bijak, adil, dan berani. Dia memperbaiki keadaan rakyat dengan 
kedermawanannya. La seorang yang rajin dalam meneliti urusan administrasi sekecil 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
4apapun.(Mahmudunnasir, 1993: 297). la meninggal dalam usia 65 tahun setelah 
menjalankan pemerintahannya selama 34 tahun. 
Kemudian pemerintahan diganti oleh anaknya Munzir (886-888 M). la cukup 
mampu menumpas pemberontakan ketika ayahnya memerintah. Masa
pemerintahannya yang begitu singkat diawarnai dengan kektidak damaian dan 
kericuhan. 
Setelah Munzir wafat, ia digantikan oleh saudaranya Abdullah (888-912). la 
memerintah cukup lama selama 25 tahun, tetapi masa kekuasaanya selalu mendapat
tantangan yang cukup banyak. 
Selanjutnya pemerintahan dipegang  oleh Abd al-Rahman al-Nashir atau 
Abdurrahman III (912-961 M). Ia naik tahta dalam usia 23 tahun, usia yang relatif
muda. Usaha yang dilakukannya pertama kali ditujukan kepada pengukuhan kesatuan 
dan stabilitas dalam negeri. Begitu ia dilantik ia mengirm utusan kepada gubernurgubernur yang ada disemenanjung Iberia dan mengajak mereka untuk memberikan 
bai'at kepadanya. Sebagian diantara mereka menyambut seruan itu dengan baik dan 
sebagian yang lain tidak memperdulikannya. Dalam menghadapi penentanganya, 
Abdurahman III menumpasnya dengan militer sehingga dalam jangka 10 tahun umat
Islam Spanyol bersatu kembali.(Benton, 1970: 1087). 
Abdurahman III membangun beberapa  buah istana dan memajukan pertanian 
rakyat. Rakyat taat kepadanya dan semua orang merasa hidup damai bersamanya. la 
mewajibkan penguasa-penguasa Kristen membayar upeti ke Cordova. Pada tahun 
929, ia memproklamirkan dirinya sebagai khalifah. Pada masa kekuasaanya, Cordova
merupakan pusat kebudayaan Islam yang penting di Barat sebagai tandingan Bagdad 
di Timur. Kalau di Bagdad ada bait al-Hikmah serta madrasah Nizamiah, dan Kairo 
ada al-Azhar serta Dar al-Hikmah, maka di Cordova ada universitas Cordova sebagai 
pusat ilmu pengetahuan. Perpustakaanya mengandung ratusan ribu buku.(Nasution,
1985:62)  
Cordova, Constantinopel dan Bagdad adalah tiga kota yang merupakan pusat 
kebudayaan dunia pada saat itu. Di Cordopa terdapat 113.000 rumah, 70 
Perpustakaan, sejumlah toko buku dan Mesjid, bermil-mil jalan aspal diterangi
dengan lampu-lampu dari rumah-rumah  yang berhampiran. Semuanya membuat 
Cordova memperoleh popularitas Internasional dan kekaguman para pengunjungnya. 
Banyak perutusan diplomatik berkumpul di Cordova, baik dari dalam maupun dari
luar Spanyol. Delegasi berdatangan dari suku-suku Zanatah Afrika Utara yang kuat, 
dari dinasti Idrisi, dari raja-raja Kristen Prancis, Jerman dan Konstantinopel. 
In this period Umayad Capital took its place as the most cultured city and
Europe and, with Constabtinople and  Bagdad, as one of  the three cultural 
centres of the world. With its one hundred and thirteen thousand homes, twentyone suburbs, seventy libraries and numerous book shops, mosques and palaces, 
it acquired international fame and inspired awe and admiration in the hearts of 
travellers. It enjoy miles of paved streets illuminated by lights from the 
bordering houses whereas. (Hitti, 1970: 526). 
Abdurrahman III di anggap sebagai sang penyelamat imperium muslim Spanyol.  
Dengan berbagai kebijakan dan kemampuan intelektualnya, maka stabilitas nasional
terkendali serta dapat menarik masyarakat Spanyol dengan tidak menimbulkan jurang 
pemisah antara kelas dan golongan agama yang ada, sehingga benar-benar tercipta 
suatu imperium Umayyah yang damai dan kuat di Spanyol. Setelah memegang 
kekuasaan selama 49 tahun, ia meninggal dunia pada bulan oktober 961 M. 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
5Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh anaknya Hakam II (961-976 M). la 
meneruskan politik ayahnya dalam mempertahankan stabilitas pemerintahan dan 
kemakmuran negaranya. Hakam memiliki sifat yang mirif dengan ayahnya. Ia tetap 
mempertahankan menteri-menteri yang  diangkat oleh ayahnya. Pada masa 
pemerintahannya la memerangi pemberontakan Kristen yang ingin melepaskan diri 
dari Spanyol. Sepeninggal Hakam II, Pemerintahan dipegang oleh Hisyam II (976-
1009 M). Pada masa pemerintahannya, kekuasaan khalifah mengalami kemunduran. 
Kekuasaan umat Islam di Spanyol saat itu berada wazir dan wali Hisyam II yang 
bernama Ibnu Abi Amir, yang kemudian bergelar al-Mansur. 
b. Pembangunan di Bidang Administrasi Sipil 
Ketika Spanyol masih merupakan wilayah yang integral dengan Damaskus, 
Spanyol Islam adalah bagian dari propinsi magrib (wilayah Barat) yang ibu kotanya di 
Qairawan (sekarang Tunisia), maka konstitusi yang berlaku sesuai dengan yang ada di 
Damaskus. Sementara itu Spanyol terbagi menjadi tiga wilayah, yaitu : Pusat, Timur 
dan Barat. Wilayah pusat meliputi kota Cordova, Granada, Malaga, Almeria, Jaen dan 
Toledo. Wilayah Timur meliputi Saragosa, Valencia, Murcia, Cartagena dan 
Albarraccin. Wilayah Barat meliputi . Sevilla, Jerez, Gibraltar, Tarifa, Beja, Budajoz, 
Merida, Silves dan lisbon.(Chejne, 1974: 138). 
Untuk melaksanakan pemerintahannya dibetuk lembaga-lembaga atau badanbadan yang mempunyai tugas dan fungsi tertentu yang di tangani  oleh orang-orang 
yang sesuai dengan ke ahliannya. Beberapa badan dan jabatan yang ada pada saat itu 
antara lain. 
1.  Al-Hajib, yaitu pejabat yang paling  berpengaruh di lingkungan istana, Sebagai 
media antara penguasa dengan pegawai-pegawai istana dan rakyat lainnya. 
2.  Al-wazir atau mentri, yaitu orang yang menangani masalah keuangan, hubungan. 
Hubungan luar negeri dan kdadilan. Jabatan ini kemudian menyamai jabatan hajib 
yang biasanya diduduki oleh para panglima militer. 
3.  Al-Katib atau Sekretaris Negara, meliputi pekerjaan korespondensi dan 
pengiriman surat-surat serta dokument negara. 
4.  Khazin al-Mal (petugas pajak), Yaitu  orang yang mengurusi pajak-pajak dari 
seluruh propinsi. 
5.  Al-Qadli atau Hakim, yang dibagi 3 bagian, yaitu hakim militer, hakim rakyat dan 
Hakim para hakim.
