Translate This

->
Showing posts with label Muallaf muallaf. Show all posts
Showing posts with label Muallaf muallaf. Show all posts

Tuesday, August 14, 2012

Muhammad Ali


Setelah sarapan di sebuah hotel di South Side Chicago, dua orang anak laki-laki menyapanya. Ali "diagung-agungkan" dalam perjalanannya ke kamar mandi.
"Saya telah berpuasa dan shalat," katanya kepada kedua anak yang tersenyum itu. "Lihat kaki saya."
Dia berputar ke satu sisi, tampak wajahnya yang tampan, dan berhenti. Sedetik kemudian, dia berjinjit dengan hati-hati pada kaki kirinya, dan tampak seolah mau terbang ketika kaki kanannya diangkat dari karpet.
Anak-anak itu tertawa dan minta tanda tangan Ali. Sang Juara membubuhkan tanda tangannya di sebuah pamflet Islami dan memberikan satu pada setiap anak.
Pernah menjadi sebuah mesin pemukul yang sangat hebat yang menimbulkan rasa takut pada lawannya, Ali masih merupakan figur yang mengagumkan. Dia duduk di deretan atlet terbesar abad kedua puluh, dan mengubah status atlet kulit hitam dalam pandangan manusia. Dia mengangkat martabat atlet kulit hitam ke tempat yang tinggi, dengan mendapatkan penghormatan dan penerimaan yang baik dari masyarakat, putih maupun hitam.
Ali bertahan sebagai pusat perhatian selama lebih dari dua dasawarsa. Dalam waktu itu dia berhasil menguasai mahkota kejuaraan tinju kelas berat selama tiga kah, dan menjadikan dirinya sebuah legenda.
Cassius Marcellus Clay, Jr., dilahirkan pada 17 Januari 1942 di Louisville, Kentucky, dari seorang ayah yang bekerja sebagai pelukis papan nama dan reklame, Cassius Marcellus C1ay, Sr., dan seorang ibu, Odessa Grady Clay, seorang pembantu rumah tangga. Dua puluh dua tahun kemudian, dia dilahirkan kembali.
Cassius Clay diberi sebuah nama baru oleh Elijah Muhammad pada 1964, ketika Elijah membuat sebuah pernyataan umum dalam suatu siaran radio dari Chicago pada tanggal 6 Maret: "Nama Clay ini tidak menyiratkan arti ketuhanan. Saya harap dia akan menerima dipanggil dengan nama yang lebih baik. Muhammad Ali, nama yang akan saya berikan kepadanya selama dia beriman kepada Allah dan mengikuti saya."
Selama tiga tahun sebelum pertarungannya untuk memperebutkan gelar juara dunia kelas berat dengan Sonny Liston, Clay telah menghadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh Nation of Islam. Kehadirannya dilaporkan oleh koran Daily Nezus di Philadelphia pada September 1963; tetapi pada Januari 1964, dia berbicara di sebuah rapat Muslim di New York. Dia membuat sensasi yang besar. Beberapa minggu kemudian, ayahnya mengatakan bahwa Clay telah bergabung dengan Nation:
Clay masih belum memberikan pernyataan publik tentang keikutsertaannya dalam Nation of Islam. Tetapi dia sibuk mempelajari Islam di bawah bimbingan Kapten Sam Saxon (sekarang Abdul Rahman), yang dijumpai Clay di Miami pada 1961, dan menteri Ishmael Sabakhan. Pelajaran-pelajaran mereka merupakan hasil ajaran Nation of Islam: Tuhan adalah orang kulit hitam, tetapi kaum kulit hitam di Amerika memakai nama majikan budak.
Pelajaran yang membakar dapat didapat dari perjalanan ke daerah Selatan, atau dengan mudah bisa didapatkan dengan menonton televisi. Jim Crow sedang berada pada masa kejayaannya, dan seratus tahun setelah penghapusan perbudakan, kaum kulit hitam disemprot dengan selang air di jalanan, dipukuli, ditembaki, dan dilukai sampai cacat karena memperjuangkan kesetaraan rasial di Amerika Serikat.
Clay merenungkan ajaran-ajaran Elijah Muhammad, membaca surat kabar yang diterbitkan Nation, dan mencari bimbingan dan saran dari Malcolm X, yang dijumpainya di Detroit pada awal 1962. Pesan di balik perjuangan kaum kulit hitam terhadap supremasi kulit putih dapat dimakluminya.
Sebelum pertandingan Clay melawan Liston, Malcolm mengunjungi Clay sebagai pribadi, bukan sebagai wakil Elijah. Malcolm menganggap Clay sebagai adiknya dan menasihati dia, melambungkan kebulatan tekadnya untuk bangkit melawan tantangan yang berat --untuk mengungguli Liston. Ingat David dan Goliath, ujar Malcolm menyemangatinya.
Malcolm meninggalkannya hanya setelah promotornya mengancam untuk membatalkan pertandingan jika dia masih berkeliaran di sekitar tempat itu. Di satu pihak Clay merasa takut jika dia tidak akan diizinkan untuk bertanding memperebutkan gelar di kelas berat apabila hubungannya dengan Nation diketahui.
Walaupun merasa sangat takut menghadapi Liston, akhirnya Clay menang dalam pertandingan itu karena, dia yakin, bahwa itu merupakan "waktu Allah". Clay benar-benar bergerak menjauhi jangkauan Liston dan menghajarnya dari sudut-sudut yang berlainan. Ketika pada akhir ronde keempat mata Clay terasa perih dan buta sebagian (mungkin karena minyak gosok dari tubuh dan sarung tangan Liston), Angelo Dundee mendorongnya kembali ke ring, lalu Clay mempergunakan kelihaian dan keyakinannya untuk menghindari pukulan Liston. Liston yang terluka mengakhiri pertandingan sebelum bel ronde ketujuh berbunyi. Dunia memiliki seorang juara baru.
Setelah Clay menang, Elijah Muhammad membalik strateginya. Dia berkata pada lima ribu pengikut di Chicago: "Saya bahagia bahwa dia mengaku sebagai seorang yang beriman. Clay membuktikan diri sebagai seorang yang lebih tangguh dan menyelesaikan pertandingan tanpa rasa takut karena dia telah menerima Muhammad sebagai Utusan Allah."
Malcolm mungkin telah berusaha untuk menarik Ali ke sudutnya sendiri ketika Malcolm telah merencanakan untuk memisahkan diri dari Nation. Tetapi Ali dilaporkan mengatakan pada seoran koleganya, "Orang itu tidak dapat meyakinkan saya untuk melawan sang Utusan."
Akhirnya Malcolm dikucilkan dan Ali tetap berada di kubu Elijah Muhammad, menghina Malcolm ketika berada di Ghana ("Tak seorang pun yang mendengarkan Malcolm lagi") dan mengikuti Elijah sampai kematian pemimpin itu pada 1975.
Sekarang Ali mengumumkan bahwa dia dan semua orang di Nation akhirnya melaksanakan ajaran Islam ortodoks yang sama dengan yang dilakukan Malcolm setelah dia meninggalkan Nation. Dan Ali lebih mentaati dan mencintai Allah daripada mengindahkan ajaran-ajaran Elijah Muhammad. Ali mengambil pandangan umum bahwa Elijah memainkan peran penting dalam mengangkat kaum kulit hitam Amerika --membebaskan mereka dari obat-obatan, alkohol, makanan yang beracun, dan perusakan diri pada umumnya.
Ali tidak pernah mengikuti arus pemikiran "iblis berkulit putih". "Hati dan jiwa tidak berwarna," katanya sekarang.
Dia telah membelanjakan uangnya beberapa ratus ribu dolar untuk buku-buku dan pamflet-pamflet Islami untuk memperkenalkan agamanya. Dia percaya bahwa bukan hanya kaum Muslim tetapi juga orang Kristen dan Yahudi yang takut pada Tuhan akan masuk surga.
Para dokter berkata bahwa Ali menderita Sindroma Parkinson yang sangat mengguncangkan jiwanya, sebagai akibat dari luka karena pertarungan dan terkena pukulan yang terus-menerus di kepalanya. Tentang kondisinya, Ali mengatakan bahwa dia telah mendapatkan hidup yang baik sebelumnya dan sekarang. Dia tidak membutuhkan simpati dan belas kasihan; dia hanya ingin menerima kehendak Allah. Pada kenyataannya, dia berkata tidak ada idola dalam Islam dan itu mungkin karena dia telah dijadikan idola oleh berjuta-juta orang, Allah merendahkannya untuk mengingatkannya pada kenyataan bahwa tak ada seorang pun yang lebih hebat dari Allah.
Perjuangan Ali yang utama sekarang adalah mencoba menyenangkan Allah dalam segala hal yang diperbuatnya. Menguasai dunia tidak membawanya kepada kebahagiaan yang sejati; kebahagiaan sejati, katanya, hanya didapatkan dengan menyembah Allah.

