Translate This

->
Showing posts with label Bosnia-Herzegovina. Show all posts
Showing posts with label Bosnia-Herzegovina. Show all posts

Saturday, April 28, 2012

Bones Tell Tale of Suffering Before Bosnian Genocide


Stephanie Pappas, LiveScience Senior Writer

The victims of the mid-1990s genocide in Bosnia were allowed to suffer long before Bosnian Serb forces began their massacres, according to a new study of bones from mass graves in the region.
The bones of the victims are scarred with telltale signs of chronic disease and birth defects, suggesting that this population of Bosnian Muslims endured a lack of health care long before the Bosnian conflict turned violent.
"They had been marginalized for a long time," study researcher Ann Ross, an anthropologist at North Carolina State University, told LiveScience. "They had very poor health care. For example, there were a couple of individuals that had significant ear infections that had produced even the breakdown of bone. … Obviously, that was telling me they didn't even have access to antibiotics that could have dealt with that issue."
Ross said that the research could help policymakers identify marginalized populations who are at risk of having their countrymen turn against them. [Read: The History of Human Aggression]
Hobi main games? games-consoles.tokobagus.com
Temukan games & console favorit terlengkap seIndonesia cuma disini!
Play Games on Facebook www.Facebook.com
1000's of Free Games On Facebook To Choose From. Start Playing Now!
Info lapangan kerja www.berniaga.com
Ratusan lowongan Kerja tersedia, Temukan Posisi impianmu sekarang!
"This is the first time that the actual health of a population has been measured in victims of genocide," Ross said, pointing out that known risk factors for genocide are often anecdotal.
The study will appear in the fall issue of the journal Forensic Science Policy and Management.
Buried bones
In July 1995, Bosnian Serb forces besieged the town of Srebrenica in Bosnia and Herzegovina. "Ethnic cleansing," or the forced removal of Bosnian Muslims, had been under way for several years, with many detained or forced to flee homes destroyed by Serbian troops. On July 11, Srebrenica fell. In the aftermath, approximately 8,000 Muslim men and boys were separated from their families and executed. In 2004 in The Hague, the International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia declared what happened at Srebrenica as genocide.
Ross became involved in 1997 in the aftermath of the massacre, taking several trips to the area to help identify bodies pulled from mass graves. She also helped set up a database of unidentified sets of remains, of which there are more than 1,000.
"While I was gathering information for this database, I noticed that there were a lot of anomalies visible on these skeletons that were unusual for developed countries," Ross said. In fact, 35 percent of the 142 unidentified Bosnian bodies examined for the study showed signs of either birth defects or acquired health problems. There were ear infections and evidence of bone inflammation. Six people had spina bifida occulta, a congenital condition in which the spine doesn't fuse properly. This condition is often caused by a lack of folic acid during pregnancy, suggesting that the mothers of the genocide victims had suffered from poor nutrition years before the massacre. [Read: The 10 Worst Hereditary Conditions]
Ross collected this information, hoping it would aid in identifications. Later, it occurred to her that she was seeing the precursor to the genocide in the bones of the victims.
"It's very emotional, because you are looking at the life history of a person when you look at the bones," Ross said. "And they are telling a story. They're telling you that their lives weren't so great to begin with. They weren't healthy individuals, and a lot of them suffered from things that were avoidable."
Preventing genocide
Poor health suggests a lack of respect and care for a group of people, but there are also other signs of a potential genocide. According to the international organization Genocide Watch, some of the warning signs include: an "us versus them" attitude in a country; a pattern of dehumanizing victims (in the 1994 Rwandan genocide, for example, the majority Hutu people referred to the minority Tutsis as "cockroaches"); and symbols to mark potential victims (including the yellow stars that Jews had to wear in Hitler's Germany). After the fact, the killers usually deny that genocide took place. But scientific evidence of victims' marginalized heath should spur the international community to action, Ross said.
"Government agencies are slow to even call these situations 'genocide' because that means involvement," Ross said. "So now, instead of going in and acting after the fact in the identification of individuals, I think we should be more aware and actually try preventative measures before this happens."

In Memoriam: Bosnia Herzegovina ; siapakah Yang Layak disebut Teroris??