6.  Shahib al-Mazhalim, yaitu badan pengendalian atau semacam hakim yang 
bertugas mengoreksi penyimpangan-penyimpangan para pejabat. Biasanya jabatan 
ini ditangani oleh penguasa atau delegasinya. 
Lembaga-Iembaga lain sebagai pembantu adalah lembaga kepolisian,
inspektur pasar, dinas pekerjaan umum, dan lembaga perwakafan. Disamping itu ada 
Juga majelis-majelis yang diselenggarakan untuk membahas berbagai persoalan. 
c. Pembangunan di Bidang Perekonomian. 
Masa pemerintahan abdurrahman II merupakan zaman kegemilangan Islam, 
karena pertumbuhan ekonomi yang  baik terutama di bidang pertanian. Tanah-tanah 
gersang diubah menjadi lahan yang  produktif. Guna meningkatkan produktivitas 
pertanian, Para ahli muslim melakukan study tentang tanah, menggunakan alat-alat 
baru untuk meratakan gunduka-gundukan dan  tanah berpasir. Juga menggunakan 
pupuk untuk mempersubur tanah serta meningkatkan sistem irigasi. 
Perkembangan kemajuan di bidang perdagangan sangat memberikan 
keuntungan, termasuk bea dan cukai, ekspor-impor yang dapat menempatkan kerajaan 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
6Islam Spanyol pada tingkat tertinggi penghasilannya. Perkembangan di bidang 
ekonomi ini ditopang juga oleh perencanaan pembelanjaan kerajaan yang terorganisir 
dengan baik sesuai rencana. (Sou'yb, 1981 :221). 
d. Pembangunan Di Bidang IImu Pengetahuan 
Banyak Amir yang menaruh perhatian untuk mengembangkan ilmu 
pengetahuan, diantaranya seperti apa yang dilakukan oleh Hisyam. Dia mendorong 
para Teolog untuk pergi ke Medinah guna  mempelajari ajaran-ajaran maliki. Dia
mendirikan sekolah-sekolah untuk pengajaran bahasa Arab. Kota Cordova memiliki 
Perpustakaan yang besar yang memuat 600.000 jilid buku. Amir selalu 
mengupayakan penambahan dan penyempurnaan perpustakaan berikut buku-bukunya, 
baik dari dalam maupun luar negeri. (al-Hayyat,t.t.:34). 
Amir sering menulis surat kepada setiap penulis kenamaan guna memeperoleh 
naskah karya ilmiah dan membayarnya sangat mahal. Pujangga arab, Abu Farj alAashfihani yang yang tinggal di Bagdad pernah didatangi utusan Amir Andalusia 
guna memperoleh naskah karangan lagu dan himpunan sajak al-Aghani dan diberinya 
hadiah 1000 dirham. (Brackelman, 1970:223). 
C. Kemajuan-Kemajuan yang Dicapai Spanyol pada Masa Islam 
1. Kemajuan IImu Pengetahuan. 
Sebagian penulis sejarah itu ada yang menyatakan bahwa pengkajia keilmuan
secara ilmiah di (wilayah) Barat (Spanyol dan sekitarnya), pelaksanaannya, lebih dulu 
terjadi di (wilayah) Timur (Bagdad dan sekitarnya). Dengan demikian, masyarakat 
intelek muslim yang ada di wilayah barat berhutang budi kepada saudara-saudara 
mereka yang berada di Timur.(Madkour, 1988, 53). 
Kondisi tersebut terlihat dari informasi bahwa Ibnu Jubair, seorang pengelana 
dari Spanyol, sangat tercengang dengan fenomena yang dilihatnya di Timur. Begitu
banyak sekolah dan berbagai hasil bumi yang di hasilkan oleh badan-badan wakaf di 
sana. Selanjutnya ia mengajak orang-orang yang ada di Barat untuk menuntut ilmu ke 
Timur.  
Namun demikian dalam hal penterjemahan bahasa yunani. Masyarakat intelek 
Islam di Spanyol, (pada saat tertentu)  mendapat bantuan langsung dari kekaisaran 
Bizantium. Disebutkan bahwa pada tahun 949 M, kaisar Constantinus menghadiahkan 
kepada Abdurrahman III sebuah salinan dari Dioscorides (naskah mengenai tumbuhtumbuhan) dalam bahasa yunani. Akan tetapi kebetulan di Cordova pada saat itu tidak 
ada seorang pun (sicl) yang faham bahasa yunani. Oleh sebab itu, Abdurahman III 
minta kepada kaisar untuk mengirimkan seorang biarawan yang (kemudian datanglah 
seorang) bernama Nicholas, yang tidak hanya menerjemahkan Dioscorides, akan 
tetapi langsung mengajar bahasa yunani di Cardova (Qadir, 1989: 41). 
Diantara ilmu yang "muncul" dan berkembang di Spanyol, terdapat ilmu 
kebahasaan, ilmu pendidikan, ilmu kepustakaan: ilmu kesejarahan, ilmu keperjalanan, 
ilmu kealaman, dan ilmu keagamaan serta pengaruhnya terhadap dunia barat dewasa 
ini selanjutnya, dalam kebudayaan, terdapat kemajuan yang pesat dibidang kesenian, 
pertekstilan, desain dan arsitektur serta pembangunan sarana fisik lainnya. Berikut ini 
akan dijelaskan tentang bidang-masing-masing di atas. 
a. IImu Kebahasaan. 
Seperti telah disinggung, secara umum, diatas, dalam ilmu bahasa murni juga,
filologi,tata bahasa, leksikografi, masyarakat intelek Islam di Spanyol sebetulnya 
(sedikit) tertinggal jika  di banding dengan orang-orang Irak (namun kemudian 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
7prestasi-prestasi) yang cukup spektakuler bermunculan). Al-Qali (901-67 M), seorang 
profesor universitas Cordova kelahiran Amenia (awalnya) belajar di bagdad, baru
kemudian disusul oleh Muhammad bin  Hasan AI-Zubaydi  (928-989), seorang 
muridnya yang berdarah asli Spanyol (kelahiran Seville) yang mewarnai hampir 
seluruh ilmu gurunya itu (Hitti, 1970:557). 
Orang Islam Spanyol juga berjasa atas penyusunan tata bahasa (orang) Yahudi 
(Hebrew) yang secara esensial didasarkan  atas tata bahasa Arab. Selanjutnya, 
dibidang sastra, terdapat juga kemajuan  yang sangat berarti dan melahirkan banyak 
tokoh. Ibnu Abd Rabbih, seorang pujangga (yang sezaman dengan) Abd Rahman III 
mengarang Al'Iqd Al-Farid dan Al-Aghani. 'Ali bin Hazm (terkenal dengan nama Ibnu 
Hazm) juga menulis sebuah antologi sya'ir cinta berjudul Tawq Al-Hamamah. (Khan, 
1980:94). Dalam bidang sya'ir, yang digabungkan dengan dengan nyanyian, terdapat 
tokoh Abd AI-Wahid bin Zaydan (1003-1071) dan Walladah (meninggal 1087) yang 
melakukan improvisasi spektakuler dalam bidang ini. Karya mereka, muwashshah 
dan jazal merupakan karya monumental yang pernah mereka ciptakan pada masa itu,
(Khan, 1980:94 ) sehingga orang-orang Kristen mengadopsinya untuk himne-himne 
Kristiani mereka. 
b. IImu kependidikan 
Titik berat ilmu kependidikan yang berkembang pada masyarakat intelek
Islam Spanyol adalah perhatian mereka pada keharusan seseorang bisa membaca dan 
menulis yang secara mendasar ditujukan kepada (kecakapan membaca dan menulis) 
Al-Qur'an, tata bahasa Arab dan sya'ir. Di samping itu kegiatan kependidikan juga
(dalam hal-hal tertentu) berpusat pada  persoalan-persoalan hukum atau Fiqh (yang 
merupakan istilah derivat tidak langsung dari kata syari'ah atau wahyu dan mengalami
penyempitan makna (Watt, 1992:6). Dalam masyarakat Islam Spanyol, wanita juga 
memperoleh kedudukan yang tinggi dalam hal penerimaan pendidikan. Suatu keadaan 
yang (sedikit berbeda dengan kondisi Geografis dunia Islam pada umumnya) sangat
kontras dengan keadaan umum masyarakat Eropa pada waktu itu. 