Thursday, August 9, 2012

4. Hakeem Olajuwon: No Negotiation About Praying


"In the United States, I have an opportunity to interact with Muslims from different parts of the world," he says. "People bring new ideas from their own culture and background and try to introduce them as part of Islam." But usually, he says, when they actually study the Qur'an, they learn otherwise.


"Here, the information is more accessible" than in most Muslim countries, he says, because American Muslims tend to place a premium on understanding their faith rather than merely practicing a brand of cultural Islam from the Old Country.
Olajuwon even corrects his parents at times. An example: In Nigeria, older people are expected to perform a special monthlong fast before Ramadan. "Not Islamic," he says. Another example: Forty days after someone's death, Nigerian Muslims slaughter a cow to celebrate and pray for the person. Again, he says, "not Islamic."
For Olajuwon, Islam is a constant presence, not a straitjacket, but clearly a garment that binds him.
He says there is "no negotiation" about praying five times a day. He washes his hands and mouth, turns toward Mecca, prostrates himself, and begins: "In the name of Allah, most gracious, most merciful... You alone we worship... Guide us along the straight path, the path of those you bestow your favor."


All day, every day, he says he has "God-consciousness," an internal voice that regulates his every action. "You don't forget for a second," he says. "There's a constant communication. You don't lose this consciousness. When I'm doing errands, doing whatever, I'm conscious of prayer times."


This God-consciousness follows him onto the basketball court. His religion teaches him to be merciful and kind. That means, he says, "You play competitively, but you don't do things that are cheating or unfair or foul play. You report to a higher authority."


Might he someday, after basketball, train to become an imam-and teach other Muslims? No, he says, quietly. "That's a big responsibility."


But Olajuwon says he might like to be a
da'ee,
a kind of information broker who explains Islam to people.


"I'm doing it now," he says, laughing. "And what can be better than this?"


Read more: http://www.beliefnet.com/Faiths/Islam/2000/12/Hakeem-Olajuwon-A-Ramadan-Interview.aspx?p=4#ixzz233ia6fTw

3. Hakeem Olajuwon: True Christian embrace Islam


“Allah says in the Qur’an not to despise one another,” he says. “So the criterion in Islam is not color or social status. It’s who is most righteous. If I go to a mosque—and I’m a basketball player with money and prestige—if I go to a mosque and see an imam, I feel inferior. He’s better than me. It’s about knowledge.”


While traveling during basketball season, he often taxis to local mosques for Friday prayer. Often, he says, worshipers there want to drive him back to his hotel. “It doesn’t have to be because I’m a celebrity,” he says. “People know that whoever gives me a ride gets a big reward from Allah. It’s always for the sake of Allah.”
In fact, he says, “If you do it for the reward, you get punished. If you get the opportunity to take a brother back to his hotel, that’s a huge reward, because you’ve done a good deed.”
Olajuwon says he likes to talk about faith with his teammates, particularly devout Christians. Some of them, he says, “respond very well” to his polite--but persistent--efforts to convert them.
He says, for example, that when Christians talk about being “saved,” they are describing a reliance on Jesus as “truth.” But according to the Qur’an, he says, only Allah represents truth. And people who don’t trust in Allah, he says, are living in what the Qur’an describes as “the house of a spider.”

His conversations have led to some interesting exchanges. Once, a Christian teammate teased him for not eating pork. Olajuwon shot back: “If you followed your book, you would know you can’t eat it either.” (The Book of Leviticus proscribes eating pork, but that religious law is widely ignored by Christians.)

Another time, he got into an impassioned discussion of the Christian doctrine of the Trinity with a teammate. First, Olajuwon says, his colleague said that Muslims “just don’t understand the Trinity.” But eventually, Olajuwon wore the man down to the point that he gave in, saying, “Nobody cares about it anyway.” Olajuwon lets out a deep chuckle at the memory.

“If Christians follow the true teachings of Jesus, they come to Islam,” he says. Muslims believe Jesus was a prophet--just like other prophets, such as Moses, Abraham, and Muhammad—who taught that people should submit solely to God, seek justice, and show compassion for each other. 

Ever the evangelist, he is meanwhile anxious to spread Islam’s truths to other Muslims.


Read more: http://www.beliefnet.com/Faiths/Islam/2000/12/Hakeem-Olajuwon-A-Ramadan-Interview.aspx?p=3#ixzz233hkHtAo

2.Hakeem Olajuwon: I Found Peace In Practicing Islam


In fact, he says, “You wait for it. You look forward to it.”


The seven-foot-tall Olajuwon—one of Islam’s most famous pop icons—has a well-known life story. The son of middle-class Nigerians, he grew up in Lagos and moved to the United States in 1980 to play basketball at the University of Houston. After helping the team reach the Final Four in 1982, ’83, and ’84, he signed with the Houston Rockets, which he helped lead to national championships in 1994 and 1995.


Olajuwon was immediately successful—but he wasn’t entirely happy.
“I’m the kind of person who always wants more,” he says. “I was successful materially, but I know life is much more than worldly success. I saw all these blessings God had given me. The way to give thanks is obedience to God.”
Recalling his Muslim upbringing in Nigeria, he sought out a Houston mosque. Everything began to fall into place, he says, when he heard the Muslim call to prayer for the first time in the United States. “The sound of the call, when you hear the call to prayer, you get goose bumps all over,” he says.
He began attending Qur’an study seminars and says he knew he needed to rededicate himself to his childhood faith.

In the midst of this rededication, he divorced his first wife—college sweetheart Lita Spencer, with whom he has a daughter, Abisola, 12. But in 1995, he married again, this time to Dalia Asafi. He has two daughters with Asafi—Rahma, 3, and Aisha, 15 months. He is rearing all three of his girls as Muslims.

Despite the culture shock of being a double minority in the United States—a black African and a Muslim—Olajuwon says he has found peace in his Islamic practice.


Read more: http://www.beliefnet.com/Faiths/Islam/2000/12/Hakeem-Olajuwon-A-Ramadan-Interview.aspx?p=2#ixzz233gZJeWT

1.Hakeem Olajuwon: Paradise is Not Cheap


One recent night in a Miami hotel room, Hakeem Olajuwon was painstakingly reciting parts of the Qur’an—first listening to practice tapes, then repeating the Arabic scripture.


“I’m shy, but sometimes my voice is so clear and strong,” he said. “Your tongue moves, and the Arabic language is so beautiful.” The Qur’an talks to him, says the Houston Rockets center. From it, he learns to be pious and to stay close to God.
Olajuwon, 37, could not be a more devout Muslim. He carries a compass so he can pray toward Mecca from any basketball arena. He reads the Qur’an on airplanes and visits mosques in cities where he plays. He gives 2½% of his annual income to the poor and arranges his daily errands around prayer times.
“God comes first,” says Olajuwon. “Paradise is not cheap.”

And, as he has every year for the last decade, Olajuwon is spending the Muslim holy month of Ramadan fasting from dawn to dusk, even as he plays professional basketball.

He awakens before dawn to eat precisely seven dates—the traditional Muslim fast-breaking food--and to drink a gallon of water. Then he prays for strength. He touches no food or liquid until sunset. Then he allows himself a well-balanced dinner--chicken, vegetables, and rice, perhaps.

When he plays an afternoon game, he pants for water—and drinks not a drop. Still, he says, “I find myself full of energy, explosive. And when I break the fast at sunset, the taste of water is so precious.”