Sebrenica adalah nama kota di Bosnia Herzegovina. Kota ini menyimpan kenangan buruk tentang genosida massal oleh tentara Serbia pimpinan Ratko Mladic peristiwa ini sangat berbau rasisme antara suku serb dengan muslim bosnia, Dalam waktu 3 minggu Pasukan serbia pimpinan ratko mladic berhasil menewaskan 8300 warga sipil Muslim Bosnia, ini adalah genosida massal terbesar setelah Perang dunia kedua dizamannya sebelum Genosida Rwanda. Pembantaian massal yang terjadi di Bosnia – Herzegovina merupakan salah satu dari banyak contoh genosida yang telah terjadi selama ini. Peperangan yang berawal dari perbedaan cara pandang mereka dalam memahami keyakinan dan kepentingan satu sama lain berujung pada peristiwa pembantaian massal yang dilakukan oleh tentara Ultra nasionalis Serbia terhadap etnis Bosnia yang mayoritas Islam. Ketika peperangan berlangsung banyak dari tentara Ultra nasionalis yang melakukan kekejaman tiada tara seperti pembunuhan terhadap penduduk sipil (terutama warga Muslim), pemerkosaan massal, pemindahan penduduk secara paksa, dan pengerusakan fasilitas umum. Pembantaian penduduk sipil di Bosnia telah menjadi saksi sejarah yang teramat penting dan menyakitkan bagi umat Islam dan umat lain di dunia, lalu mengapa hal yang amat biadab tersebut dapat terjadi ?
Awal Dari Sumbu Konflik
Quote:

Quote:

Spoiler for turki ustmani
Empat abad yang lalu semenanjung Balkan khususnya wilayah Yugoslavia berhasil di rebut oleh Kesultanan Turki Ustmani dari pihak suku – suku lokals. Dengan keberhasilan invasi militer Kesultanan Turki Ustmani di wilayah itu, maka di mulailah imigrasi berbagai kelompok Kristen Ortodoks ke arah kawasan utara Balkan. Para imigran ini menetap bersama sebagian besar penduduk kawasan tersebut yang telah beragama Islam meski sebagai pengungsi.
Perselisihan antar etnis di wilayah Yugoslavia mulai muncul ketika imperium Kesultanan Turki Ustmani mulai melemah di semenanjung Balkan pada akhir abad ke 19. Kawasan Bosnia dan Kosovo menjadi titik awal ketegangan di wilayah Yugoslavia sepeninggal penguasa mereka Kesultanan Turki Ustmani. Etnis Serbia dan Bulgar berpandangan bahwa etnis Bosnia merupakan orang – orang yang terpaksa memeluk agama Islam di bawah pemerintahan Kesultanan Turki Ustmani, etnis Serbia yang terkenal militan percaya bahwa merekalah penduduk asli Yugoslavia dan umat Islam merupakan perampas tanah air mereka.Pada tahun 1912 ketersinggungan yang mengakibatkan kepahitan di Balkan telah menciptakan suatu ketegangan yang siap untuk meletus. Dominasi panjang Kesultanan Turki Ustmani atas wilayah Balkan khususnya Yugoslavia tidak bisa lagi dipertahankan. Di dorong oleh Czar Rusia yang menganggap dirinya sebagai pelindung dari etnis Serbia dan Bulgar Ia menginstrusikan untuk membentuk Liga Balkan pada tahun 1912. Pembentukan organisasi tersebut terjadi akibat etnis – etnis yang beragama Kristen Ortodoks yang mayoritas bersuku bangsa Slav diperlakukan tidak manusiawi oleh pemerintahan Kesultanan Turki Ustmani di wilayah kekuasaan mereka.[2] Konflik tersebut akhirnya berujung pada peperangan antara Kesultanan Turki Ustmani dan Liga Balkan selama satu tahun.
Perjanjian Bucharest tanggal 10 Agustus 1913 akhirnya mengakhiri perang tersebut dimana Kesultanan Turki Ustmani kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaanya di semenanjung Balkan. Akhirnya para pemimpin Kesultanan Turki Ustmani mempertahankan Adrianopel sebagai benteng pertahanan terakhir mereka. Sementara itu dengan melemahnya kekuatan Kesultanan Turki Ustmani di semenanjung Balkan membuat etnis Serbia semakin kuat posisinya di wilayah Yugoslavia.
Dengan berakhirnya pasang surut ini, umat Islam di wilayah Yugoslavia yang mayoritasnya tinggal di Bosnia, Albania, dan Kosovo berusaha untuk memelihara identitas Islam mereka secara total dan menyatu dengan identitas sosialnya (etnis). Namun pada kenyataannya memelihara ke-Islaman mereka tidaklah mudah, sepeninggal kekuasaan Kesultanan Turki Ustmani dari wilayah Yugoslavia etnis – etnis tersebut kini menjadi kelompok minoritas yang sering menjadi korban penindasan dari etnis mayoritas seperti Serbia.