Dengan kondisi seperti itu pada abad-abad berikutnya jumlah orang yang 
belajar ke Spanyol terus bertambah. Universitas-universitas Cordova, Toledo, 
Granada, Clan Sevilla-di banjiri para mahasiswa dari bebagai penjuru Eropa, Africa
Utara dan Timur  
Tengah. Kondisi seperti itulah yang belakangan dipercayai berjasa mengantar 
Renaissance dan Reformasi Ilmu Pengetahuan di Eropa. 
c. IImu Kepustakaan 
Dengan menitik beratkan kepada Ilmu pendidikan masyarakat Intelek Islam 
Spanyol sudah pasti menyediakan sarana-sarana penunjang, agar apa yang mereka
lakukan bisa berhasil seoptimal mungkin. Keberadaan perpustakaan dengan sejumlah 
besar bukunya merupakan salah satu diantara sekian sarana penunjang kependidikan 
yang menjadi pusat perhatian mereka. Sebagai contoh, perpustakaan AI-Hakam yang 
jumlah bukunya mencapai 400.000 buah (Al-Siba'iy, 1992: 183). Disamping itu juga
bursa buku adalah kegiatan yang sering ditemui di Cordova. Suatu kondisi logis dari 
sebuah masyarakat intlek yang memusatkan perhatian kepada pengkajian-pengkajian 
ilmiah. 
Sumber-sumber dana yang berasal dari badan-badan wakaf yang didirikan 
secara khusus untuk itu telah sangat membantu peningkatan kualitas perpustakaan. 
Managemen Lay out berkembang seiring  perkembangan perpustakaan tersebut 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
8termasuk di dalamnya katalogisasi. Administrasi dan birokrasi peminjaman bukubuku dilaksanakan dengan baik dalam arti adanya ketentuan-ketentuan tertentu bagi 
peminjam yang terdiri dari dua golongan; yaitu golongan ulama dan non ulama. 
d. IImu Kesejarahan. 
Perkembangan ilmu kesejarahan di Spanyol tidak bisa lepas  dari peran Ibnu 
Khaldun (1332-1406 M) sebagai sosok reformer, baik analisis sejarah murni ataupun 
historiografi. Kelahirannya memang agak belakangan dibanding dengan tokoh-tokoh 
sejarah Spanyol seperti Ibnu Qutaybah (wafat 977 M) dan Ibnu Hayyan  (988-1076 
M) serta sejarawan lainnya Namun sebuah karya monumentalnya, Muqaddimah, telah 
mencuatkkan namanya menjadi sosok luar biasa terutama dalam Ilmu sejarah. Teori 
life cycle untuk dinasti-dinasti baik secara langsung ataupun tak langsung telah di 
adopsi oleh para ilmuan dunia menjadi teori Civilization life cycle.
1
e. IImu Keperjalanan
Perkembangan Ilmu keperjalanan  ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh 
geografi di kalangan masyarakat intelek Islam di Spanyol diantaranya Abu Ubayid alBakri (wafat 1094 M), AI- Idrisi lahir 1100 M dan Abu al-Husain bin Ahmad (Iahir 
1145 M) merupakan tokoh-tokoh diantara  para tokoh geografi yang belakangan
melahirkan tokoh-tokoh adventurers, seperti Ibnu Jubair yang melakukan journey 
pulang-pergi dari Granada ke Mekkah melalui Mesir, Irak, Syria dan Sicilya. 
Tokoh legendaris yang belakangan muncul adalah Ibnu Batutah (1304-1377 
M). Dia telah melakukan 4 kali perjalanan Haji ke Mekah yang dilanjutkan dengan 
petualangannya ke berbagai negeri Muslim. Negeri-negeri di Timur seperti Srilangka 
dan Bengal telah dikunjunginya bahkan sampai ke Cina. Perjalana terahirnya pada 
tahun 1353 telah membawanya ke pedalaman Afrika. (Hittl, 1970:569). 
f. IImu Kealaman 
Perkembangan Ilmu kealaman di masyarakat intlek Islam Spanyol ditandai 
dengan munculnya tokoh-tokoh dalam cabang-cabang ilmu tersebut seperti 
astronomoi, matematika, ilmu tumbuhan kedokteran dan lain-lain. Dalam 
perkembanganya terdapat satu ilmu sempalan dari astronomi yang kemudian dinilai 
kontroversial oleh umumnya masyarakat Islam yaitu astronomi dangan tokohnya Abu 
Ma'syar (al-falaki). la mengatakan bahwa posisi bintang-bintang berpengaruh 
terhadap kelahiran, kematian dan apa saja yang terjadi dimuka bumi ini. 
Namun demikian perkembangan ilmu astronomi "murni", yang melatar
belakangi ilmu astronomi modern, terus berkembang, sampai menjelang  abad 
pertengahan. Bersamaan dengan itu matematika juga memiliki tokoh-tokohnya 
tersendiri. Sekalipun sering pula diantara  tokoh itu, kepiawaiannya juga meliputi 
ilmu-ilmu lain, seperti Al-Majriti (lahir 1007 M), Al-Zarqali  (1029-1087 M), Ibnu 
Aflah (lahir 1140 M), dan AI-Bitruji (lahir 1204 M). Mereka itu ahli astronomi dan 
matematika sekaligus. 
Dalam ilmu tumbuh-tumbuhan, apakah itu ilmu murni atau terapan dan 
dengan berbagai macam penelitian, terdapat juga perkembangan yang cukup pesat. 
Salah satu contoh adalah observasi yang  tepat, yang telah dilakukan Ibnu Sab'in: 
terhadap perbedaan kelamin antara pohon palm dan rami. Hasil penelitian itu adalah 
                                                
1
  Arnold J. Toynbee mengembangkan teorinya dalam buku A Study of History, (Oxford University
Press, London, 1960) yang sangat mirip sekali dengan teori Ibnu Khaldun kalau tidak ingin
dikatakan persis
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
9ada tiga kelompok tumbuhan dalam hal proses reproduksinya. Adanya yang melalui 
stek, persemaian benih, dan ada yang tumbuh secara spontan.(Hitti, 1970:574). 