As difficult as the month seems to most people, Olajuwon says it is a gift. “You feel so privileged, because this is a month of mercy, forgiveness, getting closer to God,” he says softly, in a voice accented with West African cadences. “You do more good deeds in this month. You read more of the Qur’an. You study more.


Read more: http://www.beliefnet.com/Faiths/Islam/2000/12/Hakeem-Olajuwon-A-Ramadan-Interview.aspx#ixzz233g5c0Fy

Thursday, June 21, 2012

Mantan Bek Arsenal Ini Memeluk Islam


REPUBLIKA.CO.ID, MANCHESTER - Pesepakbola asal Swiss yang saat ini bermain sebagai bek di klub Liga Premier Inggris, Fulham, Philippe Senderos memutuskan untuk memeluk Islam.
Ia menyatakan telah menjadi mualaf di sebuah pusat agama Islam di Manchester Inggris, Rabu (20/6) lalu.
Philippe Senderos sebelumnya pernah bermain untuk Arsenal, AC Milan dan Everton. Saat ini ia didaulat untuk memperkuat tim nasional Swiss.
Philippe merupakan lulusan teologi, ia dilaporkan menunjukan banyak minat pada agama-agama di dunia. Di luar kegiatannya sebagai atlet sepakbola, ia banyak membaca dan mempelajari berbagai hal tentang agama.
"Saya sangat tertarik pada agama-agama di dunia," kata Senderos seperti dikutip Press TV. 
Senderos mengaku menemui manfaat dan pedoman dalam Islam. Oleh karenanya ia memutuskan memilih menjadi seorang Muslim.
"Jika saya tak bermain sepakbola mungkin saya akan menjadi seorang imam," kata dia.
Berikut gambar Phillipe Senderos, kanan, seperti dimuat di laman Press TV:
Redaktur: Yudha Manggala P Putra
Reporter: Gita Amanda
Sumber: Press TV

Sunday, May 13, 2012

Akhir Pencarian: Cahyono Masuk Islam

Group” (Berita yang luput dari Media)
Monday, Aug 11, 2008
Saya pernah membaca cerita dibalik kisah masuk Islamnya Pak Cahyono (Pelawak Jayakarta Group bersama Jojon, Uuk, dan Jhonny). Namun tak satupun cerita itu menceritakan kisah sesungguhnya dibalik hidayah yang diterima Pak Cahyono. (Baca http://www.geocities.com/kebenaran_islam/cahyono.html , http://islam-ku.blogspot.com/2005/10/cahyono-mengapa-aku-pilih-islam.html dan beberapa blog yang lainnya) semuanya kisahnya nyaris 90% sama dan terkesan mengcopy.
Namun dalam kisah ini saya akan mengupas Rahasia dibalik Ke Islaman Pak Cahyono yang saya dapatkan langsung dari Beliau. Saya dipertemukan oleh seorang aktivis perempuan yang suka membaca blog saya di blogspot. Beliau terkesan dengan kisah saya, lalu kami dipertemukan. Saat itulah beliau bercerita panjang lebar bagaimana beliau mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
Saat itu Pak Cahyono sedang melakukan Misa di Gereja tempat beliau biasa beribadah. Didekat Gereja itu ada sebuah sebuah mesjid, dan dari arah mesjid itu ada suara Adzan Isya yang masuk keruangan Gereja tempat beliau beribadah. Suara adzan itu begitu merdunya dan sampai membuat hati beliau bergetar hebatnya. Bahkan suara adzan itu seakan-akan tiada pernah hentinya, sehingga ceramah Pastur pun seolah tidak terdengar oleh beliau, padahal pastur memakai speaker di Gereja.
Lalu bergegas beliau pulang kerumah dan menyiapkan pakaian yang akan beliau bawa dari rumah bila misi “Suci” beliau gagal. Setelah itu, Pak Cahyono memanggil anak-anak dan istrinya, lalu beliaupun berkata : “Saya akan masuk Islam karena saya takut masuk neraka, Apakah kalian mau ikut saya, atau kita berpisah ?” Tegas beliau. Spontan anak-anak dan istrinya pun kaget dan protes. Bahkan sang istri pun menuduh beliau telah memiliki Istri simpanan.
Akhirnya karena gagal menarik anak dan istrinya kepada Islam, Pak Cahyono pun meninggalkan rumah. Beberapa waktu kemudian beliau pun bercerai dengan istrinya. Saat itu muncul berbagai berita miring tentang perselingkuhan Cahyono dengan wanita lain, namun berita itupun terbantahkan dengan sendirinya karena memang tak pernah satu pun ada wanita lain seperti yang dituduhkan mantan istrinya kepada Pak Cahyono.
Ada lagi kisah yang sempat terlewat, sebelum beliau masuk Islam, pernah suatu waktu Almarhum Benyamin S berkata dengan nada humor, Almarhum berkata : “No, ente tau gak kalau saat ini kita bisa bersama-sama dan bercanda bareng, kalau nanti kita meninggal kita enggak akan pernah ketemu” lalu pak Cahyono pun bertanya : “lho Memangnya kenapa bang ?” Lalu Almarhum Benyamin S berkata lagi dengan nada candaannya : “Karena tempat ane nanti di surga, sedangkan ente di neraka”
Mungkin saat itu almarhum bercanda, namun apa yang terjadi saat itu Pak Cahyono hati tergetar dan ketakutan. Beliau berkata pada saya : “Tahu tidak dik, saat itu almarhum memang kelihatan seperti bercanda tapi beliaulah salah satu orang yang telah menyadarkan saya tentang azab neraka, Subhanallah… kata-kata itu sampai kini masih terngiang ditelinga saya lho dik “
Sepanjang beliau bercerita tentang perjalanannya menuju Islam, beliau selalu melakukan tasbih, suatu hal mungkin sulit dilakukan oleh seorang yang biasa-biasa saja, walau pun ilmu agamanya tinggi, belum tentu sanggup sambil bercerita dan bertasbih sepanjang hari. Bahkan saat dimobil menuju restoran tempat kami akan makan siang pun beliau selalu bertasbih.
Nah mungkin kisah ini tidak akan pernah saudara-saudaraku dapatkan diblog manapun. Karena beliau hanya bercerita pada orang-orang terdekatnya saja, bahkan pers pun luput mendapatkan kisah eksklusif ini, mungkin ini salah satu hidayah untukku yang bertemu dengan orang yang mempunyai kisah yang mirip (sama-sama Muallaf). Namun aku beruntung mendengarkan kisah ini langsung dari orangnya, yaitu Pak Cahyono.

Sunday, May 6, 2012

Franck Ribery: Islam Sumber Kekuatan Saya

Dikenal sebagai pribadi yang santun, rendah hati, dan rajin melaksanakan shalat lima waktu, di mana pun dan pada kondisi apa pun. Bagi penggemar sepak bola dunia, tentu sudah tak asing dengan nama Franck Ribery, gelandang serang asal Prancis yang kini bermain di klub raksasa Bundesliga (Jerman), Bayern Muenchen.

Begitu juga, dengan mantan pemain terbaik dunia asal Prancis, Zinedine Zidane, Nicholas Anelka (Chelsea/Prancis), Frederik Kanoute (Sevilla/Mali), Khalid Bouhlahrouz (Sevilla), Zlatan Ibrahimovic (Inter Milan/Swedia), Eric Abidal (Barcelona/Prancis), Kolo Toure (Chelsea), dan Yaya Toure (Barcelona). Mereka adalah pemain sepak bola yang beragama Islam dan menjadi andalan klub maupun negaranya masing-masing.

Berbeda dengan pesepak bola Muslim lainnya, yang lebih dulu memeluk Islam, Franck Ribery justru memeluk Islam setelah bermain di klub asal Turki, Galatasaray, pada 2005. Secara singkat, Ribery mengatakan, dia memilih ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini karena menemukan kedamaian dalam Islam.

Baginya, Islam adalah sumber kekuatan dan keselamatan. ''Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam dan di luar lapangan sepak bola. Saya mengalami kehidupan yang cukup keras dan saya harus menemukan sesuatu yang membawa saya pada keselamatan dan saya menemukan Islam,'' kata Ribery.

Senantiasa berdoa
Pesepak bola bermata biru yang memperkuat tim Prancis itu memulai karier sepak bolanya, dengan bergabung dengan tim Boulogne di tanah kelahirannya. Kemudian, ia pindah ke tim Ales, Brest and FC Metz.