Pembantaian Massal di Neraka Bosnia
Quote:

Spoiler for map
Pada tanggal 3 Maret 1992 melalui sebuah penyelenggaraan referendum, rakyat Bosnia – Herzegovina menyepakati pemisahan diri mereka dari Yugoslavia dan dalam waktu singkat mendirikan negara Republik Bosnia – Herzegovina.
Pemisahan diri Bosnia ini menjadi titik awal dari perang etnis terbesar dalam sejarah Eropa kontemporer. Perang ini timbul akibat kekecewaan etnis Serbia yang bermukim di Bosnia atas hasil referendum sebelumnya. Dukungan terhadap etnis Serbia yang bermukim di Bosnia akhirnya datang dari tentara Ultra nasionalis Serbia di bawah komando Slobodan Milosevic.
Tentara Ultra nasionalis Serbia yang terkenal akan kekejamannya menjadikan kaum Muslim Bosnia sebagai target utama agresi mereka. Ribuan warga sipil Bosnia dibunuh secara membabi buta oleh tentara Ultra nasionalis Serbia setiap harinya. Ratusan perempuan Muslim Bosnia juga menjadi sasaran kebejatan moral tentara tersebut, banyak dari mereka yang diperkosa secara paksa. Akibat kekejaman tersebut rakyat Bosnia mulai bangkit dan mulai melakukan perlawanannya terhadap tentara Ultra nasionalis Serbia.
Spoiler for mayat
Serbuan tentara Ultra nasionalis Serbia dari arah timur dan utara semakin mencekik nasib warga sipil Bosnia. Wilayah timur Bosnia sebagian besar telah dikuasai oleh tentara Ultra nasionalis Serbia. Meskipun gerilyawan Bosnia memberi perlawanan yang gigih, bahkan terkadang berhasil merebut kembali kantung – kantung wilayah yang telah dikuasai lawannya, namun dari sudut militer mereka bukan lawan yang seimbang dengan tentara Ultra nasionalis Serbia yang cukup terlatih. Strategi Jendral Ratko Mladic yang menerapkan penyerbuan secara besar – besaran dalam suatu front melebar terbukti efektif mengurung posisi para gerilyawan Bosnia di wilayah pedalaman.
Suatu peristiwa berdarah yang tak akan terlupkan dari memori ingatan kita adalah pembantaian warga Muslim Bosnia di Srebenica oleh tentara Ultra Nasionalis Serbia. Pada tanggal 6 Juli 1995, tentara Ultra nasionalis Serbia dari korps Drina mulai menggempur pos – pos tentara Belanda di Srebenica. Akhirnya tanggal 11 Juli tentara Ultra nasionalis Serbia berhasil memasuki Srebenica. Srebenica yang terletak di wilayah Bosnia timur merupakan zona aman di bawah kendali tentara perdamaian PBB asal Belanda. Disanalah ribuan pengungsi Muslim Bosnia menggunakan daerah tersebut sebagai tempat pelarian dan penampungan sementara.
Anak – anak, perempuan dan orang tua berkumpul di Potocari (wilayah bagian Srebenica) mencari perlindungan dari tentara perdamaian Belanda. Namun ketika tentara Ultra nasionalis Serbia berhasil menyerbu masuk mereka meminta agar tentara perdamaian Belanda segera menyerahkan pengungsi Muslim Bosnia kepada mereka. Terjadi negosiasi antara pihak tentara Ultra nasionalis Serbia pimpinan Jendral Ratko Mladic dengan tentara perdamaian Belanda mengenai pertukaran 5000 pengungsi Muslim Bosnia dengan 14 tentara perdamaian Belanda yang ditahan tentara Ultra nasionalis Serbia. Permintaan itu pun disetujui kedua belah pihak. Tentara perdamaian Belanda lalu meninggalkan Srebenica beserta persenjataan dan perlengkapan mereka. Akhirnya secara sistematis tentara Ultra nasionalis Serbia membantai habis sekitar 5000 pengungsi Muslim Bosnia, dan tentara perdamaian Belanda hanya dapat membiarkan pembantaian keji tersebut.
Spoiler for korban
Perang Serbia – Bosnia berlangsung selama 43 bulan dan telah menewaskan 250.000 lebih warga Muslim Bosnia, dan 1.5 juta lainnya terpaksa hidup dalam pengungsian. Sebagian besar korban pembantaian yang dilakukan oleh tentara Ultra asionalis Serbia di kubur secara massal dalam suatu tempat guna menutupi kekejian mereka dari dunia internasional. Petinggi militer Serbia dan penguasa rezim fasis di Yugoslavia diduga menjadi otak dari semua peristiwa berdarah tersebut. Para tokoh seperti Radovan Karadzic, Ratko Mladic, Milan Gvero dan Soblodan Milosevic adalah arsitek utama genosida di Bosnia – Herzegovina.
.

