Translate This

->

Monday, January 9, 2012

Ghosob sandal dan curi sandal

Beberapa hari ini masyarakat awwam disuguhi satu kosakata yang sebenarnya sudah cukup familiar di telinga kita karna fungsi dari benda tersebut yang tidak bisa 
tidak sangat akrab dengan aktivitas sehari hari.
Sandal ya sandal..itulah kosa kata yang saya maksud.
Namun sepertinya ada yang membuat kosa kata "sandal" ini menjadiluar biasa sehingga makna dari kosa kata tadi mampu menggugah kepedulian masyarakat umum untuk memperjuangkan suatu keadilan dengan modal sandal bekas maupun sandal yang tidak lagi berpasangan.
Berawal dari pencurian sandal yang pelakunya sempat mendapat perlakuan kasar bahkan tidak mencerminkan negrihukum oleh beberapa oknum kepolisian. walaupun demikian menuruf Mahfud Md  sudah benar vonis bersalah pada pencuri sandal tersebut meski masih anak-anak. Karna kalau hanya dengan alasan anak anak hukum diabaikan akanmenjadi preseden buruk bagi "law enforcement" di masa-masa mendatang.
Masih mengenai pencurian sandal, saya teringat ketika menjadi calon santri (capel) di Pondok Modern Gontor Ponorogo. di suatu pagi yang cerah dan matahari mulai menyinari sederet asrama santri di bulan Ramadan dua puluh tahun yang lalu (1988), sewaktu hendak berangkat menunaikan sholat berjamaah di masjid Jami' Gontor tiba-tiba sandal jepit saya dighosob oleh calon santri yang kebetulan saya kenal. Sepanjang perjalanan ke masjid, karna tidak pakai sandal, saya merasakan jengkel luar biasa dan mendoakan yang bersangkutan tidak masuk surga.Walaupun demikian saya tetap berpegang teguh pada  prinsip "orthodox" (maksudnya tidak balas cari ghosoban dari yang lain) alias tetep "nyeker" ke masjid pada waktu itu. 
Perasaan jengkel karna "nyeker" rupanya terbawa di memory saya selama puluhan tahun sampaipun ketika suatu saat secara kebetulan bertemu dengan penggoshob sandal saya pada tahun 2010 yang lalu, muncullah ingatan tadi dengan jelas.
Itulah intemezzo saya ketika di Pondok berinteraksi "kosakata" sandal.
Apakah sama antara ghosob dan mencuri sandal dalam konteks ini?? saya kira tidaklah sama.Ada perbedaan fundamental yang berkaitan dengan Subjek maupun objek.
Santri mengghosob sandal biasanya hasilnya juga beredar di kalanggan santriyang luas di lingkungan pesantrentadi, dalam kata lain menimbulkan efek domino atau menimbulkan ghosob jama'i.
Namun yang paling penting adalah sandal ghosoban tidakuntuk diperjualbelikan yang hasilnya untuk kenikmatan individual. Mungkin faktor kepepet ekonomi (belum ada kiriman wesel uang untuk beli sandal) dan faktor disiplin waktu yang ketat di pondok menjadi pemicunya.
Berbeda dengan kasus pencurian sandal ini , subyek memilih target sandal yang mempunyai nilai jual untuk diuangkan dan atau  dikonversikan dengan rokok dll demi memperoleh kepuasan dan kenikmatan atau bahkan untuk investasi kriminalitas selanjutnya.

Nurkholis Ghufron.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Berilah Komentar!!
Trimakasih atas kunjungannnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...