Kepindahannya ke Olympique Marseille membawanya ke posisi pertama bintang sepak bola Prancis paling populer pada bulan Agustus, Oktober, dan November 2005. Ribery terpilih untuk memperkuat tim Prancis pada Piala Dunia FIFA tahun 2006 yang digelar di Jerman.

Pada 2006 itulah, jati diri Ribery yang telah menjadi mualaf dan memeluk agama Islam terkuak dan menjadi pemberitaan di tengah pertandingan pembukaan antara tim Prancis melawan tim Swiss saat acara Piala Dunia 2006.

Ketika itu, Ribery tersorot publik tengah menengadahkan tangan sebelum pertandingan dimulai. Ribery tengah berdoa, seperti yang dilakukan seorang Muslim. Saat itulah, banyak orang terkaget-kaget dengan sikapnya. Namun, berkat kecemerlangannya dalam bermain bola, publik pun tak menghiraukan perilaku dan kebiasaan Ribery.

Namun, rutinitas berdoa sebelum pertandingan itu akhirnya terkuak juga. Dan, Ribery mengaku sebagai penganut Islam. Ia menemukan kedamaian dalam agama Islam dan menjadi spiritnya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, tak terkecuali saat bermain bola.

Kabar Ribery masuk Islam, menyeruak sejak awal tahun 2006. Kabar itu mula-mula dilansir L'Express. Majalah ini menyebut adanya pemain nasional Prancis yang secara teratur beribadah di masjid di selatan Marseille. Mingguan itu tidak menyebut nama secara eksplisit, namun yang dimaksud adalah Ribery.

Kendati aksi berdoanya di lapangan hijau telah menarik perhatian publik Prancis, Ribery tetap enggan mengemukakan keyakinan barunya itu secara terbuka. Gelandang kanan klub Olympique Marseille ini mengatakan, keimanan barunya adalah perkara pribadi, tak perlu publikasi.

Alhasil, sejumlah spekulasi pun bermunculan. Ada yang menyebut perubahan itu terjadi sejak Ribery bermain bersama klub Galatasaray pada 2005. Ia membantu klub raksasa Turki tersebut memenangi Piala Turki pada tahun 2005. Semasa menetap di Turki, pemain kelahiran Boulogne-sur-Mer, Prancis, 7 April 1983, ini dikabarkan kerap berbaur dan berdiskusi dengan komunitas Muslim di sana.

Ada pula yang menyebut istri Ribery, Wahiba Belhami, yang asli Maroko itu memainkan peran penting terhadap perubahan Ribery. Ribery memang setahun tinggal di negara berpenduduk mayoritas Muslim itu. Di sana, Ribery berkenalan dengan Wahiba yang kemudian ia peristri. Konon Wahiba berperan besar menuntun Ribery mengenal ajaran Islam. Dari pernikahan tersebut, Wahiba memberinya dua anak, Hizsya dan Shahinez.

Kedua versi itu tak pernah dibantah atau dibenarkan oleh Ribery. Namun, kepada majalah Paris Match, ia mengungkapkan, Islam telah membawanya pada keselamatan.

''Islam juga yang menjadi sumber kekuatan saya di dalam maupun di luar lapangan," ujar Ribery kepada majalah Match tanpa menjelaskan sejak kapan memeluk Islam. Ia menambahkan, ''Saya menjalani karier yang berat. Saya kemudian berketetapan hati untuk menemukan kedamaian. Akhirnya, saya menemukan Islam.''

Tidak pernah tinggalkan shalat
Keimanan dan kepribadian Ribery sebagai seorang Muslim tampaknya tak perlu diragukan. Di tengah padatnya jadwal pertandingan, bapak dua anak ini tak pernah lupa dengan kewajibannya sebagai Muslim. Ia senantiasa melaksanakan shalat lima waktu, di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Baginya, shalat merupakan tiang agama yang harus ditegakkan.

Selain rajin melaksanakan shalat, Ribery juga dikenal sebagai pribadi yang santun dan rendah hati. Islam benar-benar telah mengubah perangainya yang keras dan arogan menjadi seorang pribadi yang santun dan memiliki akhlak mulia.

Sifat dan akhlaknya ini tak heran membuat kagum rekan-rekannya di timnas Prancis, FC Bayern Muenchen (tempat ia bermain bola saat ini), maupun kerabatnya.

Steve Bradore dari Organisasi Syuhada, yang melayani para mualaf Prancis, telah mengatakan bahwa muslim Prancis merasa bangga sekali dengan Ribery. ''Dia adalah sumber kebanggaan kami karena penampilannya yang khas dan kerendahhatiannya,'' kata Steve, seperti dikutip dari situs Islamonline.net.

Saat ini, Ribery membela klub sepak bola Jerman, FC Bayern Muenchen. Di Bayern Muenchen, ia menempati posisi sebagai pemain gelandang. Kontrak Ribery bersama 'FC Hollywood'--julukan Bayern Muenchen--akan berakhir pada 2011.

Ribery termasuk pesepak bola sukses. Di usianya yang baru 26 tahun, dia sudah mengoleksi berbagai gelar. Antara lain, satu gelar Fortis Piala Turki bersama Galatasaray di musim 2004/2005, Piala Intertoto bersama Olympique Marseille di tahun 2005, Piala Liga Jerman bersama Bayern Muenchen di tahun 2007, Piala Jerman dan Bundesliga Jerman di tahun 2008. Selain itu, penghargaan Pemain Terbaik Prancis di tahun 2007 dan 2008, juga pesepak bola Jerman terbaik di tahun 2008. sya/dia/berbagai sumber

Franck Ribery yang lahir di Boulogne-sur-Mer, Perancis, 7 April 1983
memiliki tinggi badan 175 cm. Sebelum bermain di FC Bayern Muenchen, Jerman, pemain yang beroperasi sebagai gelandang serang ini berkarir di klub US Boulogne (2001-2002), Olympique Ales (2002-2003), Stade Brestois 29 (2003-2004), FC Metz (2004), Galatasaray (2005), dan Olympique Marseille (2005-2007).

Raja Bavaria
Di lapangan, ia hebat. Dalam kehidupan sosial, ia berkepribadian hangat. Sebagai individu, ia pun rajin salat. Franck Ribery adalah figur kesayangan publik Allianz Arena saat ini.

Bayern Munich selalu dihuni pemain berlabel bintang, tapi yang paling menonjol tergantung waktu dan kesempatan. Duet striker Miroslav Klose dan Luca Toni boleh menyita perhatian lewat produktivitas golnya, tapi Ribery amat menonjol dalam hal kreasi permainan di lapangan tengah.

Tidak salah Bayern memecahkan rekor transfernya untuk memboyong pria berusia 26 tahun itu. Faktanya, dalam tujuh bulan sejak bergabung dengan Bayern Muenchen, Ribery sudah berhasil menancapkan pengaruhnya, baik di klubnya maupun Bundesliga.

Pemain seharga 26 juta euro makin disenangi orang karena pembawaannya yang menyenangkan dan sikapnya selalu profesional. Di saat cuaca dingin bulan Februari masih mengakrabi Munich dan ia tengah berkutat dengan cedera kaki, Ribery tidak malas untuk tetap menghangatkan tubuhnya dengan muncul di kamp latihan.

Ia juga tak pernah menolak fans yang menginginkan tanda tangannya ataupun berfoto bersama, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Dan, itu senantiasa ia lakukan dengan senyum mengembang di bibirnya.

"Mereka mungkin tak pernah melihat seorang pemain, seperti saya yang senang tertawa dan biasa berkelakar," seloroh Ribery. "Saya ini orang yang sederhana dan simpel saja."

Di koridor berbagai fasilitas kamp latihan Bayern, lelaki Prancis ini selalu menyapa orang-orang. "Saya ingin menjadi teman (siapa pun)," ujarnya sambil tersenyum, seperti dikutip AFP. "Dua menit untuk berfoto dan memberi tanda tangan buat fans amatlah penting karena buat mereka hal-hal ini sangat berarti."