Perkembangan ilmu tumbuh-tumbuhan tersebut, berjalan seiring dengan 
perkembangan ilmu farmasi dan kedokteran. Hal tersebut disebabkan, secara terapan, 
ilmu tersebut berperan sebagai supplier terhadap ilmu farmasi dan kedokteran. Obatobatan yang ditentukan dan dipakai oleh para dokter, sumber penelitiannya memang 
dari ilmu tumbuh-tumbuhan. Dalam perkembangan kedokteran tercatat dokter wanita 
dari keluarga Ibnu Zuhr.(Arsyad, 1988: 95). 
g. Para Tokoh Ilmu Pengetahuan 
Di atas telah dikemukan sejumlah tokoh ilmu pengetahuan. Namun demikian, 
untuk melengkapi uraian tersebut, berikut ini akan dikemukakan secara selintas
(breifley) beberapa tokoh lainnya sekaligus dengan sfesifikasl keahlian yang dimiliki 
masing-masing  tokoh tersebut. Agar lebih jelas penulis menampilkan dalam bentuk 
tabel. 
NAMA  USIA  KEAHLIAN  KARYA TULIS 
Al-Zahrawiy  Hidup abad X  Ahli Bedah  Al-Tasrif 
Ibnu Julul  944-994 M  Dokter Khalifah  Thabaqod Al-Thib 
Ibnu Al-Wafid  1007-1067 M  Farmakolog 
Dokter 
Ahli Tumbuhan 
Kitab Al-Wisad 
Abu Marwan  Wafat 1078 M  Ahli Figh 
Ahli Qur’an 
Kedokteran 
Abu-al-A’la Wafat 1030 M  Ahli Hadist 
Ahli Filsafat
Ahli Diagnosa 
Abu Marwan  1092-1162 M  Dokter 
Parasitolog 
Ahli Diagnosa 
(teman Ibnu Rusd) 
Al-Iqtida 
Al-Aghdiya
Ibnu Safar  Wafat 1035  Ahli Matematika 
Ahli Astronomi 
Tabel Astronomi 
Astrolable
Jika melihat perkembangan filsafat di kalangan masyarakat intelek Islam 
Spanyol, akan nampak dominasi dari tiga  orang filosuf kelahiran negeri tersebut, 
yakni; Ibnu Bajah (wafat 1138 M), Ibnu Tufail (wafat 1185) dan Ibnu Rusyd (1126-
1198) dengan tidak bermaksud mengecilkan  para filosuf yang tidak terpopulerkan 
oleh sejarah, yang telah berjasa meletakkan batu fondasi, membangun dan 
menyempurnakan filsafat di dataran Andalus tersebut. 
Namun demikian, berdasarkan versi Ibrahim Madkour, dua yang pertama dari 
ketiga filosuf ini, berada dalam bayang-bayang al-faidh-nya AI-Farabi. Ibnu Bajah, 
dengan Tadbir al-Mutawahhid-nya "mengatakan" bahwa manusia bisa berhubungan 
dengan akal fa'al dengan perantara ilmu pengetahuan dan pembangunan potensi 
mereka. Sementara Ibnu Tufail, dengan Hayy bin yaqzhan-nya "mengatakan" bahwa
hanya potensi manusia yang bisa berhubungan dengan akal fa’al. (Madkour, 
1988:54). 
Berkenaan dengan akal fa’al tersebut, orientasi Ibnu Rusyd tidak mengarah 
kepada "hipotesa" ini, (sehingga ibrahim madkour melepaskan Ibnu Rusyd dari 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
10bayang-bayang AI-Farabi). Tetapi dia mengkaji problematika hubungan (antara 
manusia dengan) akal fa’al secara ilmiah dan sistematis, dengan menjelaskan bahwa 
hubungan ini, secara esensial tidak bertentangan dengan psikologi yang dikenal. 
Ibnu Rusyd berpendapat bahwa  bayi  dilahirkan dengan membawa kesiapan 
untuk menerima pengetahuan-pengetahuan (secara) umum, sehingga jika ia mulai 
belajar, maka kesiapan ini akan berubah menjadi akal aktual. Akal ini selalu 
berkembang dan meningkat sampai ia bisa berhubungan dengan Akal yang tidak ada 
pada benda, dan dari Akal tersebut ia mengambil (menerima) pancaran ilham. 
Perkembangan filsafat Islam selanjutnya adalah unsur-unsur sufisme dalam 
sekala yang lebih besar. Corak filsafat Islam menjadi filsafat sufistik atau sufisme 
filosofis. Seperti produk pemikiran Ibnu Sab'in, yang pada uraian diatas dikenal 
sebagai ahli botani. la berpendapat (seolah-olah mengulang pendapat Al-Farabi) 
bahwa Allah adalah sumber bagi akal-akal yang mengelola alam, yang memancar 
secara emanatif (nisbah bagi emanasi). Akal fa'al adalah satu dari sekian Akal yang 
mengelola alam dan merupakan sumber jiwa manusia. Jiwa manusia, yang bersumber
dari akal tersebut, selalu cenderung berhubungan dengannya, kecuali jika kekotoran 
dan nafsu ragawai menghalanginya. (Madkour, 1988:55-56). 
Unsur sufisme yang paling besar, dalam perkembangan filsafat Islam Spanyol, 
adalah ketika sekelompok masyarakat sufi, dengan tokohnya Ibnu 'Arabi (wafat 1240 
M) melontarkan teori panteisme (di  mana banyak kalangan ahli sunnah menuduh 
orang yang berfaham ini zindiq), yang sumbernya (dianggap)  dari Suhrawardi dan 
(juga) Ibnu Sab'in. Keduanya berpendapat bahwa "entitas yang mungkin ada"
mengkonsekuesikan "Entitas lain yang harus ada dengan sendiri-Nya" untuk 
memberinya wujud dan (proses) memancar  kepadanya (terjadi) melalui penciptaan. 
"Entitas yang harus ada" ini adalah Allah swt, karena Dia adalah "Entitas yang azali
dengan sendiri-Nya" (Arabi, 1988: 1, lihat juga Noer 1995:17). 
Sementara itu "entitas-entitas lain" (yang mungkin ada) semuanya adalah 
fenomena-fenomena bagi ilmu dan kehendak-Nya dan darinyalah ia mengambil
kehidupan dan eksistensi. Sehingga eksistensinya bersifat eksidental dan (atau) 
sebagai konsekwensi. Berdasarkan prinsip itu, maka tidak ada (yang ada) kecuali satu
entitas yang wujud secara hakiki dan harus (ada). Bahkan dia-lah wujud seluruhnya, 
karena entisitas-entisitas lain (yang ada) tidak disebut sebagai entisitas kecuali 
(difahami sebagai) perluasan (wujud). 
Dari uraian singkat di atas, memang belum bisa ditarik satu kesimpulan 
(karena uraiannya memang singkat) bahwa, dalam perkembangan filsafat di Spanyol 
(dan boleh jadi diseluruh dunia Islam), secara historis, filsafat mempunyai tendensi
peneratif yang cukup tinggi dalam sufisme (dengan kekecualian sufisme yang lahir
dari kaum oposisi moral terhadap kezhaliman para khalifah). 
