Translate This

->

Tuesday, June 19, 2012

Hanya opini :Hukum Buwuh , Wajib Atau Sunnah??


Buwuhan adalah tradisi sumbang menyumbang suatu hajatan seperti sunatan dan pernikahan di dalam masyarakat Jawa. Adapun buwuhan bisa merupakan uang atau bahan pokok yang umum di masyarakat sekitar atau bahkan barang non pokok  yang sudah menjadi kesepakatan sebelumnya. Buwuhan diklaim banyak 'jawiyyin' sebagai ajang kerukunan dan temu kangen. Tak heran jika pesta yang diadakan akan melebihi kemampuan finansial sang tuan rumah karna mengundang seluruh masyarakat baik yang dikenal maupun tidak, baik yang ada hubungan darah maupun tidak. Tidak jarang ada kejadian orang yang menyapa anda di persimpangan jalan meski bertahun tahun tidak menyapa , namun esok harinya Anda diundang dalam pesta orang tersebut padahal tidak ada interaksi apa apa selama ini. Sampai pada tahap ini , anda akan terjebak dalam dilemma, jika tidak hadir maka kemungkinan anda akan dikucilkan, namun jika anda hadir maka akan ada pengeluaran non oprasional keluarga yang harus dikeluarkan. Opini saya ini di luar kontek sedekah dan zakat, karna sedekah dan zakat ada mustahik yang diatur oleh Allah SWT. Bagi orang kebanyakan dengan tingkat ekonomi pas pasan bahkan nunggu BLT pemerintah untuk pengeluaran non rutin, kalau jumlah yang punya hajat dalam sehari hanya satu orang mungkin akan ada sumber keuangan yang akan menutupi. Lain halnya jika sampai lebih dari satu orang maka itu akan lain lagi ceritanya. Perlu diketahui bahwa buwuh terbagi menjadi 2 bagian menurut nominalnya :
1. Buwuh Reguler.  Nominal buwuh ini biasanya berbanding lurus dengan upah satu hari kerja bagi rakyat biasa. Untuk ukuran yang berlaku sekarang di tempat saya bernilai sekitar 2.5 kg harga beras bagi pria dan 1.5 kg beras bagi wanita. Namun takaran ini nampaknya tidak berlaku ditempat lain yang menggunakan standar lebih dari 2 hari kerja, semua itu tergantung kontrak  pada masyarakat.
2.Buwuh Non Reguler.  Nominal untuk buwuh pada tingkat ini biasanya tergantung kesepakatan ekslusiv antar dua belah fihak jauh hari sebelum acara berlangsung. Misalnya saya buwuh pada "fulan" satu juta rupiah yang dijanjikan akan dikembalikan ketika saya mengadakan pesta dengan nominal itu. Atau dalam bentuk lain misalnya saya buwuh "terop" , yang pada gilirannya nanti akan dikembalikan dalam bentuk yang sama.

Dalam perekembangan yang seiring dengan zaman yang berputar , buwuhan sekarang ini sudah tidak berpijak dari adat jawa Islam  namun lebih banyak disusupi oleh nilai nilai kapitalisme. Secara logika, yang punya hajat adalah orang yang butuh doa dari masyarakat agar cita-citanya yang besar nan agung dikabulkan oleh Allah  dengan demikian seharusnya yang datang malah justru tidak perlu mengeluarkan 'biaya' untuk segala 'makanan dan minuman yang dikonsumsi selama pesta berlangsung karna doa mereka lah yang dibutuhkan, kalau saja logika ini diterapkan maka tidak akan ada pesta yang diadakan melebihi kapasitasnya secara finansial yang justru akan menjadikan dia tentram karna tidak ada tagihan biaya pesta yang bejibun begitu 'party is over'. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya dari logika ini, acara dibikin semeriah mungkin masalah biaya difikirkan belakangan. Tidak jarang ditemui , orang yang hadir dengan membawa uang sedikit akan dicemooh (amplop dibuka setelah pesta, meski tidak diberi nama akan ketahuan bagian keuangan yang sudah siap di meja resepsionis akan memberikan tanda) di lain waktu atau yang tidak hadir karna memang tidak ada uang atau dana untuk buwuhan tersebut akan dikucilkan Semua itu karan buwuhan sudah disusupi faham kapitalisme. Lebih lebih ketika uang buwuhan terenyata tak mampu menutup biaya oprasional pesta , bisa bisa blog 'islam for all ' dihujat.
Saya sendiri sejak awal menolak menerima uang buwuhan yang saya mulai dari pesta pernikahan saya sampai sunatan anak saya yang laki laki (hi hi hi), meski tetap hadir dalam berbagai undangan untuk buwuh dengan finansial yang terukur sesuai dengan ekonomi saya sebagai wiraswasta. Karna jika saya menerima  uang buwuhan ,maka saya tidak akan bisa menulis artikel ini dengan visi yang berbeda.
Prinsip Islam jelas:
Laa yukallifu llohu nafsan illa wus'aha
Allah sekali kali tidak membebani hambanya diluar kapasitasnya.
Jadi buwuhlan atau adakan pesta sesuai dengan finansial anda!! atau jangan buwuh kalau harus ngutang, kalau terpaksa ngutang untuk buwuh maka lebih baik utang ke IBF( Internasional Buwuh fund)!!
Pernikahanku yang sederhana




Nur Kholis Ghufron.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Berilah Komentar!!
Trimakasih atas kunjungannnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...