Senyum, tawa, dan sikap yang ramah untuk sementara menjadi "andalan" Ribery dalam berkomunikasi dengan penggemarnya, sebelum ia bisa menyempurnakannya dengan bahasa Jerman. Ia masih belum fasih, tapi setiap minggu rajin mengikuti kursus.

Ribery juga merasa bersyukur dirinya telah berhasil dalam kariernya, mengingat di masa kecil ia harus menjalani kehidupan yang sulit bersama keluarganya di daerah Boulogne-sur-Mer.

Namun, ia pun menyadari kesuksesan bukanlah sesuatu yang abadi. Roda nasib dalam kehidupan selalu berputar. "Atas semua yang telah saya alami, saya menyikapinya dengan tenang, tapi saya pun sadar pada semua nasib yang saya miliki."

Yang jelas, Ribery telah menjadi sosok istimewa buat warga Munich. Jangan heran kalau di depan Theatinerkirche, yang ada di pusat kota tersebut, terpampang billboard raksasa bergambarkan Ribery memakai jubah raja, disertai tulisan "Bayern Hat Wieder Einen Konig" alias "Bavaria punya raja lagi". Bavaria adalah julukan lain dari Bayern Muenchen selain FC Hollywood.

Lelaki yang di wajahnya ada bekas luka karena kecelakaan mobil yang dialaminya waktu kecil itu, sudah dianggap sangat penting untuk FC Hollywood. Di sebuah surat kabar, ada sebuah komentar berbunyi: "Bayern Munich tanpa Ribery seperti sekelompok anak-anak tanpa ibu." dtc/sya/kem/RioL








Beberapa Pesepak Bola Muslim

- Zinedine Yazid Zidane
- Kolo & Yaya Toure (Arsenal & Barcelona)
- Robin Van Persie (Arsenal)
- Nicholas anelka (Bolton)
- Mohammed 'Momo' Sissoko (Liverpool)
- Ahmed 'Mido' Hossam (Boro)
- Hossam Ghaly (Totteham Hotspurs)
- Franck Riberry (Bayern Muenchen)
- Hamit & Halil Antiltop (Bayern Muenchen & Shalke 04)
- Frederik Kanoute (Sevilla)
- Mahamaddou Diarra (Real Madrid)
- Eric Abidal (Barcelona)
- Nuri Sahin (Feyenoord Rotterdam)
- Sulley Ali Muntari (Pompey)
- Zlatan Ibrahimovic (Inter)
- Hassan "Brazzo" Salihamidzic (Juventus)
- Khalid Boulahrouz (Sevilla)
- Salomon Kalou (Chelsea)
- El-Hadji Diouf (Bolton)
- Diomanssy Kamara (Fulham)
- Mohammed Kallon (Al-Ittihad ext. Inter & Monaco)
- Thiery Henry (Barcelona/Prancis)
- Lilian Thuram (Perancis)
- Lassana Diarra (Real Madrid)
- Karim Benzema (Lyon/Perancis)
- Samir Nasri (Arsenal)
- Hatem Ben Arfa (Lyon)

Pelatih Sepak Bola Muslim
- Bruno Metsu (mantan pelatih Senegal)
- Phillipe 'Omar' Trousier (mantan pelatih Jepang).sya/kem

Swaramuslim.com


Zlatan Ibrahimovic




Seorang pesulap biasanya mempunyai mantra. Dan kebanyakan sebelum melakukan aksinya pesulap identik dengan, “Abrakadabra”, membuat sesuatu yang sulit diterima akal sehat dapat terjadi dengan trik-trik khusus. Beruntung, Inter pun memiliki “pesulap” itu. Sesuatu yang tadinya tidak mungkin menjadi gol disulap menjadi gol yang luar biasa. Mantranya adalah, “IBRAKADABRA!” Dan aktornya adalah Zlatan Ibrahimovic.

Aksinya di lapangan sungguh luar biasa dan kerap sulit diduga. Namun, ada yang kerap mengganjal dari penggemar Ibrahimovic. Apakah Ibra seorang Muslim? Yup, berbeda dengan pebola Muslim lainnya seperti Frederick Kanoute atau Franck Ribery, status Islam Ibra jarang terdengar.

Ibra dilahirkan di Malmo, kota terbesar ketiga di Swedia setelah Stockholm dan Gothenburg, 3 Oktober 1981. Kedua orangtuanya bukan warga asli Swedia, melainkan pasangan imigran yang berbeda Negara. Ayahnya yang bernama Sefik adalah imigran asal Bijeljina, Bosnia. Sedangkan sang ibu yang bernama Jurka lahir di Zadar, Kroasia. Keduanya bertemu di Swedia.


Ibra tumbuh di Rosengard, salah satu kawasan di wilayah Malmo. Kawasan ini cukup terkenal karena menjadi salah satu tujuan imigran Muslim yang masuk Swedia. Di kawasan ini, Ibra berinteraksi dengan sesama imigran Muslim. Mereka memilih kawasan tersebut agar lebih mudah menjalankan kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal menjalankan ibadah dan hubungan antar-sesama Muslim.

Kaum imigran Muslim di Rosengard memilih hidup sedikit terisolasi. Mereka tak ingin larut dalam urusan duniawi, yang menurut mereka bisa mengikis keyakinan. Mereka mencukupi kebutuhan dengan bekerja sesuai kemampuan dan menghasilkan uang.

Berbeda dengan kaum imigran Muslim di Gothenburg, mereka lebih membuka diri pada dunia luar. Kehidupan mereka jauh lebih mapan dan sejahtera. Lapangan pekerjaan yang mereka geluti juga beragam. Mulai dari kerja kantoran dengan jabatan strategis hingga buruh pabrik. Bahkan tak sedikit yang bekerja di Volvo, salah satu perusahaan mobil tekenal di dunia.

Di tengah hegemoni kaum nonmuslim yang mengusai semua sektor kehidupan dan kentalnya budaya Barat yang mewarnai Swedia, Ibra tumbuh menjadi pemuda Muslim yang patut dicontoh. Kaum imigran Muslim Rosengard bangga mendengar Ibra sukses mewujudkan ambisi menjadi pesepakbola. Sebutir mutiara telah bersinar dari kaum minoritas.

Kini setelah ia meraih berbagai prestasi dan telah menjadi public figure, sangat disayangkan status Islamnya jarang terdengar. Dalam suatu kesempatan bahkan ia mengakui kalau dirinya bukan seorang Muslim yang taat, tidak menjalankan shaum Ramadhan. Sungguh ironis, jika melihat “pendidikan” Islam yang telah diperolehnya di Rosengard dulu. Mudah-mudahan dengan kehadiran satu lagi pemain Muslim di Inter, Sulley Ali Muntari, Ibra dapat meraih berbagai prestasi sekaligus kembali memunculkan ketaatan beragamanya seperti di Rosengard dahulu kala. (Sumbernya: Buku Legiun Muslim di Kancah Eropa, Agus AHA)

Prestasi Ibrahimovic
2001/2002 : Juara Piala Belanda (Ajax)
2001/2002 : Juara Liga Belanda (Ajax)
2003 : Juara Piala Super Belanda (Ajax)
2003/2004 : Juara Liga Belanda (Ajax)
2004/2005 : Juara Serie-A (Juventus/dibatalkan)
2005 : Pemain Asing Terbaik Serie-A (Juventus)
2005/2006 : Juara Serie-A (Juventus/dibatalkan)
2006 : Juara Piala Super Italia (Inter Milan)
2007 : Atlet Pria Terbaik Swedia
2007 : Sweden’s Sports Personality of the Year
2007 : UEFA Team of the Year
2007/2008 : Juara Serie-A (Inter Milan)
2008 : Juara Piala Super Italia (Inter Milan)
2008 : Pemain Terbaik Swedia

man3malang.com
http://adefirsyah.blogspot.com/2009/07/franck-ribery-zlatan-ibrahimovic.html

Wednesday, May 2, 2012

Putra Presiden Sudan Selatan Masuk Islam



Salva Kiir, presiden pertama Sudan Selatan. Kini anaknya, John 'Muhammad' telah masuk Islam
Di saat rakyat Sudan Selatan yang kristen gegap gempita karena berpisah dengan wilayah Utara yang Islam, putra Salva Kiir presiden Sudan Selatan, masuk Islam di sebuah mesjid di Khurtum sebagaimana dilansir oleh al-Intibaha pada hari Sabtu (09/07).
“Saya masuk Islam karena merindukan surga, aku akan kembali ke Sudan Selatan untuk mengajak seluruh rakyat masuk Islam,” tutur John yang berubah nama menjadi Muhammad.
Pada tanggal 9 Juli 2011 kemarin, Sudan Selatan menjadi negara indipenden sebagai negara ke 193 yang diakui oleh PBB serta anggota PBB ke-54 dari wilayah Afrika.
Sudan Selatan menjadi sebuah negara setelah berkonflik dengan wilayah Utara dalam beberapa dekade dan sekitar 1.5 juta orang meninggal gara-gara konflik tersebut.
Sejarah perdamaian antara Sudan Utara dan Selatan ditandatangani sejak tahun 2005 hingga akhirnya Sudan Utara mengaku mereka sebagai negara indipenden pada 9 Juli kemarin.
Semoga Muhammad diberi kemudahan dalam tugas mulianya itu. (quy/ptv)

Tuesday, May 1, 2012

Dari Menara Pengawas ke Menara Azan;Raphael Narbaez, Jr.


Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendakiNya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (QS 24:43)
Raphael berusia empat puluh dua tahun. Dia berdarah Latin. Pekerjaannya adalah menjadi seorang pelawak dan dosen di Los Angeles. Dia dilahirkan di Texas, di sanalah dia menghadiri pertemuan Saksi Yehovanya yang pertama pada usia enam tahun, memberikan ceramah Injilnya yang pertama pada usia delapan tahun, mengurus jemaatnya sendiri pada usia dua puluh tahun, dan dicalonkan untuk posisi kepemimpinan di antaran 904.000 anggota Saksi Yehova di Amerika Serikat.2 Tetapi dia menukar Injilnya dengan Al-Quran setelah memberanikan diri mengunjungi masjid setempat.

Pada 1 November 1991, dia memeluk agama Islam, membawa kepada masyarakat Muslim sistem organisasi dan keahlian berbicara yang dikembangkannya di kalangan Saksi Yehova. Dia berbicara dengan keterbatasan sebagai seorang muallaf, tetapi dia adalah orang yang dapat membuat para imigran Muslim menertawakan diri mereka sendiri.

Dia menuturkan kisahnya dengan menirukan gaya beberapa karakter.

Suatu hari saya dengan beberapa pengikut Saksi Yehova berdiskusi di ruang tamu orang-tua saya. Kami membicarakan tentang Hari Akhir. "Itu Armageddon!*) Akhir kehidupan! Kristus datang! Dan Anda tahu hujan es sebesar mobil akan tiba! Tuhan akan menggunakan apa saja untuk menghancurkan sistem yang jahat ini dan menghapuskan pemerintahan! Dan Injil berkisah tentang retakan-retakan bumi! Yang akan menelan seluruh kompleks perkotaan!"

Saya ketakutan setengah mati! Kemudian ibu saya menimpali, "Kamu tahu apa yang akan terjadi padamu jika kamu tidak dibaptis, dan jika kamu tidak melaksanakan perintah Tuhan? Bumi akan menelanmu, atau salah satu batu es yang besar itu akan menghantam kepalamu [klong], merobohkanmu, dan kamu tidak pernah hidup lagi. Saya harus melahirkan anak yang lain."

Saya tidak ingin mengambil risiko dihantam salah satu batu es yang besar itu. Maka saya pun dibaptis. Saksi Yehova tidak membaptis dengan percikan air. Mereka menenggelamkan seluruh tubuh Anda, membiarkan Anda di sana sebentar, kemudian mengangkat Anda kembali.

Saya dibaptis pada usia tiga belas tahun, tanggal 7 September 1963. Tempatnya di Pasadena, California, di Rose Bowl. Acara itu merupakan pertemuan internasional yang besar. Dihadiri 100.000 orang.3 Kami datang dengan mengendarai mobil dari Lubbock, Texas.

Akhirnya saya mulai memberikan ceramah yang agak besar sepuluh menit di hadapan para jemaat. Dan seorang utusan keliling4 menganjurkan saya untuk memberikan ceramah satu jam yang dilaksanakan pada hari Minggu, di mana mereka mengundang masyarakat umum. Ceramah itu biasanya diberikan kepada anggota jemaat yang lebih tua.

[Dengan suara berwibawa:] "Memang dia masih muda. Tetapi dia dapat menangani hal ini. Dia seorang bocah Kristen yang baik. Dia tidak mempunyai sifat buruk, dan dia patuh pada orang tuanya dan tampaknya dia mempunyai pengetahuan yang baik tentang Injil."

Maka pada usia enam belas tahun saya mulai memberikan ceramah di hadapan seluruh anggota jemaat. Terlebih dahulu saya ditugaskan menangani sebuah kelompok di Sweetwater, Texas, kemudian akhirnya di Brownfield, Texas. Pada usia dua puluh tahun, saya telah menjadi apa yang mereka sebut sebagai pendeta pemula.

Saksi Yehova mempunyai program latihan yang sangat canggih, dan mereka juga mempunyai semacam sistem kuota. Anda harus mempersembahkan sepuluh sampai dua belas jam sebulan untuk melakukan ceramah dari pintu ke pintu. Seperti manajemen penjualan. IBM mungkin tidak sehebat itu.

Ketika menjadi pendeta pemula, saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk melakukan khutbah dari rumah ke rumah. Saya harus melakukannya sebanyak 100 jam sebulan, dan saya harus menguasai tujuh Injil. Saya mulai mengajar jemaat yang lain. Saya mulai mendapat banyak tanggung jawab. Saya kemudian diterima di sebuah sekolah di Brooklyn, New York, sebuah sekolah Saksi Yehova yang sangat elit untuk creme de la creme.

Banyak hal yang tidak lagi masuk akal bagi saya. Contohnya, sistem kuota. Tampaknya setiap kali saya ingin melewati masa krisis dan mendapatkan posisi pertanggungjawaban yang lain, saya harus melakukan hal-hal sekular duniawi untuk membuktikan kesalehan saya. Sepertinya jika Anda memenuhi kuota Anda bulan ini, Tuhan menyayangi Anda. Jika Anda tidak memenuhi kuota Anda bulan depan, Tuhan tidak mencintai Anda. Hal itu sangat tidak masuk akal. Bulan ini Tuhan mencintai Anda dan bulan yang lain Dia tidak mencintai Anda?

Hal lain yang mulai saya perhatikan adalah tentang ramalan hari akhir. Hanya Saksi Yehova yang akan diselamatkan menurut aturan Tuhan yang baru, orang lain tidak, karena mereka semua mempraktekkan agama yang salah. Nah, saya pikir, Ibu Theresa adalah seorang Katolik. Katolik adalah musuh kami yang mengerikan. Lalu saya berkata, Tunggu dulu, Ibu Theresa telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan Jesus: rawatlah orang miskin, orang yang sakit, anak yatim. Apakah dia tidak akan mendapat pertolongan Tuhan karena dia seorang Katolik?

Kami mengkritik Gereja Katolik karena mereka harus membuat pengakuan dosa kepada seorang manusia, seorang pendeta. Kami katakan, "Anda tidak perlu mendatangi seorang manusia untuk mengakui dosa-dosa Anda! Anda berdoa kepada Tuhan!" Tetapi kami sendiri mendatangi Jasad Para Pendahulu. Jadi di Saksi Yehova Anda mengakui dosa kepada mereka, lalu mereka menghubungi Anda dan berkata [Para Pendahulu itu berlaku seperti operator telepon:] "Tunggu sebentar... Bagaimana menurutmu, Tuhan? Tidak?... baiklah, maaf, kami telah berusaha sebaik mungkin tetapi tampaknya Anda belum betul-betul bertobat. Dosa Anda terlalu besar, maka Anda akan dikeluarkan dari keanggotaan gereja atau Anda harus mengikuti masa percobaan."

Jika dosa itu terhadap Tuhan, tidakkah seharusnya saya langsung menghadap Tuhan untuk memohon ampunan?