Namun, paling tidak, secara hermenautik, bisa terlihat bahwa hal seperti itu 
memang ada. 
i. IImu Agama 
Perkembangan ilmu agama dilingkungan  masyarakat intelek Islam Spanyol, 
oleh sebagian penulis sejarah, didentikkan dengan perkembangan hukum Islam (ilmu 
fiqh) atau ilmu syari'at yang telah mengalami penyempitan makna. Namun demikian 
dari penyempitan makna tadi, dampak positif yang nampak pada masyarakat adalah 
adanya suatu tatanan hukum yang pasti dan dipegang sebagai pedaman hidup 
sehingga aspek-aspek lahiriyah (sebagai  objek kajian ilmu fiqh) dari masyarakat
tersebut (juga tercermin pada sebagian pandangan para filosof) bisa terkendali dan 
berada dalam landasan-landasan normatif agama. (Watt, 1992:61-62). 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
11Sebagai contoh akan disebutkan apa yang telah dikatakan oleh Ibnu Rusyd 
dengan mengutip perkataan para filosof, bahwa kehidupan manusia di dunia dan di 
akhirat bisa berarti hanya  dengan mengerjakan aktifitas,akti sitas praduktif dan 
mengutamakan pemikiran. Kedua hal tersebut tidak akan sempurna kecuali dengan 
keutamaan-keutamaan akhlaq (nisbah untuk  akhlak), yang juga  baginya tidak akan 
terwujud kecuali dengan ma'rifat kepada Allah Swt dan mengagungkan-Nya melalui
peribadatan ritual yang sesuai dengan syari'at (al-masyru'at) dalam agama (Millat)
seperti Taqarrub, shalat, berdo'a, memuji, dan lain sebagainya. 
Di dalam kenyataannya perkembangan ilmu keagamaan dikalangan 
masyarakat intelektual Islam Spanyol  lebih didomonasi oleh madzhab Maliki, 
meskipun pernah juga madzhab Zhahiri mewarnal masyarakat Islam Spanyol. Hal ini 
disebabkan oleh dekatnya khilafah Umayyah dengan madzhab tersebut dan secara
geografis Spanyol dekat dengan wilayah Afrika Utara, dimana masyarakat sunni-nya 
banyak yang bermadzhab maliki, sementara Islam masuk ke Spanyol melalui wilayah 
tersebut. 
j. Pengaruh Perkembangan Ilmu Pengetahuan Terhadap Dunia Barat. 
Dengan kekecualian pada ilmu keagamaan, boleh dikatakan seluruh 
perkembangan ilmu pengetahuan di masyarakat intelek Islam Spanyol mempengaruhi
perkembangan ilmu pengetahuan di dunia barat, terutama setelah memasuki abad 
pertengahan. Pernyataan di Bias tercermin dari perkataan Chistave Le Bon ia
mengatakan bahwa perkenalan dengan peradaban Islamlah sebenarnya yang 
membawa Eropa menjadi dunia beradab. Abad ke-9 dan ke-10 adalah saat pusat-pusat 
Islam di Spanyol sedang berada di puncak kecemerlangannya. Pusat-pusat intelektual 
di barat hanya berupa benteng-benteng yang dihuni oleh para bangsawan yang dirinya
merasa bangga atas ketidakmampuannya membaca mereka.( Ma'arif, 1994:25-26). 
Tahap selanjutnya, dengan melalui tahap-tahap kecurigaan ketakutan yang 
luar biasa dan secara diam-diam kecemburuan dan kekaguman terhadap Islam, 
masyarakat Eropa akhirnya berhasil  mentransfer metodologi ilmiah intelek 
masyarakat Islam. Ironisnya masyarakat Islam justru terpuruk dalam fase Jumud: fase 
kemunduran. Metode eksperimen, eksplorasi, opservasi, yang pada awalnya dipakai 
setiap kajian ilmiah,berubah menjadi metode pengulangan pendapat para guru, yang 
belakangan diketahui bahwa  metode tersebut dipakai oleh sedikit masyarakat 
terpelajar abad pertengahan di Eropa sebelum datangnya Islam. 
Sekarang, masyarakat Islam masih sedang berusaha merumuskan jati diri dan 
peranannya dalam percaturan dunia. Dalam  pada itu, tahap-tahap yang dulu dilalui 
masyarakat Eropa abad pertengahan, sekarang ini nampaknya sedang dilalui 
masyarakat Islam. Sikap-sikap seperti sikap kecurigaan, ketakutan, dan kecemburuan 
sehingga muncul generalisasi negatif terhadap dunia Barat, sebetulnya menunjukkan 
ketidak beradaan intelektual. (Ma'arif,1994:34-35). Pada hal sebaiknya sikap-sikap 
akomodatif-transformatif selektif-lah yang harus dikembangkan. Karena, apa yang 
ada sekarang ini pada dunia ilmiah barat pada awalnya, dasar-dasarnya milik 
masyarakat intektual Islam.  
2. Kemajuan Kebudayaan 
Pada pembahasan dimuka telah dijelaskan bagaimana perkembangan ilmu 
pengetahuan yang luar biasa telah terjadi dikalangan masyarakat intelek Islam 
Spanyol. Sebetulnya, Dari perkembangan itu sudah tercermin bagaimana budaya yang 
berlaku pada masyarakat  tersebut. Budaya ilmiah progresit adalah budaya yang 
sehari-hari mewarnai kehidupan mereka. 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
12Untuk melengkapi apa yang telah dikemukakan diatas pada bagian ini akan di
uraikan kemajuan kebudayaan (Iebih tepatnya data historis peninggalan kebudayaan) 
para masyarakat Islam Spanyol. Biasanya, nilai-nilai tinggi kebudayaan suatu 
masyarakat di ketahui dari kraya-karya yang secara audio-visual (atau salah satu dari 
keduanya), sampai pada masyarakat berikutnya. 
Hasil pekerjaan (seni dengan menggunakan) logam (metal-work) termasuk 
didalamnya dekorasi dengan bahan baku emas dan perak banyak dijumpai sebagai 
bukti kemajuan kebudayaan masyarakat Islam Spanyol di antaranya adalah dekorasi 
interior Al-Hamra dan peninggalan Hisyam II (976-1009 M) yang masih terpelihara
pada bagian atas altar katedral di Gerona, berbentuk peti mayat kayu yang dilapisi 
perak yang berkilat dan bergambar, hasil karya dua orang pengrajin Arab Badr dan 
Tarif, yang keduanya merupakan anggota Istana. (Hitti, 1970:591) 
Barang-barang dari keramik juga ditemukan, di samping barang logam, 
dengan pusat  industrinya di Valencia, yang imitasinya belakangan ini diketahui baru 
ada pada abad ke-15 di Belanda. Industri keramik ini ahirnya juga sampai ke Italy. 
Selain dari itu, seni dalam tekstil yang mewah juga tertuang dalam hamparan karpetkarpet Spanyol dengan Cordova sebagai pusat industri tenunannya. Dari sana produkproduk tekstil itu tersebar ke berbagai pelosok Eropa. 
Dari segi arsitektur, seluruh monumen  keagamaan yang bernilai seni telah 
habis, kecuali hanya satu yang terbesar yaitu mesjid Agung Cordova. Fondasi mesjid 
tersebut dibuat oleh Abdurrahman I dan diselesaikan oleh anaknya Hisyam I pada
tahun 793 M, yang terletak pada bekas gereja Kristen. (Hitti, 1970: 594) Hal lain yang 
tidak kalah menariknya dalam masyarakat  Islam Spanyol adalah seni musik. Seni
musik Islam Spanyol merupakan gabungan dari sistim Persia-Arab. Sistim tersebut di 
bawa ke Spanyol pada tahun 822 oleh Ziryab, seorang siswa sekolah musik Ishag alMaushuli di Baghdad. Dia mendirikan sekolah musik di Cordova, dan selanjutnya
bermunculan sekolah-sekolah musik dengan berkiblat ke sekolah Ziryab di Cordova, 
di Sevilla, Valencia dan Granada.(Shiddiqi, 1985:89-92). 