QUOTE



Bosnia Herzegovina Peringati 20 Tahun Pembantaian Serbia



Courtesy by Youtobe 
Sebuah tragedi besar kemanusiaan terjadi ditengah jantung Eropa di Sarajevo yang sebelumya pernah menjadi tuan rumah Olimpiade Musin Dingin itu berubah menjadi medan pertempuran dahsyat sejak 6 April 1992.

Pasukan Serbia dan etnis Serbia di Bosnia dibahwa seorang jendral yang kejam Ratko Mladic melakukan penyerangan besar-besaran selama 44 bulan di Kota itu.

Perang yang dimulai pada April 1992 itu menjadi salah satu penyebab pecahnya Yugoslavia, yang merupakan salah satu konflik terkejam dan terburuk yang pernah terjadi di Eropa sejak Perang Dunia II.

Akibat perang tersebut, sekitar 100.000 orang tewas dan hampir setengah masyarakat terpaksa meninggalkan rumah mereka. Bosnia dan Herzegovina akhkirnya dikuasai oleh Serbia. Penguasaan ini telah melegalkan berbagai tindakan yang sangat tidak berprikemanusiaan pada warga Muslim di kota Sarajevo.

Penjegalan di Sarajevo saja tercatat sebanyak 11.541 orang yang terdiri dari wanita, laki-laki, dan anak-anak. Pembunuhan besar-besaran ini oleh PBB di golongkan ke dalam genosida terbesar yang pernah ada sejak setelah Perang Dunia II.

Jasad-jasad bergelimpangan disepanjang jalan-jalan di Sarajevo yang berubah menjadi merah darah. Pembunuhan dilakukan secara kejam dengan berbagai cara. Wanita-wanita diperkosa sebelum dilakukan eksekusi tanpa senjata api.

Peringatan terjadinya tragedi tersebut yang ke 20 kalinya ini dilakukan dengan membariskan kursi-kursi merah sepanjang jalan utama di Sarajevo yang disposnsori oleh sebuah organisasi yang bernama Sarajevo Red Line yang menandai merahnya jalan-jalan akibat darah korban pembunuhan tragedi tersebut. Sebagian warga ada yang meletakan bunga-bunga pada kursi-kursi tersebut untuk mengenang saudara dan kerabatnya yang menjadi korban.

