Translate This

->

Saturday, June 9, 2012

Saya Menolak Kepemimpinan Said Aqil Siraj


Banyak hal yang saya nilai dari gerbong Nahdhatul Ulama sudah keluar dari khittahnya sebagai ormas Islam yang teguh dalam pendirian  selalu menjaga dari rongrongan pengaruh negatif. Hal ini dilalui NU ketika dipimpin oleh Ulama ulama yang berfihak kepada Islam dan Ummat Islam. Tidaklah heran jika karna Istiqomah dalam berpegang teguh ini , mengantarkan NU dalam merebut kemenangan demi kemenangan mulai dari zaman penjajahan Belanda sampai penumpasan G 30 S PKI. Seiring waktu, giliran NU dipimpin oleh orang orang yang tidak berfihak kepada Islam dan Ummat Islam. Pemimpin yang 'menikmati' fasilitas fasilitas organisasi dan mempergunakannya untuk kepentingan marjinal . Dalam setiap kesempatan selalu saja membela orang orang yang banyak memusuhi Islam dan kaum Muslimin dengan memakai dalil "Pancasila" dan sebangsanya. Apapun yang menimpa kaum Muslimin dianggap angin lalu dan ketika mushibah menimpa non Muslimin maka dengan lantang dia akan berdiri dari kursinya mengatakan bahwa ini adalah kesalahan orang Islam dan Ham  harus ditegakkan.
Orang macam apa sekarang yang memimpin NU?
Saya tidak tahu pasti orang macam apa beliau sekarang ini. Statemennya sangat inkonsisten dan sering kali kepada idenya pun tidak konsisten. Ketika ada yang melontarakan ide syariat Islam, maka dengan berapi api menolak dengan dalil bahwa negara kita bukan negara agama. Ok itu bagus. Tapi dalam hal pendapatnya bahwa negara kita bukan negara agama , saya menantang beliau untuk menghapus libur pada hari minggu dan mengganti dengan hari lain selain sabtu, minggu dan Jumat. Jadi libur sekolah harus memilih hari hari senin, selasa, rabo, kamis karna hari hari itulah yang bebas dari klaim agama agama tertentu (agama samawi) sehingga negara ini harus bebas dari pengaruh agama menurut argumentasinya.
Saya tantang beliau untuk menghapus sila pertama Pancasila , karna dalam sila pertama itu jelas mengandung agama yang mempengaruhi kehidupan bernegara dan berbangsa.
Nama beliau juga harus diganti karana dulu bapak beliau  memberi nama tersebut dengan referensi agama Islam yang menjadikan bahasa arab sebagai induk, karna  Al Quran berbahasa arab dan peradaban Islam menggunakannya di zaman keemasan Islam.Jadi ganti saja dengan bahasa non arab seperti Happy Thingker Lamp dlsb.
Kalau tantangan yang pertama saja beliau mampu berbuat  maka saya akan salut kepada beliau namun jika tidak maka saya menolak kepemimpinan beliau sebagai PBNU. Karna beliau inkonsisten. NU butuh pemimpin yang konsisten dalam kepemimpinan.
Nahdiyyin harus benar benar sadar akan hadits nabi yang meramalkan adanya ulama-ulama yang faham ilmu agama dan bahkan pernah menimba ilmu di negri turunnya wahyu, Ulama-ulama tersebut malah menjadi penyeru kaum muslimin untuk untuk menghancurkan moral. Ulama tersebut malah melegitimasi suatu kemaksiatan apapun bentuknya. Ibarat orang yang merajut kain, mereka adalah orang orang  yang mengurai kembali kain yang sudah selesei dirajut.






Nur Kholis Ghufron

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Berilah Komentar!!
Trimakasih atas kunjungannnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...