Translate This

->
Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Saturday, June 16, 2012

Gontor dan Setting Novel Pesantren


ni adalah resensi pertama saya yang dimuat oleh Koran Jakarta. Sebenarnya, ini adalah tulisan lama, namun, aku ingin nge-share untuk bisa dipampang di blog ini.. semoga bermanfa'at...





Judul : Opera van Gontor
Penulis : Amroeh Adiwijaya
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 1, Agustus 2010
Tebal : 300 halaman
Harga : Rp50.000

Jika kita sekilas melihat sampul buku ini terlihat seperti judul tayangan di stasiun televisi swasta. Novel karangan Amroeh Adiwijaya ini mengisahkan kehidupan kronik pesantren Gontor.
Di dalamnya tak lepas dari candaan yang sudah mentradisi. Novel pengalaman menyantri di Gontor ini merupakan potret atau kondisi pondok Gontor pada era 70-an.

Pada masa itu, beberapa tokoh bangsa ini dilahirkan dan ditempa untuk berbakti kepada Tanah Air. Judul Opera van Gontor sendiri merupakan rangkaian perubahan dan revisi setelah sebelumnya berjudul Don’t Cry for me Gontor, mengadopsi sebuah lagu dan film Evita Peron.
Buku ini mengisahkan kehidupan pondok pesantren yang penuh suka dan duka. Bagian pertama, Amroeh menceritakan pandangan pertamanya sewaktu mondok di Gontor.

Hal yang terngiang di pikiran tatkala kedatangan pertama di Gontor disambut dengan pelbagai ucapan kehadiran yang menggetarkan. Kalimat yang mampu memompa semangat dan motivasi belajar agar lebih mau berjuang dan bertaruh demi masa depan.

Gontor merupakan pondok pesantren modern yang mengajarkan santri untuk berkomunikasi dengan bahasa asing, Arab dan Inggris. Di sini, Amroeh menjelaskan secara detail bagaimana awal mula memilih untuk melanjutkan studi ke Gontor.

Berkat lobi sang Ayah kepada Dik Muhdi (alumnus Gontor), sekaligus juga hasil lobi dengan Pak H Achwan, Amroeh berhasil mengenyam pendidikan di sana, hal 12. Seperti kebanyakan santri yang baru memasuki jenjang pendidikan, Amroeh juga merasakan halnya yang sama. Pikirannya berkecamuk antara suka, takut, dan sedih. Karena hidup jauh dari orang tua merupakan hal yang menyedihkan, apalagi ketika itu Amroeh masih berusia 11 tahun. Namun, berkat kesungguhan dan keyakinan ia mampu mengatasi semuanya.

Ia meramu semua itu jadi “jamu kehidupan” yang dapat menyehatkan kembali semangat yang memudar. Ada pengalaman yang tak bisa dilupakan Amroeh. Ia membeberkan sisi keunikan pondok saat itu.
Mandi di pondok tidak memakai gayung, melainkan dengan pancuran yang memancar dari lobang air yang sudah tersedia di kamar mandi. Yang menggelikan lagi, ada satu kamar mandi dipakai dua atau tiga anak sekaligus, dan mereka telanjang tanpa busana.

Pemandangan yang demikian sudah dianggap biasa dan wajar di kalangan pesantren pada waktu itu. Sehingga pengalaman itu terus terngiang di benak Amroeh sampai sekarang.
Tanpa disadari, hal ini merupakan kejadian yang kocak sekaligus lucu di dunia pesantren. Bagian kedua, Amroeh menceritakan fase kehidupan Gontor dengan cerita unik.

Contohnya pada 1967 dunia politik sedang mengalami situasi yang sulit. Gontor disusupi kepentingan politik praktis. Akan tetapi, hal itu dapat dihindari dengan mensterilkan unsur-unsur politik dalam pondok.Salah satu langkah yang ditempuh yaitu dengan mengganti nama organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia) menjadi OPPM (Organisasi Pelajar Pondok Modern).

Bagian ketiga, Amroeh lebih panjang lebar memperbincangkan pengalaman pribadinya setelah sekian tahun hidup di “penjara suci”, yaitu sewaktu ia bersama almukarrom (sebutan kiai) menjadi ustaz dan menjajaki aktivis masjid. Novel ini layaknya sebuah catatan pribadi seorang Amroeh kecil.
Ia mencoba mengulas kembali kenangan lama sewaktu menyantri di Gontor. Dan novel kronik ini ditulis dengan bahasa yang mudah dan menggelitik untuk dibaca. Karena Amroeh memotret gontor pada era 70-an.