Pembunuh Ribuan Muslim Bosnia Minta Strober


*Jangan Lupakan Bosnia
VIVAnews - Tersangka pembantai ribuan warga Muslim Bosnia, Ratko Mladic, menuntut macam-macam ketika dia dipenjara di Beograd, Serbia. Di antara permintaannya adalah buah stroberi dan novel dari penulis Leo Tolstoy.
Dilansir dari laman Associated Press, Jumat, 27 Mei 2011, Mladic dengan cirinya khasnya yang angkuh memakan stroberi sambil membaca novel ketika dikunjungi oleh sanak familinya di dalam sel. Selain stroberi dan novel, Mladic juga minta agar di kamar selnya disediakan televisi.
Mladic juga memohon izin agar dia diperbolehkan berziarah ke makam anaknya, Ana, di Beograd, yang tewas akibat bunuh diri pada 1994. 
Kendati Mladic adalah seorang tersangka kasus genosida, namun semua tuntutannya ini dipenuhi oleh petugas penjara. Hal ini dikarenakan Mladic pada Senin pekan depan akan mulai dipindahkan ke penjara internasional di Den Haag, Belanda, untuk menjalani pengadilan di Mahkamah Pidana Internasional atas tuduhan kejahatan perang.
Mladic yang saat ini berusia 69 tahun akan menjalani pengadilan bersama dengan penjahat perang Bosnia lainnya, Radovan Karadzic. Keluarga Mladic mati-matian membela Mladic dengan mengatakan bahwa dia terlalu tua dan sakit-sakitan untuk menjalani proses peradilan. Namun, pengadilan Serbia memutuskan bahwa Mladic masih cukup kuat untuk duduk di kursi pesakitan.
Mladic dan Karadzic dituduh sebagai pelaku genosida terhadap ribuan warga Muslim Bosnia di Srebrenica pada perang 1992-1998. Keduanya sempat buron, Kradzic tertangkap di Beograd pada 2008 dan Mladic tertangkap Kamis, 26 Mei 2011, di sebuah kota kecil, Lazarevo. (adi)

Jenderal Pembantai Menangis di Pusara Anaknya


*Jangan Lupakan Bosnia

Ana bunuh diri karena depresi mengetahui peran ayahnya dalam Perang Bosnia.


VIVAnews - Pembunuh berdarah dingin yang merenggut ribuan nyawa Muslim Bosnia, Ratko Mladic, ternyata tidak bisa menahan tangisnya di hadapan nisan anaknya. Tangisnya juga pecah saat berpamitan dengan istri dan adiknya untuk menjalani pengadilan di Den Haag, Belanda.
Pengacara Mladic di Beograd, Milos Saljic, dilansir dari Associated Press, Rabu, 1 Juni 2011, mengatakan sebelum meninggalkan Serbia pada Selasa malam waktu setempat, Mladic menangis ketika dikunjungi istri dan adik perempuannya untuk yang terakhir kali. 
Saljic mengatakan, istrinya membawakannya koper besar berisi pakaian untuk selama di penjara. Mladic tidak kuasa menahan haru dan air matanya tak terbendung lagi. Pada pelariannya selama 16 tahun, istrinya ini yang menemaninya di sebuah rumah di kota Lazarevo, sekitar 100 km dari kota Beograd.
Sebelumnya pada Selasa pagi, Mladic diberikan kesempatan untuk mengunjungi makam putrinya, Ana, di pinggiran kota Beograd. Kunjungan ini dirahasiakan oleh pihak Serbia demi menjaga keamanan dan kesakralan ziarah tersebut.
"Kami tidak mengumumkan kunjungannya ke makam karena ini adalah hal yang pribadi dan demi masalah keamanan," ujar wakil jaksa penuntut, Bruno Vekaric.
Pada kunjungan yang berlangsung selama 22 menit tersebut, Mladic membakar lilin dan menaruh karangan bunga mawar di pusara Ana. Vekaric mengatakan bahwa Mladic sempat menangis ketika menatap nisan putrinya yang mati bunuh diri itu. 
Ini adalah kunjungan Mladic yang pertama ke makam Ana selama masa pelariannya. Kemungkinan Mladic mengunjunginya ketika kabur sangat kecil, karena komplek pemakaman itu dipantau kamera pengawas 24 jam sehari.
Ana, 23 tahun, seorang mahasiswa medis, bunuh diri pada 1994 dengan menggunakan pistol ayahnya. Dia tidak meninggalkan secarik memo pesan, namun media menganggap Ana bunuh diri karena depresi mengetahui peran ayahnya dalam Perang Bosnia. 
Mladic membantah Ana mati bunuh diri. Dia mengatakan bahwa Ana dibunuh oleh lawan perangnya, karena pistol ditemukan di tangan kiri, padahal dia tidak kidal.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...