Jasa-jasa seniman musik muslim sangat banyak jumlahnya. Di antarnya musik
Mensural (ukuran tempo dan nada),  glossa (tangga nada),  tarkib atau  compound
(gesekan pada not serentak) dan Octave sehingga melahirkan harmoni, yang belum 
dikenal pada waktu itu di daratan Eropa. Masyarakat barat sekarang ini juga mewarisi 
alat-alat musik yang bersenar dari masyarakat Islam. Sehingga ahirnya disimpulkan 
bahwa masyarakat barat berhasil menemukan revolusi musik dewasa ini, sebetulnya
merupakan kelanjutan dari revolusi musik pada masyarakat Islam.
3. Faktor-Faktor Pendukung Kemajuan 
Kemajuan demi kemajuan yang dicapai oleh masyarakat intelektual muslim 
pada khususnya dan masyarakat Islam di Spanyol pada umumya sudah barang tentu 
tidak terwujud begitu saja tanpa faktor-faktor pendukung yang menyertainya. Tedapat 
sejumlah faktor pendukung bagi terwujudnya kemajuan tersebut. Ada yang bisa
disimpulkan dari apa yang telah diuraikan diatas. Ada juga yang kelihatannya terlepas 
dari uraian diatas dan diketahui secara  hermeneutik, hanya implikasi dari kondisikondisi objektif yang ada pada masyarakat Islam Spanyol. 
Faktor-faktor pendukung tersebut diantaranya adalah : 
1) Ketika Islam datang ke Spanyol, komposisi masyarakat yang ada dinegeri itu 
cukup heterogen yang terdiri dari orang Arab, orang Arab-Spanyol, orang Afrika
Utara, dan orang Yahudi. Heterogenitas masyarakat tersebut belakangan diketahui 
memberikan saham intelektual dan kebudayaan yang cukup hebat yang kemudian
melahirkan kembali era kebangkitan ilmu pengetahuan dan peradaban. 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
132) Heterogenitas komposisi masyarakat, di ikuti dengan heterogenitas agama.
Sementara Islam datang dengan semangat toleransi begitu tinggi. Bahkan dengan 
semangat toleransi itu Islam telah mengahiri kezaliman keagamaan yang sudah 
berlangsung sejak lama. (Majdid,1995:70). Bagi orang Kristen dan orang Yahudi 
disediakan hakim khusus yang sesuai dengan agama mereka masin-masing. 
(Syalaby, 1979: 86). Semua kelompok agama dengan datangnya Islam,
mendukung dan menyertai pembangunan peradapan yang berkembang dengan 
gemilang. 
3)  Adanya semangat kesatuan budaya Islam yang timbul pada pemikiran para ulama 
dalam arti luas. Hal ini terbukti sekalipun dalam konstelasi politik, masyarakat 
Islam Spanyol melepaskan diri dari Baghdad, dari banyaknya para ulama Spanyol 
yang mendalami ilmu di Bagdad untuk dikembangkan kemusian di Spanyol. 
4) Persaingan antar muluk AI-Thawa'if ternyata justru menyebabkan perkembangan 
peradaban. Kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Cordova, semuanya bersaing ingin 
menandingi Cordova dalam hal kemajuan Ilmu pengetahuan, sastra, seni, 
kebudayaan. 
5)   Adanya dorongan dari para penguasa yang mempelopori kegiatan-kegiatan ilmiah, 
seperti Abdurahman I, Abdurahman 11, Abdurahman Ill, dan AI-Hakam II. 
D. Sebab-Sebab Kemunduran dan Kehancuran Islam di Spanyol 
Sudah merupakan hukum alam bahwa suatu negara akan tumbuh, dan 
berkembang kemudian mencapai puncak kejayaan. Setelah mencapai puncak 
kejayaan dan secara perlahan akan mengalami kemunduran dan akhirnya hancur.
Teori perkembangan yang tak dapat dielakkan oleh manusia karena sudah merupakan 
hukum alam. Demikian pula halnya dengan Spanyol yang dikuasai oleh Islam.
Setelah Islam memperoleh kejayaan selama lebih kurang 7 abad, terjadi kemunduran
yang membawa kepada kehancuran. Banyak faktor yang menyebabkan Dinasti Bani 
Umayyah di Spanyol ini mundur dan kemudian hancur. Adapun faktor-faktor yang 
kemunduran dan kehancuran tersebut antara lain adalah: 
1. Terjadinya Pemberontakan 
Terjadi beberapa peristiwa dan pemberontakan dan keharusan yang dilakukan 
oleh golongan-golongan tertentu yang merasa tidak puas, tidak senang, dan cemburu 
terhadap khalifah yang berkuasa. Pada zaman khalifah Hisyam (788-796 M) terjadi 
pemberontakan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya sendiri, Abdullah dan 
sulaiman. Mereka mempermaklumkan kemerdekaan dan memobilisasi kesatuankesatuan mereka di Teledo, tetapi mereka dapat dikalahkan oleh pasukan Hisyam 
yang terdiri dari 20.000 tentara pada tahun 790 M. Disamping itu, terdapat pula 
pemberontakanyang dilakukan oleh kaum Yamaniah di Tertosa yang dipimpin oleh 
Said Ibnu Husain, tetapi mereka dapat dikalahkan. Pada zaman Khalifah 
Abdurrahman (756-788 M) terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh orang Berber, 
Yamaniah dan kepala-kepala suku Arab di Spanyol yang meminta bantuan kepada
pejuang Kristen Prancis bernama Charles, dan mereka dapat dikalahkan oleh tentara
Abdurrahman. 
Pada zaman khalifah Hakam (796-822) terjadi pemberontakan yang dilakukan 
oleh kaum faqih yang berambisi memperoleh kedudukan, mereka menghasut dan 
mencela hakam sebagai orang yang tidak beragama, dengan pidato-pidatonya mereka
membakar kefanatikan orang-orang muslim Spanyol. Dan kaum Faqih dapat ditumpas
dan mendapat serangan dari Sulaiman dan Abdullah, paman hakam yang masih hidup 
ketika dikalahkan oleh Hisyam, mereka  meminta bantuan kepada Raja Franka, 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
14Charlemagne di Aix la Chapella. Akan tetapi mereka dapat dikalahkan, dan Sulaiman 
gugur dalam pertempuran, adapun Abdullah diampuni setelah ia menyerah. 
(Mahmudunnasir, 290) Setelah itu terjadi pula pemberontakan penduduk Taledo, yang 
akhirnya mereka dibantai dan mayatnya dibuang kedalam parit. 
Banyak sekali pemberontakan-pemberontakan yang muncul pada zaman 
khalifah-khalifah selanjutnya, yang pada  akhirnya pemberontakan tersebut dapat 
diatasi. Sekalipun demikian hal ini merupakan faktor yang menyebabkan lemah dan 
mundurnya Dinasti Bani Umayyah di Spanyol. 