Sayangnya, novel ini sedikit membingungkan pembaca, dengan penempatan catatan kaki di belakang. Akan tetapi novel ini layak dijadikan sebagai koleksi novel edisi pesantren yang ditulis oleh seorang santri tulen produk Gontor.

Peresensi adalah Muhammad Autad An Nasher, Penikmat Buku dan Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang,

dilansir dari Koran jakarta pada tanggal 7 Oktober 2010.
bisa di akses di: http://issuu.com/koran_jakarta/docs/edisi_824_-_7_oktober_2010
http://autadfoundation.blogspot.com/2012/02/gontor-dan-setting-novel-pesantren.html

Sunday, April 29, 2012

Menapak Jejak Islam di Andalusia


Kamis, 29 Maret 2012 
HANUM terkejut dengan reaksi Fatma terhadap sekelompok orang yang mengolok-olokkan Islam di depan mereka. Reaksi Fatma sungguh di luar dugaan Hanum. Fatma bukannya balik memaki-maki mereka seperti keinginan Hanum tapi Fatma malah mentraktir mereka.
“Kau perlu penyesuaian, Hanum. Hanya satu yang harus kita ingat. Misi kita adalah menjadi agen Islam yang damai, teduh, indah dan membawa keberkahan di komunitas nonMuslim. Dan itu tidak akan pernah mudah.”
Menjadi agen Muslim yang baik. Kalimat yang membuat Hanum tercenung. Bersahabatan Hanum dan Fatma, seorang Muslimah Turki, berawal dari perkenalannya di kelas kursus bahasa Jerman. Persahabatan yang mengenalkan Hanum pada keindahan Islam yang sesungguhnya.
Pertemanan Hanum dengan Fatma tidak saja membuat Hanum melihat Islam dari sisi berbeda juga mengenalkannya jejak sejarah yang ditorehkan Islam di Eropa.
Dari bukit Kahlenberg Fatma memulai ceritanya. Sebuah bukit di kota Wina yang menjadi saksi kekalahan kekaisaran Islam Turki Ottonom di tangan Jerman dan Polandia. Kemudian keduanya berjanji untuk menelusuri jejak Islam di Prancis bersama-sama.
Namun tiba-tiba Fatma menghilang dengan hanya meninggalakan pesan bahwa dia harus kembali ke negaranya padahal keduanya bertekad untuk mengunjungi tempat di Eropa dimana Islam menorehkan sejarahnya bersama-sama.
Tanpa di duga perkenalan Hanum dan Rangga dengan imam mesjid Vienna Islamic Center menghubungkan keduanya dengan sosok Marion, perempuan Muslim Prancis yang mendalami secara khusus Studi Islam Abad Pertengahan dan dosen di Universitas Sorbonne.
Mirion menjadi guide untuk Hanum dan Rangga selama menelusuri musieum di Prancis.
Mirion menunjukkan pada fakta mengenai kebudayaan Islam yang tidak tercatat dalam buku sejarah. Fakta bahwa motif kain yang dikenakan di kepala Maria di semua patung yang di buat pada abad pertengahan adalah lafaz Laa Ilaa Ha Illallah yang ditulis dengan seni kaligrafi arab kuno. Tulisan tanpa sengaja yang dilakukan seniman-seniman Eropa pada abad itu karena pengaruh euphoria kebudayaan Islam yang masuk ke Eropa dalam bentuk hasil dagang seperti hasil tenun dan tekstil yang bercorak kaligrafi.
Fakta bahwa ahli filsafat Prancis Voltaire, 30 tahun setelah menulis fragmen drama yang menjelekkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam menulis esai tentang Islam yang menyebutkan sebagai agama yang menjunjung toleransi.
Fakta bahwa Napoleon Bonaparte membangun monumen-monumen kemenangan atas penaklukannya pada garis imejiner yang searah dengan kiblat Makkah. Apakah ini sebuah kebetulan? (hal 181).
Fakta yang membuktikan bahwa di masa lalu ajaran dan kebudayaan Islam menarik perhatian bangsa Eropa yang membukakan gerbang lahirnya era pencerahan. Islam membuktikan bahwa agama dan ilmu pengetahuan bisa berjalan beriringan dan saling mendukung.
Di bawah kekuasaan dan pemerintahan Islam Andalusia (meliputi wilayah Spanyol dan Portugal) mengalami kemajuan pesat dalam hal ilmu pengetahuan dan budaya (seni). Pada perkembangannya pembangunan kota Cordoba bukan hanya sebagai pusat pemerintahan juga ilmu pengetahuan. Kota yang melahirkan banyak ilmuwan karena di kota ini di bangun universitas Cordoba yang luas dan megah. Kota yang menjadi tujuan pencari ilmu di Abad Pertengahan. Di kota ini perpustakaan terbesar pertama lahir namun tak meninggalkan jejak karena semua buku di bakar habis saat Raja Ferdinand dan ratu Isabella menaklukannya. Kekalahan pemerintahan Islam ini lebih dulu di picu oleh masalah intern yaitu terpecahnya kekuasaan menjadi dinasti–dinasti kecil (raja kelompok/golongan).
Sedikit sekali buku sejarah Islam yang mengakui bahwa Andalusia bukan saja melambangkan kejayaan peradaban Islam masa lalu tapi juga lambang dari kekalahan, penaklukan, penghinaa, pengusiran, dan perebutan kehormatan.
Sejarah yang menorehkan luka dan trauma mendalam. Sejarah yang menumbuhkan rasa curiga satu sama lain hingga hari ini. Islam, Kristen dan Yahudi adalah tiga agama yang menginduk pada ajaran yang disampaikan nabi Ibrahim namun pada berkembangannya ketiga agama Samawi ini kerap berselisih paham. Masing-masing mengklaim agamanya yang paling benar dan tentu saja itu sah. Hanya saja kadang pengklaiman itu dilakukan dengan segala cara termasuk pemaksaan dan kekerasan. Namun benarkan semua cara itu dilakukan murni atas nama agama?
Jejak sejarah telah membuktikan bahwa ternyata agama hanya sebagai kambing hitam. Agama hanya sebagai tameng pembenaran perebutan kekuasaan dan ego manusia. Perang Salib yang berlangsung ribuan tahun dan pecahnya Andalusia menjadi kerajaan – kerajaan kecil hanya salah satu contoh.
Buku ini bukan sepenuhnya novel seperti yang tertulis di cover buku. Buku ini merupakan catatan perjalanan penulisnya, sepasang suami istri, selama tinggal di Eropa. Dengan pengalaman Hanun sebagai jurnalis menjadikan buku ini enak di baca. Bahasanya padat dan mengalir. Tidak membuat lelah walaupun cukup tebal. Dilengkapi jejak kronologis sejarah dunia sehingga memudahkan membaca memetakan sejarah yang tercatat dalam novel perjalanan ini.*/rina
Judul buku : 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit : Gramedia
Tahun : Juli 2011
Hal : 392 halaman