Mungkin yang mempercepat kelunturan kepercayaan saya adalah setelah saya memperhatikan bahwa mereka kurang membaca Injilnya. Saksi Yehova mempunyai buku-buku tentang segala sesuatu yang diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society.5 Satu-satunya orang di seluruh dunia yang mengetahui bagaimana terjemahan Kitab Injil yang benar adalah sekelompok orang dalam sebuah komite yang berkedudukan di Brooklyn. Merekalah yang memberitahu Saksi Yehova di seluruh dunia cara berpakaian, cara berjalan, apa yang harus dikatakan, apa yang tidak boleh dikatakan, bagaimana mengaplikasikan Kitab Suci, dan akan menjadi seperti apa dunia ini nantinya. Tuhan mengajarkan pada mereka, dan mereka mengajarkannya pada kami. Saya menghormati buku-buku itu. Tetapi jika Injil adalah sebuah buku petunjuk dari Tuhan, bukankah kami seharusnya mencari jawaban dari Injil tersebut? Paul sendiri berkata carilah bagi dirimu sendiri mana kata-kata Tuhan yang benar dan dapat diterima. Jangan biarkan orang menggelitik telingamu.

Saya mulai berkata, "Jangan terlalu khawatir pada apa yang dikatakan oleh Watchtower --bacalah sendiri Injil." Telinga-telinga mulai terpasang.

Bahkan ayah saya berkata, "Sebaiknya engkau berhati-hati, anak muda. Yang bicara itu iblis. Dia berusaha untuk masuk dan memecah belah."

Saya bilang, "Ayah, itu bukan iblis. Orang-orang tidak perlu membaca buku-buku lain sebanyak ini. Mereka dapat menemukan jawabannya dengan berdoa dan membaca Injil."

Secara spiritual saya tidak lagi merasa nyaman. Maka pada 1979, setelah cukup yakin, saya pergi, dengan rasa tidak puas dan dengan rasa yang tidak enak di mulut, sebab selama hidup saya telah mencurahkan jiwa saya, hati saya, pikiran saya untuk gereja. Itulah masalahnya. Saya tidak menyalahkan Tuhan. Saya menimpakan kesalahan itu pada organisasi buatan manusia.

Saya tidak dapat berpindah ke agama lain. Sebagai seorang Saksi Yehova, saya telah dilatih, melalui Kitab Suci, untuk melihat bahwa mereka semua salah. Pemujaan terhadap berhala itu buruk. Trinitas itu tidak ada.

Saya seperti orang tanpa agama. Saya bukan orang tanpa Tuhan. Tetapi kemana saya bisa pergi?

Pada 1985, saya memutuskan untuk datang ke Los Angeles dan mengikuti pertunjukan Johnny Carson dan memulai debut saya sebagai seorang pelawak dan aktor besar. Saya selalu merasa bahwa saya dilahirkan untuk menjadi sesuatu. Saya tidak tahu apakah saya akan menjadi penemu obat untuk kanker atau menjadi aktor. Saya selalu berdoa dan menjadi putus asa untuk sementara waktu.

Lalu saya pergi ke Gereja Katolik di dekat rumah saya. Saya mencobanya. Saya ingat pada Rabu Ketujuh (sebelum Paskah), mereka menyilangkan abu di dahi saya. Saya mencoba segala sesuatu yang dapat saya lakukan. Saya mengikutinya selama dua atau tiga bulan, dan saya tidak dapat mengikutinya. Ritualnya hanyalah:

Berdiri.

Duduk.

Berdiri.

Duduk.

Baik, julurkan lidah kalian keluar.

Anda mendapatkan berbagai latihan. Saya kira saya kehilangan berat badan saya lima pon. Tetapi begitulah. Jadi waktu itu saya lebih sesat dari sebelumnya.

Tetapi tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa tidak ada Sang Pencipta. Saya mempunyai nomor telpon-Nya, tetapi salurannya selalu sibuk.

Saya membuat film kecil-kecilan. Sebuah film yang berjudul Deadly Intent. Iklan telepon di Chicago. Iklan Exxon. Beberapa iklan bank. Sementara itu saya melakukan pekerjaan konstruksi sebagai sambilan.

Kami bekerja di komplek pertokoan. Saat itu musim liburan, dan mereka mendirikan stand-stand tambahan di jalan masuk. Setiap stand dijaga oleh seorang wanita. Kami harus lewat di depannya. Saya menyapa salah seorang dari mereka, "Selamat pagi, bagaimana kabar Anda?" Dia diam saja, kalaupun dia mengatakan sesuatu, itu hanyalah "Hai." Hanya itu.

Akhirnya saya berkata, 'Nona, Anda tidak pernah mengatakan sesuatu. Saya minta maaf jika yang saya ucapkan menyinggung perasaan Anda.'

Dia berkata, "Tidak apa-apa, saya seorang Muslim."

"Anda apa?"

"Saya seorang Muslim, dan wanita Muslimah tidak berbicara dengan lelaki kecuali kalau ada hal penting yang harus disampaikan."

"Ohhh. Muslim."

Dia berkata, "Ya, kami menjalankan ajaran agama Islam."

"Islam-bagaimana Anda mengejanya?"

"I-s-l-a-m."

Saat itu, yang saya ketahui hanyalah bahwa semua orang Muslim adalah teroris. Tetapi dia tidak berjenggot. Bagaimana mungkin dia seorang Muslim?

"Bagaimana asal agama Ini?"

"Dimulai dengan seorang nabi."

"Seorang nabi?"

"Muhammad."

Saya memulai menyelidiki. Saya belum ada niat untuk menjadi seorang Muslim.

Liburan berlalu. Stand-stand itu dipindahkan. Dia pun pergi.

Saya terus berdoa, dan bertanya mengapa doa-doa saya tidak dikabulkan. Pada November 1991, saya membawa paman saya Rockie pulang dari rumah sakit. Saya mengosongkan lacinya untuk mengepak barang-barangnya. Di sana saya temukan sebuah Injil Gideon. Saya berkata, Tuhan telah menjawab doa saya. Kitab Injil Gideon. (Tentu saja, mereka meletakkannya di setiap ruangan hotel.) Ini adalah pertanda dari Tuhan bahwa Dia siap mengajar saya.

Jadi saya curi Injil itu.

Saya pulang dan berdoa: Oh Tuhan, bimbing saya untuk menjadi seorang Kristen. Jangan ajarkan jalannya Saksi Yehova pada saya. Jangan ajarkan jalannya orang Katolik pada saya. Ajarkan saya jalan-Mu! Engkau tidak menciptakan Injil ini begitu sulit sehingga orang awam yang bersungguh-sungguh dalam doanya tidak dapat memahaminya.

Saya menamatkan Kitab Perjanjian Baru. Saya mulai membaca Perjanjian Lama. Akhirnya ada suatu bagian dalam Injil itu yang membicarakan tentang nabi-nabi.

Saya bilang, Sebentar, wanita Muslimah itu berkata dia mempunyai seorang nabi. Bagaimana mungkin dia tidak disebutkan di sini?

Saya mulai berpikir, kaum Muslimin --jumlahnya satu milyar di dunia. Bung, secara teori satu dari setiap lima orang di jalanan mungkin seorang Muslim. Dan saya berpikir: Satu milyar orang! Hei, setan memang hebat. Tetapi dia tidak sehebat itu.

Kemudian saya berkata, saya akan membaca kitab mereka, Al-Quran, dan saya akan melihat rangkaian kebohongan macam apakah itu. Mungkin di situ termuat gambaran bagaimana cara membongkar AK-47. Lalu saya pergi ke toko buku bahasa Arab.

Mereka bertanya, "Apa yang dapat saya bantu?"

"Saya mencari sebuah Al-Quran."

"Baik, kami memiliki beberapa jenis."

Mereka mempunyai edisi yang bagus --harganya tiga puluh, empat puluh dolar.

"Saya hanya ingin membacanya, saya tidak ingin menjadi pengikutnya."

"Baik, kami mempunyai edisi bersampul tipis yang kecil, harganya lima dolar."

Saya pulang ke rumah, dan mulai membaca Al-Quran dari awal, dari surat Al-Fatihah. Dan saya tidak dapat melepaskan mata saya darinya.