2. Perubahan Struktur Politis 
Di zaman Hisyam II (976-1013 MO terdapat perubahan struktur politis. 
Hisyam II baru berusia 11 tahun ketika ia menduduki tahta. Karena usianya masih 
sangat muda, Ibunya yang bernama Sultanah  Subh, dan sekretarisnya negara yang 
bernama muhammad Ibnu Abi Amir, mengambil alih tugas pemerintahan. 
(Mahmudunnasir, 1991:308). Hisyam II tidak mampu mengatasi ambisi para
pembesar istana dalam merebut pengaruh dan kekuasaan.  
Menjelang tahun 981 M, Muhammad  Ibnu Abi Amir yang ambisius 
menjadikan dirinya sebagai penguasa diktator. Dalam perjalanannya ke puncak 
kekuasaan ia menyingkirkan rekan-rekan dan saingannya. Hal ini dimungkinkan 
karena ia mempunyai tentara yang setia dan kuat, ia amengirimkan tentara itu dalam
berbagai ekpedisi yang berhasil menetapkan keunggulaannya atas para pangeran 
Kristen di Utara. Pada tahun itu juga Muhammad Ibnu Abi  Amir memakai gelar 
kehormatan al-Mansur Billah. la dapat mengharumkan kembali kekuasaan Islam di 
Spanyol, sekalipun ia hanya merupakan seorang penguasa bayangan. Kedudukan 
Hisam II tidak ubahnya seperti boneka, hal ini menunjukkan bahwa peranan khalifah 
sangat lemah dalam memimpin negara, dan  ketergantungan kepada kekuatan orang 
lain mencerminkan bahwa khalifah dipilih bukan atas dasar kemampuan yang 
dimilikinya melainkan atas dasar warisan turun menurun. Hisam II memang bukan 
orang yang cakap untuk mengatur negara, tindakannya menimbulkan kelemahan 
dalam negeri. la tidak dapat membaca gejala-gejala pergerakan Kristen yang akan 
mul`i tumbuh dan mengancam kekuasaannya. Keadaan ini diperburuk dengan 
meninggalnya al-Muzaffar pada tahun  1009 M yang dalam kurun waktu 6 tahun 
masih dapat mempertahankan kekuasaan Islam di Spanyol. 
AI-Muzaffar kemudian digantikan oleh Hajib al-Rahman Sancol. Karena ia 
tidak berkwalitas dalam memegang jabatannya sehingga dimusuhi penduduk dan 
kehilangan kesetiaan dari tentaranya. Akibatnya timbul kekacauan, karena tidak ada 
orang atau kelompok yang dapat mempertahankan ketertiban di seluruh negara. 
Akhirnya Hisyam II mema'zulkan diri pada tahun 1009 M, yang kemudian dipulihkan 
kembali tahtanya pada tahun berikutnya.  
Sejak itu sampai tahun 1013 M, ia dan 6 orang anggota Umayyah lainnya serta 
tiga orang anggota keluarga setengah Barber masing-masing menjabat khalifah 
sementara. Dalam masa lebih kurang  22 tahun (1009-1031) M terjadi 9 kali 
pertukaran khalifah, tiga orang di antaranya dua kali maenduduki jabatan khalifah 
pada priode tersebut. Pada tahun 1031 M  khilafah dihapuskan oleh orang-orang 
Cordova. (Hitti, 1970: 218). 
3. Munculnya Raja-raja Kecil 
Timbulnya Perpecahan Dinasti Umayyah di Spanyol ditandai dengan
munculnya raja-raja kecil,  di antaranya Dinasti Abbadi. Dinasti Murabit, Dinasti 
Mmuwahhid, dan Dinasti Bani Nasr. (Nasution, 1985, 78). Mereka saling beperang 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
15dan mengadakan aliansi baik dengan penguasa Muslim atau dengan penguasa Kristen 
(Aragon dan Castille) yang dulu tidak dihancurkan oleh Musa Ibnu Nusair di zaman 
Bani Umayyah yang berpusat  di Damaskus, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh 
orang-orang Kristen, munculnya dinasti-dinasti kecil ini, yang menurut W. 
Montgomery watt, berjumlah sekitar tiga puluh negara kecil disebabkan penghapusan 
khilafah. 
4. Adanya Permintaan Bantuan terhadap Kekuasaan Luar. 
Munculnya Dinasti Murabit dari Afrika Utara, yang datang ke Spanyol atas 
permintaan al-Mu'tamin untuk membantu  untuk melawan Al-fonso, Raja castille. 
Dengan bantuan ini al-Mu'tamin, Amir  Cordova dapat mengalahkan al-Fonso VI. 
Tetapi, sayangnya dengan kemenangan ini Yusuf Ibnu Tasyifin, raja Dinasti Murabit 
berhasrat hendak menguasai kekayaan Spanyol. Dua tahun kemudian Ibnu Tasyfin 
datang ke Spanyol, dan dalam waktu yang singkat Ia dapat menguasai Spanyol 
seluruhnya, karena perpecahan antara Arab dengan Arab dan antara Arab dengan 
Berber. Dengan demikian berdirilah di Spanyol Dinasti Murabit pada tahun 1090 M-
1147 M. Akibat tindakan Ibnu Tasyfin tersebut timbul perpecahan antara muslim 
Spanyol dan Muslim Arab. Orang-orang Arab yang merasa tertekan meminta bantuan 
kepada Dinasti Muwahhidin di Moroko. Dinasti ini tidak menyia-nyiakan permintaan 
bantuan orang-orang Arab, mereka datang menyerbu Spanyol dan dengan mudah 
mereka dapat menguasainya. Hilanglah Dinasti Murabit dan berdirilah Dinasti 
Muwahhidin di Spanyol.  
5. Melemahnya Kekuatan Militer dan Ekonomi 
Disintegrasi politik yang terjadi  pada waktu itu menyebabkan lemahnya
kekuatan militer dan ekonomi, sedangkan faktor ekonomi sangat memegang peranan 
penting dalam mempersiapkan biaya perang. Orang-orang Kristen rupanya tahu 
tentang keadaan umat Islam yang sudah oyong itu. Oleh karena itu, pangeranpangeran Kristen di Utara memperkuat  posisi mereka untuk memerangi kaum
Muslimin yang telah berpecah belah. Orang-orang Kristen yang semula pada abad ke-
10 membayar upeti kepada orang Islam, tetapi menjelang pertengahan abad ke-II 
mereka dengan leluasa menuntut pembayaran upeti dari beberapa penguasa kecil 
Islam.
Perbatasan kekuasaan Kristen makin meluas ke sebelah Selatan. Peristiwa
terpenting adalah tahun 1085 ketika penguasa Teledo yang lemah tidak mampu 
menahan tekanan raja Castille sehingga menyerahkan kota tersebut kepadanya. 
Teledo memiliki pertahanan yang kuat, karena di jaga di tiga sisinya oleh sungai 
Tagus, dan tidak pernah dapat direbut kembali oleh orang-arang Islam.