Red: Cholis Akbar

Sunday, March 18, 2012

Free download La Tahzan, jangan bersedih

Buku ini dikarang oleh syekh Aidh Al Qorni yang menjadi Best Seller di 
dunia Muslim.  Di Saudi Arabia saja pada triwulan  pertama  pada  tahun 1996 
terjual sampai 1.5 jutaeksemplar dan sempat menjadi   terlaris di Indonesia.
beberapa lembar dari buku ini ditulis ketika beliau di penjara oleh pemerintah 
Saudi Arabia karna kritikannya terhadap pemerintahan kerajaan Saudi Arabia yang  mengundang dan membolehkan tentara  Amerika menginjak bumi Saudi Arabia.
Namun tidak semua yang pahit itu rasanya pahit bagi yang selalu berfikir positiv dan mengambil hikmah dari semua peristiwa hidup ini. Kiat ini sangat berlaku bagi beliau di hari pertamanya di penjara saja ,beliau mampu menulis 100 lembar sekaligus.
Wal khasil 9 bulanan beliau dipenjara menjadikannya menemukan momentum untuk menghasilkan buku yang mengakar dari permasalahan permasalahan aktual.
Sekeluarnya dari penjara, beliau meneruskan penulisan buku ini dengan mengambil referensi dari lebih dari 300buku dari berbagai bahasa dan dengan teliti beliau mengedit sampai 3 kali untuk setiap penulisan yang menghasilkan buku yang teliti,fokus dan penuh hikmah ini.
Bagi yang ingin mendownload silahkan klik link ini 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...