Translate This

->

Friday, June 15, 2012

OLIVETTI, PAKU BENGKOK DAN SAUDARA SYAITAN


Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)

Tahun 1981 di gontor baru ada mesin ketik, bahkan sebagian kelas belajarpun masih dari gedek sampai yang temboknya hanya setengah saja. Saat inipun saya tidak bisa menukar ingatan dengan kondisi baru gedung2 megah Komsol, Satelit, Madinah, Baitul Millah, rumah Pak Zar, gedung asia sampai dapur guru yang becek berlantai tanah. Berkali saya datang ke Gontor 1 dan melihat langsung gedung2 baru itu tapi memori saya tetap menampak bangunan2 lama dimana dulu kami begedab begedebuk memukul meja waktu muhadloroh (latihan pidato).
Kembali ke mesin ketik; Suatu siang Kyai Haji Imam Zarkasyi meninjau ruangan Sekretaris OPPM yang kala itu dipegang oleh seorang teman bernama Muhammad Hisyam Asikin asal Banyumas. Beliau ternampak diatas lemari ada sebuah mesin ketik yang tidak terpakai. usut punya usut ternyata mesin itu rusak dan onderdil mesin ketik buatan Brazil itu sudah tak ada lagi di tukang servis. Beliau dengan ringkas memerintahkan betulkan sampai bisa dipakai kembali. Ingat berapa kemajuan yang tertunda akibat nganggurnya mesin ketik itu.

Akhirnya Bagian Sekretaris OPPM memutuskan membeli mesin ketik baru karena kalau menservice mesin rusak itu akan menghabiskan ulang tiga kali lipat ketimbang mesin baru merek brother yang buatan Jepang.
Beberapa bulan setelah itu, kami melihat lagi Kyai Zarkasyi jalan mengarah ke kantor bagian Sekretaris. Tak kami duga-duga ternyata beliau mengecek apakah perintahnya telah dilaksanakan atau tidak. Saudara hisya Asikin dengan tenang menjawab: Kami beli mesin baru Pak Kyai, karena biaya perbaikan nilainya tiga kali lipat dari mesin baru ini.
Mendadak Kyai Zarkasyi memandang tajam kepada kami semua…katanya tegas: Sekarang mesin lama yang rusak dan sia-sia ini akan kamu apakan? Selama di dalam Pondok ini ada benda-benda ditelantarkan, di sia-siakan maka selama itu Allah akan menahan riskinya untuk kita dan syaitan menjadi saudara kita. Dengan kecewa beliau berbalik mengarah kerumah beliau yang memang tidak lebih baik dari gedung terburuk di Gontor 1 saat itu.
Saat pulang kembali itu saya melihat beliau menunduk di bawah pohon trembesi, didepan etalase koran, tepat di depan Perpustakaan. Rupanya beliau memungut sebuah paku karatan dan bengkok. Mungkin sudah riski saya untuk mendapatkan wejangan beliau…saya dipanggilnya : heiiii kemari kamu. Labbaik ya syaikh jawabku.
Dengan lirihnya beliau menunjukkan paku bengkok itu dan mewejangi: ” Ini benda amal jariah orang, tidak boleh disia-siakan. seperti juga remah-remah nasi yang kita makan tidak boleh dibuang-buang, kita tidak tahu mungkin disinilah Allah merahasiakan barakah-Nya”
Ibu-bapak dan saudara2 yang saya hormati, pengaruh nasihat itu mengakar dalam qalbu saya sehingga saya sangat (nampak dimata teman-teman) sebagai pecinta barang rongsokan. Sesungguhnya saya hanya tidak berani melangkahi nasihat Kyai Zarkasi sekalipun beliau kini sudah wafat dan sayapun telah jauh di Lombok. Mungkin tamu-tamu yang datang kerumah heran melihat wadah-wadah bertumpuk tempat menaruh barang2 bekas. Insya Allah benda-benda itu hanya sementara disana menunggu tempat yang pantas untk digunakan.
Secara tak terasa, barang bekas mendidik kita untuk kreatif bagaimana memanfaatkan sesuatu.
Malam ini cukup dulu ibu bapak walsantor
http://mujaddid-sabang.blogspot.com/2012/03/gontor-from-inside-4.html

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Berilah Komentar!!
Trimakasih atas kunjungannnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...