6. Munculnya Kekuatan Kristen di Spanyol  
Bersatunya dua kerajaan Kristen, Lean dan Castille pada tahun 1230 M, telah 
meningkatkan usaha perebutan kekuasaan terhadap kekuasaan Islam di Spanyol
semakin efektif. Tahun 1236 M. Cordova dapat direbut, dan tahun 1248 M. Seville 
jatuh pula ke tangan orang-orang Kristen. Pada waktu yang bersamaan tentara Castille 
semakin kuat, dan satu persatu kota-kota  kekuasaan Islam dapat dikuasainya. Kota 
Malaga pun jatuh satu tahun kemudian. Kemudian, orang-orang Kristen 
merencanakan untuk mengambil alih kosta Granada yang masih bertahan. Penaklukan 
Granada ini tertunda disebabkan oleh terjadinya perselisihan antara Castille dengan 
Aragon. Namun, perselisihan tersebut tidak berlangsung lama, karena hubungan 
mereka membaik setelah Ferdinand II dari Arragon menikah dengan Isabella dari 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
16Castille pada tahun 1469 M. Pada tahun 1490 M, Ferdinand membawa pasukan 
berkuda lebih kurang 10.000 orang, dan menyerbu Granada sampai la memperoleh
kemenagan. Dengan jatuhnya Granada, maka hancurlah kekuasaan Islam di Spanyol 
dan negeri itu kembali dikuasai oleh Kristen. (Hitti, 1970: 555). 
Pada tahun 1499 M, Cardinal Ximenes de Cismero melarang beredarnya 
buku-buku Islam dan ia membakarnya, bahkan pada tahun 1556 M, Philip II membuat 
undang-undang bagi orang-orang Islam yang tinggal di Spanyol untuk meninggalkan 
kepercayaan, adat istiadat, bahasa, dan pandangan hidup mereka. Hanya ada dua
pilihan bagi orang-orang Islam, masuk agama Kristen atau meninggalkan Spanyol. 
Undang-Undang tersebut di pertegas oleh Philip III, banyak orang Islam yang 
dibunuh atas perintah raja Philip III. Nampaknya, kekejaman yang dilakukan itu 
merupakan cara untuk melenyapkan Islam sampai ke akar-akarnya. 
BAB III 
KESIMPULAN 
Dari sejumlah uraian di atas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa masuknya 
Islam di Spanyol berbeda dengan masuknya Islam di daerah lain. Datangnya Islam ke 
Spanyol atas permintaan dari pendududk setempat dan kedatangan Islam di Spanyol 
ternyata memberikan kontribusi yang tak ternilai, baik kepada dunia Islam, terlebihlebih kepada dunia Barat, dalam hal ilmu pengetahuan dan peradaban. Kontribusi 
tersebut bisa terlaksana karena sikap ilmiah-konstruktif yang secara umum menyertai 
para ilmuan dalam melakukan kajian-kajian ilmiahnya. Sikap toleransi yang 
proporsional dalam komposisi masyarakat yang tingkat heterogenitasnya yang cukup 
tinggi, ternyata telah menghasilkan efek sinergi positif yang luar biasa dalam 
membangun sebuah nilai peradapan yang pluralistik. 
Kemajuan yang dibawa dan diperkenalkan Islam dengan dunia barat ditandai 
dengan munculnya tokoh-tokoh ilmuwan dan filosouf dari negeri tersebut. Spanyol 
pulalah yang menjadi gerbang utama masuknya Islam ke dunia Barat dan kemudian 
membangkitkan Barat dari dunia kegelapan dan memperkenalkan pada kemajuan. 
Kekuasaan Islam di Spanyol yang  telah mencapai puncak kejayaannya 
kemudian mulai melemah kemudian mundur  dan hancur secara perlahan akibat
berbagai faktor. Diantaranya faktor utama penyebab kehancuran tersebut adalah 
akibat terjadinya disintegrasi yang menyebabkan munculnya kerajaan-kerajaan kecil 
yang berusaha memerdekakan diri. Kekuasaan Islam kemudian digantikan oleh 
kekuasaan Kristen dan berusaha menghapus habis seluruh pengaruh Islam dan 
menghilangkan Islam dari bumi Spanyol. 
DAFTAR PUSTAKA 
Arsyad, M. Natsir, 1988, IImuan Muslim Sepanjang Sejarah, Mizan, Bandung. 
Arabi, Ibnu, 1988, Misykat al-Anwar, edisi bahasa Indonesia; (Relung Cahaya) oleh 
Ari Anggari, Pustaka Firdaus, Jakarta. 
Brackkelman, Carl, 1970, History of Islamic Peoples. Putnames Sona, New York. 
Chejne, Anwar G, 1974, Muslim Spain:  Its History and Culture, Menneapolis, The 
University of Minnesota Press. 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
17Dozy, Reinhart, 1972, Spanish Islam, judul Asli: Historoire des Musulmans 
d'Espagne, penerjemah: F.G. Stokes, Cet. Frank Class and Company Limited, 
London. 
Hitti, Pilip K, 1970, History of The Arabs, edisi ke-10, London Macmillan . 
Imamuddin, S.M. 1981, Muslim Spain, 711-1492 AD: A Sociological Study, Leiden : 
E.J. Brill. 
Khan, Abd Rahman, 1980, Muslim Constribution to Science Delhi. 
Khaldun, Ibnu, t.t. Muqaddimah, edisi. bahasa  Indonesia penerjemah Tim Pustaka
Firdaus,    cet. Ke-1, Pustaka Firdaus Jakarta. 
Ma'arif, Syafi'l, 1994, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, cet. ke-2, Mizan, 
Bandung. 
Madkour, lbrahim, 1988, Fi al-falsafah al- Islamiyah manja wa Tatbiquha, terjemahan 
(Filsafat Islam metode dan Penerapan oleh Yudian Wahyudi, Jakarta, Rajawali. 
Mahmudunnasir, Syed, 1993, Islam Konsepsi dan Sejarahnya cet. III Remaja
Rosdakarya,  Bandung. 
Madjid, Nurcholis, 1995, Islam Agama Peradaban Membangun Makna dan Relevansi 
Doktrin Islam dalam Sejarah Paramadina, Jakarta. 
Nasution, Harun, 1978, Islam Ditinjaiu dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, Universitas
Indonesia, Jakarta. 
AI-Qadir, C.A., Philosophyand Science in the Islamic World edisi Bahasa Indonesia 
(Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam), alih bahasa Hasan Basri, 1989, 
Yayasan Obor Indonesia Jakarta. 
AI-Siba'l, Musthafa. 1992, Min Raw'i Hadaratina, ed Bahasa Indonesia (Peradaban 
Islam Dulu, Kini dan Esok), alih bahasa R.b. Irawan dan Fauzi Rahman, 1992, 
Gema Insani Press Jakarta. 
Siddiqi, Amir Hasan, 1985, Studies in Islamic History ed bahasa Indonesia, alih 
bahasa M.J. Irawan, cet. ke-10, Al-Ma'a Bandung. 
Sou'yb, Yoesoef, 1977, Sejarah Daulat Umayyah di Cordo Bulan Bintang, Jakarta. 
Syalabi Ahmad, 1979, al- Tarikh aI-Islam wa al-Hadharat Islamy, Maktabat, alNahdhat al-Misriyyat, Cairo. 
Watt, Montgomery dan Cachia, Pierre, 1992, A History Islamic Spain, Edinburgh 
University Press. 
William Benton Publisher, 1970, Encyclopedia Britanica, Vol:20, USA. 
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 
18

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Berilah Komentar!!
Trimakasih atas kunjungannnya.

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...