Hei, lihat. Kitab ini membicarakan tentang Nuh. Dalam Injil juga ada Nuh. Hei, ini juga membicarakan Luth dan Ibrahim. Saya tidak dapat mempercayainya. Saya tidak pernah mengetahui bahwa nama Setan adalah Iblis.

Ketika Anda mendapat gambar di pesawat televisi dan tampaknya ada sedikit gangguan, lalu Anda memencet tombol [klop] --tersetel bagus. Itulah yang sebenarnya terjadi dengan Al-Quran.

Saya menyelesaikan seluruh isi Al-Quran. Lalu saya berkata, Baik, saya telah melakukan hal ini, sekarang apa yang selanjutnya harus saya lakukan? Nah, saya harus pergi ke tempat pertemuan mereka. Saya melihat halaman kuning, dan akhirnya saya menemukan berita ini: Pusat Islam California Selatan, di Vermont. Saya menelpon dan mereka berkata, "Datanglah pada hari Jumat."

Sekarang saya benar-benar gelisah, sebab sekarang saya tahu bahwa saya akan berhadapan dengan Habib dan AK-47nya.

Saya ingin orang-orang mengetahui bagaimana rasanya bagi seorang Kristen Amerika memeluk agama Islam. Saya bergurau masalah AK-47, tetapi saya tidak tahu apakah mereka menyimpan pisau belati di balik jubah mereka. Jadi saya masuk, dan benar sekali, di sana ada seorang rekan yang tingginya enam koma tiga kaki, beratnya 240 pound, berjenggot dan lain-lain, dan saya hanya terpesona.

Saya berjalan dan berkata, "Permisi, tuan."

[Dengan aksen bahasa Arab:] "Balik ke belakang!"

Dia mengira saya telah menjadi anggota.

Saya berkata, "Ya tuan, ya tuan" [tanpa perlawanan].

Saya tidak tahu untuk apa saya kembali ke belakang, tetapi saya kembali ke belakang. Mereka telah mendirikan tenda dan menggelar permadani. Saya menunggu di sana, dengan malu-malu, dan orang-orang duduk mendengarkan ceramah. Dan orang-orang berkata, "Silakan saudara, duduklah." Saya menjawab, "Tidak, terimakasih, tidak, terimakasih, saya hanya berkunjung."

Akhirnya ceramah itu selesai. Mereka semua berbaris untuk melakukan shalat. Saya sungguh terperanjat.

Peristiwa itu mempengaruhi saya secara intelektual, dalam otot saya, dalam tulang saya, dalam hati saya dan dalam jiwa saya.

Kemudian shalat telah usai. Saya berkata, "hei, siapa yang akan memperkenalkan saya?" Lalu saya mulai bercampur dengan mereka seolah-olah saya salah satu dari mereka, dan saya berjalan kedalam masjid dan seorang rekan menyapa, "Assalaamu alaikum ". Saya berpikir, "Apakah dia mengatakan "salt and bacon"?"

"Assalaamu alaikum."

Ada orang lain yang mengatakan "salt and bacon" lagi kepada saya.

Saya tidak tahu apa yang mereka katakan, tetapi mereka semua tersenyum.

Sebelum salah satu orang-orang itu mengetahui bahwa saya tidak semestinya ada di sana dan membawa saya ke kamar penyiksaan, atau memenggal kepala saya, saya ingin melihat sebanyak mungkin. Akhirnya saya masuk ke perpustakaan, dan di sana ada seorang rekan dari Mesir yang masih muda; namanya Omar. Tuhan mengutusnya kepada saya.

Omar menghampiri saya, dan dia berkata, "Maaf. Apa ini kunjungan Anda yang pertama ke sini?" Aksennya kental sekali.

Saya menjawab, Ya.

"Ohh, bagus sekali. Anda seorang Muslim?"

"Bukan, saya baru membaca sedikit."

"Oh, Anda sedang belajar? Ini kunjungan pertama Anda ke masjid?"

"Ya."

"Mari, saya bawa Anda berkeliling." Lalu dia menggandeng tangan saya, dan saya berjalan dengan orang asing-bergandengan tangan. Saya berkata, orang-orang Muslim ini begitu ramah.

Lalu dia mengajak saya berkeliling. "Pertama-tama, itu ruangan shalat kami, dan Anda harus membuka sepatu Anda di sini."

"Apa ini?"

"Ini kotak-kotak kecil. Di situlah Anda menyimpan sepatu Anda."

"Mengapa?"

"Karena Anda mendekati daerah shalat, dan tempat ini sangat suci. Anda tidak boleh masuk ke sana dengan memakai sepatu; ruangan ini dijaga agar benar-benar bersih."

Kemudian dia membawa saya ke toilet untuk lelaki.

"Di situ kami mengambil wudhu."

"Voodoo! Saya tidak membaca apa pun tentang voodoo!"

"Bukan, bukan voodoo. Wudhu!"

"Baiklah, karena saya pernah melihat voodoo itu dengan boneka dan jarum, saya belum siap dengan komitmen semacam itu."

Dia berkata, "Bukan itu, wudhu untuk mensucikan diri kami."

"Mengapa Anda melakukan itu?"

"Ketika Anda berdoa kepada Tuhan, Anda harus suci, maka kami membasuh tangan dan kaki kami."

Jadi saya mempelajari semua hal itu. Dia membiarkan saya pergi, dan berkata, "Silakan datang lagi nanti."

Saya kembali dan meminta kepada penjaga perpustakaan sebuah pedoman shalat, lalu saya pulang dan mempraktekkannya. Saya merasa kalau saya berusaha untuk melakukannya dengan benar, Tuhan pasti akan menerimanya. Saya melanjutkan membaca dan mengunjungi masjid.

Saya ada janji pergi berkunjung ke Midwest untuk pentas komedi. Saya membawa sajadah saya. Saya tahu bahwa saya diperintahkan untuk melakukan shalat pada waktu-waktu tertentu, tetapi ada tempat-tempat tertentu di mana Anda tidak diperbolehkan melakukan shalat, salah satunya di kamar mandi. Saya pergi ke ruang pria di terminal, menggelar sajadah, lalu melakukan shalat.

Saya kembali, dan ketika bulan Ramadhan telah usai, saya mulai mendapat panggilan dari beberapa daerah negara ini untuk datang dan memberikan ceramah sebagai mantan pendeta Saksi Yehova yang memeluk agama Islam. Orang mendapati saya sebagai sosok yang baru.

[Dua orang pendatang bercakap-cakap:]

"Orang ini lelaki Amerika yang jantan. Dia dahulu seorang Saksi Yehova."

"Orang-orang yang datang pagi hari?"

"Ya, mereka."

"Yang tidak pernah membiarkan kita tidur di hari Minggu?"

"Ya, dia salah satu dari mereka. Sekarang dia salah satu dari kita."

Akhirnya seseorang mendatangi saya dan berkata [Dengan aksen Pakistan], "Oh, saudaraku, bicaramu sungguh bagus. Tetapi Anda tahu, dalam aliran Syafi'i--"

Saya hanya menoleh kepadanya dan berkata, "Wah, saudaraku, maaf, saya sebenarnya ingin memahami hal itu, tetapi saya tidak tahu apa-apa tentang Islam kecuali yang terdapat dalam Al-Quran dan sunnah."

Beberapa di antara mereka terperanjat dan berkata, "Ha-ha! Kasihan sekali. Dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya mengetahui Al-Quran."

Hanya itu yang semestinya saya ketahui. Dan itu merupakan perlindungan yang menyenangkan. Saya pikir segala sesuatu ada di tangan Tuhan.

Raphael menunaikan ibadah haji pada 1993.

Catatan kaki:

2 Dilaporkan terdapat 4,5 milyar pengikut Saksi Yehova di seluruh dunia.

*) Kisah dalam injil tentang pertempuran terakhir yang terjadi antara pihak yang baik dan yang jahat, yang diramalkan akan terjadi pada akhir kehidupan--penerj.

3 118.447 orang menghadiri diskusi umum; 2.496 orang dibaptis.

4 Semacam pendeta yang bertugas keliling.

5 Bagian penerbitan organisasi tersebut. The Watchtower, majalah dua bulanan, mungkin merupakan majalah agama yang mempunyai oplah tertinggi yaitu 16.400.100, dan dicetak dalam 112 bahasa.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...